Islam tidak mengajarkan orang miskin untuk menyerah pada keadaan. Sebaliknya, Islam membimbing mereka agar bersabar, menjaga kehormatan diri, dan terus berusaha mencari rezeki halal. Foto ilustrasi/ist
Islam tidak mengajarkan
orang miskin (fakir)untuk menyerah pada keadaan. Sebaliknya, Islam membimbing mereka agar bersabar, menjaga kehormatan diri, dan terus berusaha mencari rezeki halal.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan sejumlah tuntunan bagi orang yang menghadapi
keterbatasan ekonomi. Berikut 10 tuntunan Islam bagi orang yang serba kekurangan:
1. Bersabar dan Ridha terhadap Ketetapan Allah
Kemiskinan merupakan ujian yang harus dihadapi dengan sabar, bukan dengan keputusasaan. Orang miskin hendaknya menahan diri dari keluhan berlebihan dan tetap bertawakal kepada Allah SWT.
Dalam penjelasannya atas risalah As-Sa'di, Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr menyebutkan bahwa orang miskin yang bersabar memiliki peluang meraih keutamaan sebagaimana orang kaya yang bersyukur. Ukuran kemuliaan bukan banyaknya harta, melainkan iman dan ketakwaan.
2. Meyakini Ada Hikmah di Balik Kemiskinan
Tidak semua yang diinginkan manusia pasti membawa kebaikan. Bisa jadi, kekayaan justru menjadi ujian yang berat bagi seseorang, sedangkan keterbatasan harta membuatnya lebih dekat kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al-Baqarah: 216).
Keyakinan ini bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan bekal agar tetap tegar sembari memperbaiki keadaan.
3. Tidak Membiasakan Diri Meminta-minta
Islam mengajarkan umatnya menjaga kehormatan diri dan tidak menjadikan meminta-minta sebagai jalan utama mencari nafkah. Selama masih mampu, seseorang hendaknya berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri.
Namun, bantuan boleh diminta ketika seseorang menghadapi keadaan berat yang memenuhi ketentuan syariat. Rasulullah SAW menjelaskan pengecualian tersebut dalam hadis riwayat Muslim, antara lain bagi orang yang menanggung beban utang tertentu, tertimpa musibah yang menghabiskan harta, atau benar-benar mengalami kefakiran.
4. Berdoa dan Memohon Rezeki kepada Allah
Orang yang mengalami kesulitan ekonomi hendaknya memperbanyak doa, memohon rezeki halal, serta perlindungan dari keburukan dan fitnah kemiskinan.
Seorang Muslim dapat berdoa dengan menyebut nama Allah, seperti Ar-Razzaq, Yang Maha Pemberi Rezeki, dan Al-Wahhab, Yang Maha Pemberi Karunia. Doa perlu disertai ikhtiar nyata, sebab tawakal bukan berarti meninggalkan usaha.
5. Bersungguh-sungguh Mencari Rezeki Halal
Kemiskinan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Islam mendorong umatnya bekerja sesuai kemampuan, menekuni usaha yang halal, dan tidak mudah menyerah ketika hasil belum terlihat.
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di menekankan pentingnya menempuh sebab-sebab yang dapat membantu seseorang keluar dari kesulitan ekonomi. Usaha dilakukan secara bertahap, dengan kesabaran dan tanpa mengorbankan prinsip agama.
6. Tidak Iri terhadap Orang Kaya
Rasa iri dan dengki hanya akan membebani hati. Orang miskin hendaknya tidak membenci mereka yang memperoleh rezeki lebih banyak, tetapi memohon karunia Allah dan berusaha sesuai kemampuannya.
Allah SWT berfirman:
وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ
Artinya: "Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya." (QS An-Nisa: 32).
Daripada sibuk membandingkan kehidupan, lebih baik menjadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk memperbaiki diri.
7. Menjauhi Penghasilan Haram
Kesulitan ekonomi tidak membenarkan seseorang menipu, mencuri, atau mengambil hak orang lain. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di mengingatkan agar orang yang mencari nafkah tidak tergesa-gesa menempuh cara tercela yang merusak agama dan kehidupannya.
Rezeki hendaknya dicari melalui pekerjaan dan transaksi yang halal serta jujur, meskipun hasilnya belum besar.
8. Hidup Hemat dan Qana'ah
Mengatur pengeluaran dan merasa cukup atas rezeki yang ada dapat membantu seseorang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Menurut Syaikh Abdurrahman As-Sa'di, sikap hemat dan qana'ah merupakan dua hal yang meringankan beratnya kemiskinan. Qana'ah bukan berarti berhenti berusaha menjadi lebih baik, melainkan menerima rezeki dengan lapang dada tanpa kehilangan semangat untuk maju.
9. Melihat Orang yang Kondisinya Lebih Sulit
Agar tidak meremehkan nikmat Allah, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya melihat orang yang berada di bawah dalam urusan dunia.
Beliau bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ
Artinya: "Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat orang yang berada di atasmu." (HR Muslim).
Kesehatan, tempat tinggal, keamanan, keluarga, dan kesempatan beribadah juga merupakan nikmat yang patut disyukuri. Rasa syukur semestinya mendorong kepedulian kepada sesama, bukan membuat seseorang merasa cukup tanpa mau membantu orang lain.
10. Memperbanyak Istighfar
Memohon ampun kepada Allah SWT merupakan tuntunan penting bagi setiap Muslim. Dalam Surah Nuh ayat 10–12, Allah menjelaskan seruan Nabi Nuh AS kepada kaumnya agar beristighfar, disertai janji berbagai karunia, termasuk hujan, harta, dan keturunan.
Allah SWT berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
Artinya: "Maka aku berkata, 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun.'" (QS Nuh: 10).
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pertobatan, istighfar, dan ketaatan menjadi sebab datangnya berbagai karunia Allah. Karena itu, istighfar hendaknya dilakukan dengan tulus, disertai perbaikan diri dan usaha mencari rezeki halal.
Pada akhirnya, kemiskinan bukan alasan untuk berputus asa atau meninggalkan agama. Islam mengajarkan kesabaran sekaligus ikhtiar, qana'ah sekaligus semangat bekerja, serta tawakal tanpa mengabaikan usaha.
Yang terpenting bukan sekadar seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan bagaimana seorang Muslim menjaga iman, mencari rezeki halal, dan menjalani ujian kehidupan dengan ketakwaan. Wallahu a'lam.
(wid)