Presiden Amerika Serikat Donald John Trump. Dia mengecam Norwegia setelah gagal meraih Hadiah Nobel Perdamaian 2026. Foto/The White House
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS)
Donald Trump melontarkan kecaman terhadap Norwegia dalam kampanye politik di Michigan pada hari Minggu. Dia kembali mengeluhkan kegagalannya meraih Hadiah Nobel Perdamaian dan menyatakan bahwa negara Skandinavia tersebut "sangat buruk".
Trump, yang berulang kali berpendapat bahwa rekam jejak diplomasi internasionalnya layak diganjar penghargaan bergengsi itu, menyinggung Nobel ketika mempromosikan apa yang dia sebut sebagai keberhasilannya menyelesaikan berbagai konflik.
"Saya telah menyelesaikan delapan perang dan dua lagi akan segera menyusul," kata Trump kepada massa pendukung, merujuk pada Iran dan perang Rusia-Ukraina. Dia kemudian mengingat kembali harapannya menjelang pengumuman pemenang Nobel tahun ini.
"Saya berkata, ‘Ibu Negara, dua minggu lagi saya akan mendapatkan Hadiah Nobel, dan itu akan menjadi sebuah kehormatan'," ujar Trump.
Namun, setelah pemenang penghargaan diumumkan, Presiden Trump mengatakan bahwa penghargaan tersebut "didapatkan oleh seorang perempuan yang tidak pernah didengar siapa pun".
Trump merujuk pada ahli hukum asal Afrika Selatan, Navanethem "Navi" Pillay, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 2026 pada awal bulan ini atas upayanya memajukan perdamaian dan hukum internasional, menurut penjelasan Komite Nobel Norwegia.
"Saya bilang, jadi saya tidak terlalu menyukai Norwegia," kata Trump. "Sejujurnya, Norwegia sangat buruk. Norwegia sebenarnya telah menjadi negara sampah," paparnya, seperti dikutip dari
Newsweek, Senin (26/10/2026).
Dia melanjutkan, "Saya tidak menginginkan siapa pun dari Norwegia. Saya tidak ingin berurusan dengan Norwegia."
Mengapa Donald Trump Menyalahkan Norwegia?
Trump telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk secara terbuka membicarakan keinginannya memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian. Dia kerap membandingkan rekam jejak diplomatiknya dengan mantan Presiden Barack Obama, yang menerima penghargaan tersebut pada 2009.
Dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 2025, Trump mengatakan dirinya telah "mengakhiri tujuh perang yang dianggap tidak mungkin diakhiri" selama bulan-bulan awal masa jabatan keduanya.
"Semua orang mengatakan bahwa saya seharusnya mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian atas setiap pencapaian ini," katanya saat itu.
Pada saat itu, Trump sudah mengeluhkan bahwa Komite Nobel kemungkinan tidak akan memberinya penghargaan, apa pun rekam jejaknya.
Pada Februari 2025, dia mengatakan, "Mereka tidak akan pernah memberikannya kepada saya. Sayang sekali. Saya pantas mendapatkannya, tetapi mereka tidak akan pernah memberikannya kepada saya."
Pada Juni tahun yang sama, Trump mengatakan dirinya seharusnya sudah mendapatkannya empat atau lima kali. Dia menunjuk upaya diplomatik pemerintahannya terkait sejumlah konflik, termasuk Rwanda dan Republik Demokratik Kongo, Serbia dan Kosovo, India dan Pakistan, serta Kesepakatan Abraham (Abraham Accords).
Hadiah Nobel Perdamaian diberikan oleh Komite Nobel Norwegia, sebuah badan independen yang terdiri atas lima anggota dan ditunjuk oleh Parlemen Norwegia. Pemerintah Norwegia tidak menentukan siapa yang memenangkan penghargaan tersebut.
Perbedaan ini sebelumnya juga menjadi persoalan dalam hubungan Trump dengan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store.
Kekecewaan Trump terhadap Nobel Perdamaian mulai terkait dengan kebijakan luar negerinya terhadap Norwegia dan sejumlah negara Eropa lainnya pada awal tahun ini.
Pada Januari, Trump mengatakan kepada Store bahwa dirinya "tidak lagi merasa berkewajiban untuk hanya memikirkan perdamaian" setelah gagal memenangkan penghargaan tahun 2025.
"Mengingat negara Anda memutuskan untuk tidak memberikan Hadiah Nobel Perdamaian kepada saya, padahal saya telah menghentikan delapan perang PLUS, saya tidak lagi merasa berkewajiban untuk hanya memikirkan perdamaian," tulis Trump di media sosial yang ditujukan kepada PM Store.
Pesan itu disampaikan ketika Trump meningkatkan upayanya untuk mengambil alih Greenland dan mengancam akan mengenakan tarif terhadap sejumlah sekutu Amerika Serikat, termasuk Norwegia, yang menentang rencananya tersebut.
Store menanggapi secara terbuka dengan menegaskan bahwa pemerintahnya tidak menentukan pemenang Nobel.
"Mengenai Hadiah Nobel Perdamaian, saya telah menjelaskan dengan gamblang, termasuk kepada Presiden Trump, sesuatu yang sudah diketahui secara luas: penghargaan itu diberikan oleh Komite Nobel yang independen, bukan oleh Pemerintah Norwegia," katanya.
Kritik terbaru Trump terhadap Norwegia muncul lebih dari dua pekan setelah Pillay diumumkan sebagai pemenang Nobel Perdamaian 2026.
Saat berpidato dalam kampanye di Syracuse, New York, pada 9 Oktober, Trump mengatakan, "Hari ini mereka memberikan Hadiah Nobel Perdamaian kepada seseorang yang belum pernah saya dengar namanya. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Dia sosok misterius."
Trump menyebut keputusan tersebut sebagai "noda yang tidak akan pernah terhapus" bagi Norwegia dan berpendapat bahwa rekam jejak diplomasi internasionalnya sendiri lebih layak mendapat pengakuan.
Keesokan paginya, Trump kembali mengangkat persoalan itu melalui Truth Social dengan merinci sejumlah pencapaian kebijakan luar negeri yang menurutnya telah dia raih.
"Namun, dengan semua itu, saya atau Amerika Serikat tidak mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian. WOW!" tulisnya. Dalam unggahan itu, Trump salah mengeja kata "Nobel" menjadi "Noble".
Pillay (85) merupakan mantan kepala hak asasi manusia PBB yang pernah bertugas di sejumlah pengadilan dan tribunal internasional. Dia juga pernah memimpin Komisi Penyelidikan PBB mengenai Wilayah Palestina yang Diduduki.
Pemilihannya sebagai penerima Nobel juga menuai kritik dari Israel dan organisasi-organisasi pro-Israel. Kritik itu berkaitan dengan perannya memimpin penyelidikan PBB yang menyimpulkan bahwa tindakan Israel di Gaza merupakan genosida. Israel menolak kesimpulan tersebut.
Upaya Trump mendapatkan Nobel Perdamaian telah berlangsung sejak masa jabatan pertamanya sebagai presiden.
Pada 2018, ketika ditanya apakah dirinya pantas menerima penghargaan itu, Trump menjawab, "Semua orang berpikir demikian."
Setahun kemudian, dia mengatakan yakin akan menerima Nobel "atas banyak hal" jika penghargaan tersebut diberikan secara adil.
Sejak itu, sejumlah pihak secara terbuka mengumumkan telah menominasikan Trump untuk Nobel Perdamaian. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, misalnya, mengatakan kepada Trump di Gedung Putih pada Juli 2025 bahwa dia telah mengajukan nominasi kepada Komite Nobel.
"Saya ingin menyerahkan kepada Anda, Tuan Presiden, surat yang saya kirimkan kepada Komite Nobel," kata Netanyahu. "Surat itu menominasikan Anda untuk Hadiah Perdamaian, yang memang pantas Anda dapatkan dan seharusnya Anda raih."
Trump menjawab, "Wow. Terima kasih banyak. Terlebih karena ini datang dari Anda, hal ini sangat berarti."
Pakistan juga secara terbuka mengumumkan nominasi Trump pada 2025.
Namun, Komite Nobel Norwegia tidak mengungkap identitas orang-orang yang sedang dinominasikan. Catatan nominasi dirahasiakan selama 50 tahun. Karena itu, pengumuman nominasi oleh pihak pengusul tidak berarti komite telah mengonfirmasi nominasi tersebut.
Hubungan Trump dengan Nobel mengalami perkembangan yang tidak biasa setelah pemimpin oposisi Venezuela María Corina Machado memenangkan penghargaan tahun 2025.
Machado menyerahkan medali fisik Hadiah Nobel Perdamaian miliknya kepada Trump dalam pertemuan di Gedung Putih pada Januari, dan Trump menerimanya.
Namun, pejabat Nobel kemudian menegaskan bahwa penghargaan tersebut tidak dapat dialihkan kepada orang lain. Seorang penerima Nobel memang boleh memberikan medali fisiknya kepada orang lain, tetapi status sebagai penerima Nobel tetap melekat secara permanen pada pemenang aslinya.
Trump kembali menyinggung peristiwa tersebut dalam kampanye di Michigan pada hari Minggu.
"Orang yang mendapatkannya, Maria, sangat baik," katanya. "Dia berkata, ‘Saya tidak percaya saya mendapatkannya. Penghargaan ini seharusnya diberikan kepada Presiden Trump'. Lalu dia memberikan Hadiah Nobel Perdamaian miliknya kepada saya."
Meskipun Nobel Perdamaian belum berhasil diraihnya, Trump menerima sejumlah penghargaan lain yang dikaitkan dengan dirinya maupun upaya diplomatiknya.
Pada Desember 2025, Trump menjadi penerima pertama Hadiah Perdamaian FIFA yang baru dibentuk. Penghargaan itu diserahkan Presiden FIFA Gianni Infantino dalam acara pengundian Piala Dunia 2026 di Washington, D.C.
Penghargaan tersebut kemudian menjadi sorotan. Bulan ini, FIFA menyatakan bahwa Komite Tanggung Jawab Sosial Sepak Bola akan meninjau pembentukan penghargaan itu serta keputusan untuk menjadikan Trump sebagai penerima pertamanya.
Trump menerima penghargaan lain hanya beberapa hari sebelum menghadiri kampanye di Michigan pada Minggu.
Dalam kampanye di Iowa pada Kamis pekan lalu, kandidat anggota Kongres dari Partai Republik, Joe Mitchell, menyerahkan sebuah penghargaan berbingkai bertuliskan "Man of the Century" atau "Tokoh Abad Ini" kepada Trump. Mitchell mengatakan bahwa ia membuat penghargaan tersebut karena Trump belum menerima Nobel.
"Mereka tidak pernah memberikan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Anda, omong-omong, dan itu memalukan," kata Mitchell kepada Trump.
(mas)