Papan reklame kampanye bergambar Gadi Eisenkot, Benjamin Netanyahu dan tokoh-tokoh lain yang bersaing dalam pemilu Israel. Foto/Sharon Leibel/Flash90
TEHERAN -
Iran menyinggung pemilu Israel yang digelar Selasa (27/10/2026). Menurut Teheran, hasil pemilu rezim Zionis tak ada bedanya, di mana pemenangnya tetap akan melakukan kekerasan dan pembantaian di Timur Tengah.
Pernyataan Iran itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei dalam konferensi pers hari Senin. Dia mengatakan hasil pemilu dari persaingan ketat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan para rivalnya itu tidak akan membuat perbedaan apa pun bagi Teheran.
"Bagi kami, tidak ada bedanya siapa yang akan memegang kendali dalam pemilu ini atas sebuah rezim yang tidak membawa apa pun selain kekerasan dan pembantaian ke kawasan kami," kata Baghaei.
Pemilu Knesset atau Parlemen Israel digelar di tengah meningkatnya ancaman Israel dan Amerika Serikat untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran, setelah kedua negara tersebut memulai perang gabungan pada akhir Februari.
Dalam beberapa hari terakhir, Netanyahu berulang kali mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghilangkan ancaman yang ditimbulkan Iran adalah dengan menggulingkan pemerintahannya.
Pada hari Minggu, Netanyahu mengatakan kepada stasiun televisi Israel,
Channel 14, bahwa dirinya telah memerintahkan Mossad dan militer Israel untuk menggulingkan rezim Iran.
Media Israel, mengutip pejabat Zionis, melaporkan bahwa Iran mungkin akan melancarkan serangan pendahuluan untuk mengganggu jalannya pemilu. Baghaei pun merespons sinis klaim tersebut: "Israel sangat mahir dalam melakukan operasi bendera palsu (false-flag operations)."
Peserta Pemilu Israel
Pemilu Knesset Israel hari ini diikuti puluhan partai politik yang memperebutkan 120 kursi Knesset. Persaingan utamanya mempertemukan kubu PM Netanyahu dengan sejumlah tokoh oposisi, termasuk mantan kepala militer Gadi Eisenkot dan mantan PM Naftali Bennett. Berikut peserta pemilu Israel:
1. Partai Likud (Benjamin Netanyahu)
Pemimpin partai sayap kanan Likud pimpinan Netanyahu akan berupaya mempertahankan kekuasaan. Partai ini didukung partai-partai sayap kanan dan kubu ultra-Ortodoks: Partai Otzma Yehudit pimpinan Itamar Ben-Gvir, Partai Religious Zionism pimpinan Bezalel Smotrich, Partai Shas pimpinan Aryeh Deri, dan Partai United Torah Judaism pimpinan Yaakov Asher.
2. Partai Yashar (Gadi Eisenkot)
Mantan kepala staf militer Israel yang memimpin Partai Yashar berhaluan tengah. Dia menjadi salah satu penantang utama Netanyahu dalam pemilu ini.
3. Partai B'Yachad atau Together (Naftali Bennett)
Mantan PM Bennett yang memimpin Partai B'Yachad berkoalisi dengan mantan pemimpin oposisi Yair Lapid. Aliansi ini berusaha menyatukan kekuatan politik di luar kubu Netanyahu.
4. Partai Yisrael Beiteinu (Avigdor Lieberman)
Avigdor Lieberman, mantan menteri pertahanan yang memimpin Partai Yisrael Beiteinu. Partai ini dikenal berhaluan kanan dan menjadi salah satu pengkritik Netanyahu.
5. Partai Demokrat (Yair Golan)
Yair Golan, mantan perwira tinggi militer yang memimpin Partai Demokrat berhaluan kiri. Dia juga menjadi bagian dari kelompok politik yang menentang kelanjutan pemerintahan Netanyahu.
6. Partai-partai Arab
Dua kekuatan politik yang juga menjadi perhatian adalah Partai Ra'am (United Arab List) yang dipimpin Mansour Abbas dan Joint List, aliansi politik yang mewakili sejumlah kelompok dan partai yang didukung pemilih Arab Israel.
Kedua kekuatan tersebut berpotensi memengaruhi perhitungan kursi Knesset. Namun, partai-partai oposisi utama yang dipimpin tokoh Yahudi menghadapi hambatan politik untuk membentuk koalisi formal dengan partai-partai Arab.
Menurut laporan
The Times of Israel, sebanyak 38 daftar partai telah didaftarkan untuk mengikuti pemilu. Namun, tidak semua partai diperkirakan memperoleh kursi karena harus melewati ambang batas parlemen sebesar 3,25% suara.
(mas)