Kisah Da’tsur dan Rasulullah SAW, Dahsyatnya Yakin pada Allah

img-redaksi Widaningsih
Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:12 WIB
Kisah Da’tsur dan Rasulullah SAW, Dahsyatnya Yakin pada Allah
Kisah Rasulullah SAW dan Da’tsur menjadi salah satu gambaran tentang kuatnya keyakinan kepada Allah SWT. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kisah Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam dan Da'tsur menjadi salah satu gambaran tentang kuatnya keyakinan kepada Allah SWT. Ketika berada dalam ancaman pedang seorang jagoan Arab, Rasulullah tidak menunjukkan rasa takut. Beliau justru menjawab dengan mantap bahwa Allah adalah penolongnya.

Dikisahkan, Da'tsur merupakan seorang jagoan Arab yang berniat menghabisi nyawa Rasulullah SAW. Setelah sekian lama mencari kesempatan, tibalah saat yang dinantikannya. Ia mendapati Rasulullah sedang beristirahat sendirian di bawah pohon kurma.

Tanpa membuang waktu, Da'tsur mendekati Rasulullah, menghunus pedangnya, lalu menodongkannya ke leher beliau. "Wahai Muhammad, sekarang engkau sendirian. Siapa yang akan menolongmu?" gertak Da'tsur.

Dengan tenang dan penuh keyakinan, Rasulullah menjawab, "Allah!"

Mendengar jawaban tersebut, Da'tsur konon langsung gemetar dan kehilangan kekuatannya hingga pedang yang dipegangnya terjatuh. Rasulullah kemudian mengambil pedang itu dan berbalik mengarahkannya kepada Da'tsur.

"Sekarang, siapa yang akan menolongmu?" tanya Rasulullah.

Da'tsur menjawab, "Tidak ada, wahai Muhammad, kecuali engkau mau menolongku!"

Kisah ini memberikan pelajaran tentang bagaimana keyakinan yang kuat kepada Allah dapat membentuk keteguhan hati seseorang ketika menghadapi ancaman dan kesulitan.

Tauhid Rasulullah SAW yang Sempurna

Mengutip tasdiqulquran.or.id, dijelaskan bahwa, bagi orang yang mendalami makrifat, kisah di atas dapat dimaknai sebagai gambaran tentang keteguhan Rasulullah SAW dalam bertauhid. Ketika berhadapan dengan Da'tsur, beliau tidak semata-mata melihat ancaman dari seorang manusia, tetapi juga meyakini bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Jawaban "Allah" yang keluar dari lisan Rasulullah bukan sekadar ucapan, melainkan ungkapan keyakinan yang mendalam. Beliau menyadari bahwa manusia, termasuk orang yang mengancam nyawanya, tetap merupakan makhluk yang berada di bawah kekuasaan Sang Pencipta.

Rasulullah SAW merupakan manusia yang paling mengenal Allah dan paling sempurna ketakwaannya. Keyakinan beliau tidak hanya berupa pengetahuan tentang keberadaan Allah, tetapi juga keyakinan yang tercermin dalam seluruh sikap, perkataan, dan perjuangan hidupnya.

Dalam khazanah Islam, dikenal tiga tingkatan keyakinan, yakni ‘ilmul yaqin, ‘ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Ketiganya menggambarkan tingkatan keyakinan yang semakin mendalam. Rasulullah SAW menjadi teladan tertinggi bagi umatnya dalam hal keimanan, ketakwaan, dan keteguhan tauhid.

Beliau senantiasa mengingat Allah dalam berbagai keadaan. Kehidupan dunia beserta segala kemewahannya tidak pernah menggeser kedudukan Allah dalam hati beliau. Harta, kedudukan, dan pujian manusia bukanlah tujuan utama dalam hidupnya.

Kekayaan Tidak Membuat Rasulullah Terlena

Keteguhan tauhid Rasulullah SAW juga tercermin dalam sikap beliau terhadap harta benda. Bagi beliau, kekayaan bukan sesuatu yang harus dikejar demi kebanggaan pribadi. Sebaliknya, harta menjadi sarana untuk menolong sesama dan melunakkan hati manusia.

Salah satu contohnya terlihat setelah Perang Hunain. Rasulullah memberikan banyak harta kepada sejumlah tokoh Quraisy yang baru memeluk Islam atau diharapkan hatinya semakin dekat kepada Islam.

Dalam kitab Asy-Syifa karya Qadhi Iyadh, sebagaimana dikutip Nizar Abazhah dalam buku Pribadi Muhammad SAW, disebutkan bahwa Rasulullah memberikan seratus ekor unta kepada sejumlah orang Quraisy, termasuk Abu Sufyan dan kedua putranya, Yazid dan Mu'awiyah.

Beliau juga memberikan hadiah dalam jumlah besar kepada beberapa tokoh lainnya. Bahkan, Shafwan bin Umayyah yang sebelumnya sangat membenci Rasulullah mengakui besarnya pemberian tersebut hingga rasa bencinya berubah menjadi cinta.

Kedermawanan ini memperlihatkan bahwa harta tidak menguasai hati Rasulullah. Ketika memiliki kekayaan, beliau menggunakannya untuk kebaikan. Beliau tidak menjadikan harta sebagai alasan untuk melupakan Allah ataupun mengabaikan kepentingan orang lain.

Teguh Berdakwah Meski Diancam Harta dan Kedudukan

Keteguhan Rasulullah SAW juga terlihat ketika kaum kafir Quraisy berusaha menghentikan dakwah Islam. Berbagai ancaman dan tawaran duniawi pernah diarahkan kepada beliau, mulai dari kekayaan hingga kedudukan, dengan syarat beliau bersedia menghentikan dakwahnya.

Namun, Rasulullah tidak tergoda. Dalam riwayat yang masyhur tentang keteguhan dakwah beliau, Rasulullah menegaskan bahwa beliau tidak akan meninggalkan perjuangan tersebut meskipun ditawari matahari di tangan kanan dan bulan di tangan kiri.

Beliau tetap melanjutkan dakwah sampai Allah memberikan kemenangan atau beliau wafat dalam perjuangan itu.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama Rasulullah bukanlah memperoleh kekayaan, kekuasaan, atau pengakuan manusia. Beliau berdakwah demi menyampaikan risalah Allah dan menegakkan tauhid.

Selama 13 tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah menghadapi berbagai bentuk penolakan. Beliau dihina, disakiti, diboikot, bahkan mengalami perlakuan kasar dari orang-orang yang menentang ajarannya.

Akan tetapi, berbagai cobaan tersebut tidak membuat beliau meninggalkan dakwah. Keikhlasan dan keyakinan kepada pertolongan Allah menjadi landasan bagi keteguhan beliau.

Rasulullah juga menjadi teladan dalam menjaga kemurnian ibadah. Setiap amal harus dilandasi keikhlasan karena Allah, bukan semata-mata demi pujian, penghargaan, atau keuntungan pribadi.

Keyakinan kepada Allah Membuat Rasulullah Tenang

Salah satu bukti keteguhan Rasulullah SAW terlihat ketika beliau berhijrah dari Makkah menuju Madinah. Kaum Quraisy berusaha mengejar dan menangkap beliau, tetapi Rasulullah tetap menjalankan rencana hijrah dengan penuh keyakinan kepada pertolongan Allah.

Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq bersembunyi di dalam gua. Ketika Abu Bakar merasa khawatir karena para pengejar berada di dekat tempat persembunyian mereka, Rasulullah menenangkannya.

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur'an, tepatnya Surah At-Taubah ayat 40.

Allah SWT berfirman:

فَأَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا


Artinya: "Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak kamu lihat." (QS At-Taubah: 40).

Dalam ayat yang sama, Allah mengabadikan perkataan Rasulullah kepada sahabatnya:

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا


Artinya: "Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS At-Taubah: 40).

Ucapan tersebut memperlihatkan ketenangan Rasulullah dalam menghadapi keadaan yang sangat genting. Beliau tidak mengabaikan ikhtiar, tetapi juga tidak membiarkan rasa takut mengalahkan keyakinannya kepada Allah.

Hikmah Kisah

Kisah Rasulullah SAW tersebut mengajarkan bahwa tauhid bukan hanya perkara mengucapkan kalimat keimanan. Tauhid juga harus tercermin dalam keberanian menghadapi kesulitan, ketulusan dalam beramal, keteguhan mempertahankan kebenaran, serta sikap tidak diperbudak oleh harta dan kedudukan.

Bagi seorang Muslim, meyakini pertolongan Allah bukan berarti hidup tanpa ujian. Sebaliknya, keyakinan itu menjadi kekuatan untuk tetap berusaha, bersabar, dan tidak kehilangan arah ketika menghadapi persoalan hidup.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan bahwa hati yang terpaut kepada Allah akan lebih teguh menghadapi ancaman dan godaan dunia. Karena itu, memperkuat tauhid dan menjaga keikhlasan menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang hamba untuk meraih ridha Allah SWT.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Kisah Da’tsur dan Rasulullah SAW, Dahsyatnya Yakin pada Allah
Kalam
Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:12 WIB
Kisah  Kekeringan yang Melanda Madinah dan Mukjizat Doa Rasulullah
Kalam
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 17:40 WIB
Tak Sekadar Peduli, Menjaga Alam Bernilai Sedekah Lho!
Kalam
Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:51 WIB