Partai-partai Arab merayakan keberhasilan besar dalam pemilu Israel. Foto/facebook/aljazeera
TEL AVIV - Dov Waxman, profesor ilmu politik di University of California, Los Angeles, mengatakan perkembangan terbesar dalam pemilihan umum Israel kali ini adalah "keberhasilan partai-partai dengan mayoritas anggota dari kalangan Arab". Pernyataan itu muncul berdasarkan hasil jajak pendapat saat pemilih keluar dari tempat pemungutan suara (exit poll) awal atau hasil hitung cepat.
Partai-partai yang dipimpin oleh kalangan Arab diperkirakan akan memenangkan 17 atau 18 kursi di Knesset.
"Hal itu berarti, cara yang paling mungkin bagi blok oposisi untuk membentuk pemerintahan adalah dengan menjadi pemerintahan minoritas, yang bergantung pada dukungan eksternal dari partai-partai Arab," ujar Waxman.
"Ada preseden untuk hal ini—antara tahun 1993–1995, pemerintahan koalisi Yitzhak Rabin merupakan pemerintahan minoritas yang mendapatkan dukungan eksternal dari partai-partai Arab," tambahnya.
Dov Waxman yang memiliki spesialisasi dalam politik Israel serta konflik Israel-Palestina, menyatakan jika hasil exit poll awal tersebut akurat, maka "hampir mustahil" bagi Netanyahu untuk tetap menjabat sebagai perdana menteri.
"Meskipun partai Likud pimpinan Netanyahu memenangkan kursi terbanyak menurut exit poll, jumlah kursi gabungan dari koalisi sayap kanan dan kelompok religius pendukungnya telah anjlok dari 64 kursi [pada pemilihan umum 2022] menjadi proyeksi 50 kursi dalam pemilihan kali ini," ungkap Waxman kepada Al Jazeera, merujuk pada proyeksi dari Channel 13 Israel.
Dia menegaskan, "Kondisi ini membuat Netanyahu hampir mustahil untuk memimpin pemerintahan berikutnya."
"Seperti yang telah diprediksi banyak pihak, blok anti-Netanyahu memenangkan lebih banyak kursi—yakni 53 kursi menurut exit poll—namun jumlah tersebut masih jauh dari perolehan mayoritas di parlemen," tambahnya.
(sya)