F-16 Fighting Falcon, salah satu jet tempur andalan Angkatan Udara Kerajaan Yordania. Foto/US Air Force
DAMASKUS - Jet-jet tempur
Yordania telah membombardir wilayah Suriah pada Senin malam waktu setempat. Serangan udara diklaim sebagai pembalasan atas penembakan massal di sebuah gereja di kerajaan tersebut pada pekan lalu.
Otoritas Suriah menyatakan serangan udara Yordania menewaskan sedikitnya tujuh orang, termasuk tiga anak-anak dan seorang perempuan. Serangan udara ini memaksa Suriah menutup perlintasan perbatasan utamanya dengan Yordania.
Angkatan Bersenjata Yordania dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa pihaknya menargetkan tempat persembunyian kelompok bersenjata di wilayah tenggara Suriah sebagai respons atas penembakan di sebuah gereja di Provinsi Karak, Yordania, pada Jumat pekan lalu. Sedikitnya sembilan orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam penembakan massal tersebut.
Militer Yordania mengatakan serangan ke Suriah dilancarkan melalui koordinasi dengan pemerintah Damaskus.
"Serangan ini mengakibatkan banyak kematian dan luka dari anggota kelompok teroris tersebut serta menghancurkan sejumlah kendaraan mereka," kata militer Yordania dalam sebuah pernyataan, yang dikutip
Al Jazeera, Selasa (27/10/2026).
Namun, pemerintah Suriah membantah adanya koordinasi dengan Yordania.
Dalam sebuah pernyataan, pemerintah Suriah mengatakan, "Operasi militer ini dilakukan tanpa koordinasi atau pemberitahuan sebelumnya."
Layanan Pertahanan Sipil Suriah melaporkan sedikitnya empat lokasi di wilayah pedesaan Provinsi Deraa dan Suwayda menjadi sasaran serangan udara Yordania pada Senin malam. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi jenazah tujuh orang, yakni tiga pria, seorang perempuan, dan tiga anak-anak.
Layanan tersebut mengatakan lima korban tewas—seorang pria, seorang perempuan, dan tiga anak-anak—merupakan anggota satu keluarga yang terbunuh dalam serangan terhadap sebuah tenda di Desa Al-Tai, Provinsi Deraa. Tiga anggota keluarga lainnya, termasuk seorang anak, mengalami luka-luka.
Serangan kedua menghantam wilayah Al-Shayyah, yang juga berada di Provinsi Deraa, dan menewaskan seorang pria berusia 80 tahun.
Serangan ketiga menyasar sebuah bangunan tempat tinggal di Muzayrib, kawasan Ain al-Basal, Provinsi Deraa. Tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.
Serangan keempat menghantam sebuah bangunan tempat tinggal di Kota Shahba, Provinsi Suwayda, dan menewaskan seorang pria berusia 60 tahun.
Suriah Tutup Perbatasan dengan Yordania
Setelah serangan udara tersebut, otoritas perbatasan Suriah menutup perlintasan Nassib sehingga lalu lintas di kedua arah dihentikan.
Nassib merupakan satu-satunya perlintasan bagi penumpang dan barang komersial antara Yordania dan Suriah.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Suriah menyebut serangan udara Yordania sebagai "serangan pengkhianatan". Kepada
Al Jazeera, pejabat itu mengatakan kementeriannya akan berupaya menangani dampak serangan dengan tetap menjaga kedaulatan Suriah.
Sebelumnya, pada Senin, pasukan keamanan Yordania menangkap dua bersaudara dan saudara ipar mereka karena dicurigai terlibat dalam serangan terhadap gereja. Penangkapan berlangsung di Desa Al-Jadeeda setelah terjadi baku tembak dengan aparat keamanan.
Seorang sumber pemerintah Yordania mengatakan kepada
Al Jazeera bahwa para tersangka mengalami luka serius dalam konfrontasi yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut.
Penangkapan dan serangan udara di Suriah itu terjadi setelah Raja Yordania Abdullah II berjanji akan memberikan respons tegas terhadap serangan gereja.
Dalam insiden penembakan massal gereja, tiga pria bersenjata melepaskan tembakan ke arah para pelayat yang menghadiri pemakaman di sebuah gereja Ortodoks Yunani di Karak, sekitar 90 kilometer di selatan ibu kota Amman.
Raja Abdullah II mengatakan para pelaku akan menghadapi "hukuman paling berat". Dia juga memerintahkan peninjauan terhadap prosedur keamanan di negaranya.
Karak merupakan wilayah yang dihuni komunitas minoritas Kristen. Komunitas tersebut berjumlah sekitar 300.000 orang dari total 11,5 juta penduduk Yordania.
(mas)