Politisi Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, lempar wacana potong kabel internet bawah laut Indonesia di tengah ketegangan kedua negara. Foto/@calvinelcheng
JAKARTA - Politisi
Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, telah menambah gaduh di tengah ketegangan negaranya dengan Indonesia. Dia melontarkan wacana ancaman memotong kabel internet bawah laut Indonesia dalam unggahan di media sosial.
Cheng mengunggah infografis pada 25 Oktober yang menyinggung kemungkinan pemutusan koneksi internet Indonesia melalui Singapura. Unggahan bertuliskan singkat; "Cut?" atau "Potong?" itu muncul setelah Indonesia memangkas pasokan gas alam ke Singapura.
Namun, dia melanjutkan unggahannya yang menjamin negaranya tidak akan melakukan tindakan tersebut. "Kami adalah orang-orang beradab yang taat hukum. Tentu saja kami tidak akan melakukan hal ini," tulis Cheng di akun X-nya,
@calvinelcheng.
Cheng hanyalah mantan anggota Parlemen Singapura. Namun, wacananya yang berbahaya itu mendapat respons Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia Meutya Hafid.
Meutya memperingatkan bahwa Singapura sangat bergantung pada koneksi tersebut, dan jika kabel-kabel itu diputus, Singapura dapat menghadapi pemadaman internet dan kehilangan investasi.
Meutya mengimbau masyarakat Indonesia untuk tidak panik dengan wacana Cheng. Dia mencatat bahwa sebagian besar rute kabel bawah laut yang menghubungkan Singapura justru melintasi perairan Indonesia. Singapura pun akan sangat terdampak jika koneksi tersebut diputus.
Dia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 267 juta pengguna internet, yang menjadikannya pasar digital yang menarik. "Tanpa basis pengguna sebesar itu, investor teknologi global bisa saja menarik diri dari Singapura," katanya.
Sosok Calvin Cheng dan Rekam Jejak Kontroversinya
Calvin Cheng Ern Lee tercatat sebagai pengusaha, mantan anggota Parlemen, dan komentator sosial-politik Singapura. Dia pernah studi Filsafat, Politik, dan Ekonomi (PPE) di Hertford College, Universitas Oxford.
Menurut catatan karier politiknya, Cheng pernah menjadi Nominated Member of Parliament (NMP), anggota parlemen yang ditunjuk—bukan dipilih melalui pemilu—pada 2009-2011. Pada November 2022, dia juga pernah menjadi Konsul Kehormatan pertama Serbia untuk Singapura.
Wacana potong kabel internet Indonesia bukanlah kontroversi pertama yang dibuat Cheng. Menurut laporan
Channel NewsAsia, pada November 2015, Cheng yang menjadi anggota Media Literacy Council menulis komentar di Facebook yang terkesan menganjurkan pembunuhan anak-anak "teroris" untuk mencegah mereka tumbuh dewasa dan membalas dendam.
Cheng kemudian menjelaskan bahwa komentarnya dimaksudkan untuk memancing diskusi filosofis mengenai persoalan moral yang kompleks. Dia kemudian meminta maaf kepada rekan-rekannya di Media Literacy Council, Media Development Authority, dan para pendukungnya. Polisi tak mengambil tindakan dan kasus ini ditutup.
Pada Mei 2021, Cheng kembali terlibat perdebatan publik ketika menanggapi tulisan opini mantan editor
The Straits Times, Leslie Fong, mengenai keresahan masyarakat terhadap lonjakan kasus Covid-19 di Singapura.
Fong membahas kekecewaan sebagian masyarakat terhadap penanganan masuknya varian baru virus corona dan kebijakan perjalanan. Cheng menanggapi tulisan tersebut dengan mengkritik argumennya dan menyebut bahwa pembatasan perjalanan, jika diperlukan, tidak bisa hanya diterapkan terhadap satu negara.
Dalam tanggapannya, Cheng juga menulis bahwa orang yang masih mempertanyakan mengapa Singapura tidak mengikuti pendekatan pembatasan seperti China daratan, Australia, atau Selandia Baru telah gagal dalam "tes IQ dasar"
Selanjut, pada Maret 2025, Cheng kembali menuai kecaman setelah mengomentari kelompok aktivis pro-Palestina bernama Monday of Palestine Solidarity.
Dalam unggahan Facebook pada 13 Maret, dia menawarkan untuk membiayai perpindahan para aktivis tersebut ke Gaza, dengan syarat mereka tidak kembali ke Singapura. Dia bahkan menyebut akan menyediakan tiket kelas bisnis bagi para pemimpin kelompok itu dan sepatu berjalan bagi para pengikutnya.
Komentar tersebut memicu reaksi keras dari sejumlah tokoh dan organisasi di Singapura.
Perdana Menteri Lawrence Wong saat itu menyebut pernyataan Cheng "sangat tidak sensitif dan tidak dapat diterima". Menteri yang membidangi urusan Muslim, Masagos Zulkifli, juga menyebut komentar tersebut menyakitkan dan berpotensi mengganggu keharmonisan sosial.
Asosiasi Cendekiawan dan Guru Agama Islam Singapura (Pergas) turut menyampaikan keprihatinan karena komentar itu dinilai dapat mengasingkan sesama warga negara yang menyampaikan solidaritas terhadap penderitaan kemanusiaan.
Pada akhirnya, Cheng menyatakan sangat menyesali ucapannya. Dia lantas bertemu dengan dua tokoh komunitas Muslim di Masjid Yusof Ishak dan mengakui bahwa dirinya seharusnya lebih sensitif.
"Saya seharusnya tidak mengatakan, bahkan sebagai lelucon, bahwa orang-orang harus pergi ke zona konflik," tulisnya dalam penjelasan yang dikutip
Channel NewsAsia.
(mas)