Menjadi kaya atau miskin bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT, yang lebih utama adalah bagaimana seorang Muslim menyikapi harta dan keadaan hidup yang telah ditetapkan Allah SWT. Foto ilustrasi/ist
Menjadi kaya atau miskin bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT. Kekayaan tidak otomatis menjadi jalan menuju neraka, sebagaimana kemiskinan juga tidak serta-merta menjamin seseorang masuk surga. Dalam Islam, yang lebih utama adalah bagaimana seorang Muslim menyikapi harta dan keadaan hidup yang telah ditetapkan Allah SWT.
Ketika Allah melapangkan rezeki seseorang, hal itu bukan berarti sebuah jebakan yang pasti menyeretnya ke dalam kebinasaan. Sebaliknya, ketika rezeki seseorang disempitkan, kondisi tersebut juga bukan jaminan bahwa dirinya akan mendapatkan surga.
Menurut KH Dr Ahmad Sarwat, Lc, MA, dari Rumah Fiqih Indonesia, semuanya kembali kepada keimanan, ketakwaan, serta cara seseorang menjalani kehidupannya. Karena itu, kurang tepat jika Muslim ideal hanya digambarkan sebagai orang miskin atau sebaliknya, orang kaya.
Muslim ideal adalah mereka yang mampu bersabar ketika berada dalam keterbatasan dan bersyukur serta gemar berinfak ketika mendapatkan kelapangan rezeki. Kedua sikap tersebut telah dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Di antara sahabat Nabi yang dikenal memiliki kekayaan melimpah adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Umar bin Khattab juga pernah memperoleh harta dalam jumlah besar. Mereka membuktikan bahwa kekayaan tidak bertentangan dengan kehidupan seorang Muslim yang taat.
Bahkan, Rasulullah SAW sendiri pernah memiliki akses terhadap harta dalam jumlah besar. Sebelum diangkat menjadi nabi, beliau memang pernah berdagang. Namun, setelah menerima risalah kenabian, sumber harta dan penghidupan beliau tidak lagi semata-mata berasal dari aktivitas perdagangan.
Salah satu sumber harta pada masa Rasulullah SAW adalah ghanimah, yakni harta rampasan perang. Dalam ketentuan syariat, seperlima dari harta rampasan perang dialokasikan untuk pihak-pihak yang disebutkan dalam Al-Qur'an, sedangkan sisanya didistribusikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللَّهِ وَمَا أَنزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Anfal: 41)
Namun, keberadaan harta dan kedudukan tersebut tidak membuat Rasulullah SAW menjalani kehidupan yang bermewah-mewahan. Beliau tidak menjadikan kekayaan sebagai sarana untuk membangun kemegahan pribadi atau memamerkan status sosial.
Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah SAW digambarkan menjalani kehidupan yang sangat bersahaja. Beliau pernah tidur di atas tikar kasar hingga meninggalkan bekas pada tubuhnya. Kehidupan rumah tangga beliau pun jauh dari gambaran kemewahan, bahkan terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa selama berbulan-bulan tidak ada api yang dinyalakan untuk memasak di rumah beliau.
Kesederhanaan Rasulullah SAW bukan berarti beliau mengajarkan umatnya untuk menjauhi kekayaan. Sebaliknya, keteladanan beliau menunjukkan bahwa harta tidak semestinya menguasai hati dan menjauhkan seseorang dari kepedulian terhadap sesama.
Keteladanan Abu Bakar dan Umar bin Khattab
Prinsip serupa juga terlihat pada diri Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sebelum dan sesudah memeluk Islam, Abu Bakar dikenal sebagai seorang saudagar. Harta yang dimilikinya tidak membuatnya enggan berkorban untuk kepentingan agama dan membantu mereka yang membutuhkan.
Dalam sebuah riwayat tentang persiapan Perang Tabuk, Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya untuk disedekahkan. Ketika ditanya Rasulullah SAW mengenai apa yang ia tinggalkan bagi keluarganya, Abu Bakar menjawab bahwa ia meninggalkan Allah dan Rasul-Nya bagi mereka.
Kisah tersebut menggambarkan besarnya keyakinan Abu Bakar kepada Allah SWT. Ia tidak menempatkan harta sebagai tujuan akhir kehidupan, melainkan sebagai sarana untuk meraih keridaan-Nya.
Sikap Abu Bakar juga menjadi pelajaran bagi Umar bin Khattab. Dalam kisah persaingan mereka untuk berbuat kebaikan, Umar pernah berusaha mengungguli Abu Bakar dengan menyumbangkan sebagian hartanya. Namun, Abu Bakar kembali menunjukkan pengorbanan yang lebih besar. Keduanya tidak menjadikan kekayaan sebagai alasan untuk berbangga diri. Sebaliknya, harta menjadi sarana untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
Umar bin Khattab juga dikenal mewakafkan tanah yang diperolehnya di Khaibar. Hasil pengelolaan tanah tersebut diperuntukkan bagi kepentingan yang telah ditentukan dalam wakaf, sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan orang lain.
Demikian pula Utsman bin Affan. Sahabat Nabi yang dikenal sebagai saudagar kaya ini banyak menginfakkan hartanya untuk kepentingan umat Islam. Salah satu kontribusinya yang masyhur adalah pembelian sumur Raumah untuk dimanfaatkan kaum Muslimin.
Islam Tidak Melarang Umatnya Menjadi Kaya
Kisah Rasulullah SAW dan para sahabat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menjadikan kemiskinan sebagai syarat kesalehan. Kekayaan pun bukan sesuatu yang tercela selama diperoleh dengan cara yang halal, ditunaikan hak-haknya, dan digunakan untuk kebaikan.
Persoalan utamanya bukan semata-mata berapa banyak harta yang dimiliki seseorang, melainkan bagaimana harta itu diperoleh, dibelanjakan, dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Orang kaya memiliki kesempatan untuk memperluas manfaat melalui zakat, infak, sedekah, wakaf, serta berbagai kegiatan sosial. Sementara itu, orang yang hidup dalam keterbatasan tetap memiliki kesempatan meraih kemuliaan melalui kesabaran, ikhtiar, rasa syukur, dan amal saleh sesuai kemampuannya.
Tantangan sesungguhnya muncul ketika seseorang telah memiliki kekayaan. Mampukah ia tetap rendah hati, tidak terlena oleh kemewahan, dan terus membantu orang lain? Ataukah harta justru membuatnya sombong, kikir, dan melupakan kewajibannya kepada Allah SWT?
Di sisi lain, kemiskinan juga bukan alasan untuk berhenti berusaha atau menganggap bahwa ujian kehidupan telah selesai. Setiap manusia menghadapi ujian yang berbeda. Ada yang diuji melalui kelimpahan harta, ada pula yang diuji melalui keterbatasan.
Karena itu, menjadi kaya ataupun miskin bukanlah tujuan akhir seorang Muslim. Yang lebih penting adalah menjaga keimanan dan menjalani setiap keadaan dengan sikap yang diridai Allah SWT.
Jika Allah memberikan kelapangan rezeki, manfaatkanlah untuk bersyukur dan menolong sesama. Jika hidup sedang berada dalam kesempitan, tetaplah bersabar, berikhtiar, dan tidak kehilangan harapan kepada rahmat-Nya.
Dengan demikian, Muslim ideal bukanlah semata-mata orang kaya atau orang miskin. Muslim ideal adalah mereka yang mampu menjaga ketakwaan dalam keadaan apa pun, tidak diperbudak oleh harta, serta menjadikan setiap nikmat dan ujian sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wallahu a'lam
(wid)