Komandan KSK: Kita Siap Bertahan di Medan Tempur Jauh Lebih Lama dan Tak Ada Kepastian Kapan Berakhir

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Rabu, 28 Oktober 2026 - 15:10 WIB
Komandan KSK: Kita Siap Bertahan di Medan Tempur Jauh Lebih Lama dan Tak Ada Kepastian Kapan Berakhir
Pasukan khusus Jerman siap bertahan di medan tempur jauh lebih lama dan tak ada kepastian kapan berakhir. Foto/X/ @Remnantize
A
A
A
BERLIN - Kommando Spezialkräfte (KSK), pasukan khusus elite Jerman tengah bersiap menghadapi kemungkinan perang skala besar dengan Rusia. Itu diungkapkan komandan unit tersebut kepada surat kabar Bild.

Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan antara Moskow dan NATO terkait konflik di Ukraina, dengan para pejabat Jerman memperingatkan bahwa angkatan bersenjata harus siap menghadapi konfrontasi menjelang akhir dekade ini.

Unit yang sangat rahasia ini, yang dikenal sebagai Kommando Spezialkräfte (KSK), setara dengan SAS Inggris atau Green Berets Amerika Serikat. Menurut laporan dari pangkalan mereka di Jerman barat daya yang diterbitkan pada hari Senin, para komando tersebut sedang menyesuaikan pelatihan mereka untuk melawan pasukan Rusia yang dilengkapi dengan tank, artileri, pesawat nirawak dan kemampuan perang elektronik, termasuk dalam kondisi cuaca yang sangat dingin.

"Kami mengarahkan fokus secara khusus pada lawan kami, Rusia," ujar Komandan KSK, Brigadir Jenderal Andreas Kuhnem dilansir Bild. Ia menambahkan bahwa para prajuritnya harus siap untuk "bertahan di medan tempur jauh lebih lama"—bahkan mungkin "tanpa ada kepastian kapan akan berakhir"—jika perang benar-benar pecah.

Kuhne juga menyatakan bahwa unit tersebut bersiap untuk melaksanakan misi sebelum pasukan konvensional Jerman terjun ke medan tempur. "Saat Brigade Lapis Baja ke-45 di Lithuania mulai bergerak dalam situasi darurat nyata, kami ingin tugas kami sudah selesai," ungkapnya kepada Bild.

Menurut surat kabar tersebut, hanya sekitar sepertiga dari 1.500 personel KSK yang merupakan pasukan komando, sementara sisanya bertugas dalam peran administratif dan pendukung. Dalam beberapa tahun terakhir, unit tersebut diguncang oleh serangkaian skandal ekstremisme sayap kanan. Pada tahun 2017, sebuah penyelidikan dimulai menyusul laporan bahwa sejumlah tentara melakukan penghormatan ala Nazi dan mendengarkan musik beraliran sayap kanan, di antara tindakan lainnya.

Pada tahun 2018, penyelidikan mengungkap jaringan bawah tanah sayap kanan yang melibatkan personel militer dan keamanan Jerman. Beberapa anggota jaringan tersebut diduga mendiskusikan rencana untuk membunuh lawan politik seandainya terjadi keruntuhan ketertiban umum.

Pada tahun 2020, polisi menemukan sejumlah besar senjata, amunisi, bahan peledak, dan memorabilia Nazi di properti milik seorang sersan mayor KSK. Sebagian amunisi tersebut diduga dicuri dari persediaan militer Jerman.

Skandal-skandal ini mendorong Menteri Pertahanan saat itu, Annegret Kramp-Karrenbauer, untuk membubarkan salah satu dari empat kompi komando KSK—yaitu Kompi ke-2—serta menerapkan reformasi menyeluruh. Komando pasukan khusus itu sendiri tetap beroperasi.

Dalam wawancara dengan Bild, Kuhne menyatakan bahwa insiden yang berkaitan dengan disiplin dan perilaku di dalam unit tersebut kini menjadi "sangat jarang" terjadi, meski belum sepenuhnya hilang. Ia menegaskan bahwa pelanggaran tidak akan lagi ditoleransi ataupun ditutup-tutupi.

Kanselir Friedrich Merz telah berjanji untuk mengubah angkatan bersenjata Jerman menjadi kekuatan militer konvensional terkuat di Eropa sebagai tanggapan atas apa yang ia sebut sebagai ancaman dari Rusia. Pemerintahannya memprioritaskan belanja pertahanan dan bantuan militer untuk Ukraina, meskipun mengakui bahwa ekonomi Jerman sedang berada dalam "krisis struktural."

Pada bulan Juli, The Telegraph dan Die Welt melaporkan bahwa Berlin tengah menyiapkan rencana rahasia untuk mengatasi potensi penolakan dari pemerintah daerah terkait pengerahan pasukan NATO menuju perbatasan Rusia.

Ambisi militer Merz muncul di tengah menurunnya dukungan publik terhadap pemerintahannya. Menurut jajak pendapat INSA yang diterbitkan oleh Bild minggu ini, sang kanselir menempati posisi terakhir di antara 20 politisi terkemuka Jerman. Partai oposisi yang tengah naik daun, Alternative for Germany (AfD), memenangkan pemilihan umum negara bagian di Saxony-Anhalt dan Mecklenburg-Western Pomerania pada bulan September, sementara partai sosialis Left Party (Die Linke) muncul sebagai partai terbesar dalam pemilihan umum di Berlin.

Rusia telah membantah rencana untuk menyerang negara-negara NATO. Pada bulan Agustus, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menepis laporan mengenai niat Moskow untuk menyerang anggota NATO sebagai "cerita yang menakut-nakuti" dan "sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan."
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Pemenang Pemilu Serbia Berencana Gelar Perundingan Gas dengan Rusia
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 22:31 WIB
Militer Rusia Bersihkan Ranjau untuk Misi Bantuan Melania Trump
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 17:28 WIB
Finlandia Murka, Google Babat Hutan untuk Proyek Pusat Data
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 15:24 WIB
Putin Sambut Baik Telepon Langka dari 2 Pemimpin Negara NATO, Ini Alasannya
International
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 09:27 WIB