Lanskap keamanan Timur Tengah bergeser. Foto/Press TV
TEHERAN - Para pejabat tinggi militer dan keamanan dari Arab Saudi, Pakistan, dan Turki sedang mengadakan pembicaraan dengan pejabat Iran di Teheran, di tengah upaya diplomatik yang terus berlanjut untuk meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Arab Saudi, Pakistan, dan Turki merupakan anggota Aliansi Pertahanan Mekkah, sebuah aliansi keamanan yang dibentuk di tengah ketidakstabilan kawasan serta kekhawatiran akan ancaman yang terkait dengan Iran dan sekutu-sekutunya.
Ketiga negara tersebut kini beralih ke pembicaraan langsung dengan Teheran mengenai keamanan kawasan, bahkan ketika aliansi ini menghadapi tekanan yang meningkat akibat serangan dari kelompok pemberontak Houthi di Yaman—yang berafiliasi dengan Iran—terhadap Arab Saudi.
Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman, Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, dan Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin menghadiri pembicaraan di Teheran pada hari Senin, menurut keterangan pejabat Arab Saudi dan Iran.
Mereka dilaporkan bertemu dengan Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Dari Mekkah ke Teheran, Bagaimana Lanskap Keamanan Timur Tengah Bergeser?
1. Mewujudkan Keamanan Endogen
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut pertemuan tersebut sebagai langkah potensial menuju pembentukan mekanisme keamanan kawasan yang bersifat kooperatif.
Dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Baghaei menegaskan kembali seruan lama Iran mengenai apa yang mereka sebut sebagai "keamanan endogen" (keamanan yang bersumber dari dalam kawasan)—sebuah kerangka kerja yang terutama mengandalkan kemampuan dan kepentingan negara-negara di kawasan tersebut.
2. Aliansi Mekkah Belum Solid
Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah pada Agustus 2026. Berdasarkan pakta tersebut, serangan bersenjata terhadap salah satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap ketiga negara, yang mewajibkan anggota lainnya untuk memberikan bantuan. Perjanjian ini menyatukan sumber daya keuangan serta pengaruh Arab Saudi di pasar energi global, kapabilitas nuklir Pakistan, serta industri pertahanan canggih dan keanggotaan NATO yang dimiliki Turki.
Meskipun perjanjian tersebut ditandatangani di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap Iran dan kelompok-kelompok sekutunya, para pejabat Turki menegaskan bahwa kesepakatan ini tidak ditujukan untuk melawan Teheran ataupun negara spesifik lainnya.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam sebuah wawancara dengan Anadolu pada 8 Agustus, menyatakan bahwa perjanjian tersebut tidak mengidentifikasi negara mana pun sebagai ancaman bersama. Ia menjelaskan bahwa suatu negara tidak akan dianggap sebagai target kecuali jika negara tersebut menyerang salah satu pihak penandatangan.
Perjanjian ini telah mendapatkan persetujuan di Pakistan, sementara Turki telah menyerahkannya kepada parlemen namun belum merampungkan proses ratifikasinya.
3. Houthi Menguji Aliansi Mekkah
Meningkatnya serangan rudal dan pesawat nirawak oleh kelompok Houthi dari Yaman terhadap Arab Saudi telah menjadi ujian besar pertama bagi aliansi yang disebut sebagai "aliansi Mekkah" ini.
Dalam pertemuan darurat di Riyadh pada 5 Oktober, ketiga negara sepakat untuk mulai mengimplementasikan komitmen pertahanan kolektif mereka, termasuk langkah-langkah untuk memastikan pengerahan cepat kekuatan dan kapabilitas militer yang telah disepakati ke Arab Saudi.
Komitmen tersebut dituangkan dalam pernyataan bersama yang diterbitkan oleh Kementerian Luar Negeri Turki.
Namun, Ankara membedakan antara mendukung pertahanan Arab Saudi dengan terlibat dalam operasi militer ofensif terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Dalam konferensi pers di Ankara pada 8 Oktober, Fidan menyatakan bahwa perjanjian tersebut bersifat defensif dan menepis kemungkinan pengiriman pasukan Turki ke negara lain untuk melancarkan serangan.
Sebagai gantinya, Turki tengah mengevaluasi bentuk kontribusi yang mungkin diberikan, seperti di bidang pertahanan udara, peperangan elektronik, dan bantuan teknis.
Oleh karena itu, ketiga negara tersebut berupaya menjalin komunikasi langsung dengan Teheran, sembari memperkuat kesiapan militer mereka berdasarkan ketentuan aliansi yang dirancang untuk mencegah serangan terhadap negara-negara anggotanya.
4. Mendorong Solusi Diplomasi
Dalam beberapa bulan terakhir, Pakistan telah berperan sebagai mediator antara Teheran dan Washington. Arab Saudi berupaya membendung ancaman yang ditimbulkan oleh serangan kelompok Houthi terhadap wilayah dan infrastrukturnya, sementara Turki berupaya mencegah eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut.
Wakil Menteri Diplomasi Publik Arab Saudi, Rayed Krimly, menyatakan dalam sebuah unggahan di platform X pada 26 Oktober bahwa kunjungan ke Teheran merupakan bagian dari upaya berkelanjutan negara-negara dalam pakta tersebut untuk meredakan ketegangan dan mendorong solusi diplomatik.
Ia mengatakan bahwa pembicaraan tersebut juga ditujukan untuk mendukung upaya mediasi yang dilakukan oleh Qatar dan Pakistan.
Pernyataan pihak Arab Saudi mengisyaratkan bahwa pembicaraan dengan Iran dijalankan beriringan dengan komitmen pertahanan aliansi tersebut, dan tidak serta-merta mencerminkan perubahan mendasar dalam tujuan pakta itu sendiri.
5. Memainkan Pendekatan Ganda
Penekanan Teheran pada pengaturan keamanan yang digerakkan secara lokal tampaknya, setidaknya secara prinsip, memiliki kesamaan pandangan dengan tujuan yang dinyatakan dari pakta Mekkah adalah untuk memperkuat kerja sama keamanan di antara negara-negara kawasan.
Namun, perbedaan-perbedaan yang signifikan tetap ada.
Arab Saudi menjalin hubungan keamanan yang luas dengan Amerika Serikat, Turki merupakan anggota NATO, dan Pakistan terus mengupayakan kemitraan pertahanan dengan beberapa negara kekuatan besar.
Sementara itu, belum ada kesepakatan yang diumumkan mengenai mekanisme keamanan regional bersama yang baru.
Meskipun demikian, pertemuan di Teheran menyoroti perkembangan penting: tiga negara yang telah membentuk aliansi pertahanan bersama sebagai tanggapan terhadap meningkatnya ancaman keamanan regional, kini juga menjajaki dialog langsung dengan Iran.
Pertanyaan kuncinya adalah apakah pendekatan ganda ini dapat memberikan dampak yang langgeng terhadap ketegangan di kawasan tersebut.
(ahm)