Yordania tangkap tiga tersangka dalam serangan mematikan di gereja. Foto/X/@Henrizakaria
AMMAN - Aparat keamanan Yordania menangkap tiga tersangka bersenjata setelah melakukan pencarian selama beberapa hari terhadap para pelaku serangan yang menewaskan delapan orang dan melukai puluhan lainnya di sebuah gereja di wilayah Karak, Yordania.
Direktorat Keamanan Publik Yordania menyatakan bahwa para tersangka ditemukan pada hari Senin saat bersembunyi di sebuah rumah kosong di desa Al-Jadeeda, Karak.
Direktorat tersebut menyatakan dalam sebuah pernyataan yang dimuat media pemerintah bahwa para tersangka menolak untuk menyerah dan justru menyerang aparat keamanan. Aparat kemudian membalas tembakan dan menangkap ketiganya setelah melukai mereka.
Seorang sumber pemerintah Yordania mengatakan kepada Al Jazeera bahwa para pelaku mengalami luka serius dalam konfrontasi dengan aparat keamanan.
Salah satu tersangka berada dalam kondisi kritis akibat luka-luka yang diderita selama pertempuran yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, ujar sumber itu. Menurut Kantor Berita Petra milik Yordania, tidak ada korban jiwa di pihak aparat keamanan, dan dalam penggeledahan di lokasi kejadian, ditemukan senjata api serta amunisi aktif.
"Terorisme tidak memiliki tempat di antara kita," demikian pernyataan direktorat tersebut, seraya menambahkan bahwa para tersangka telah menerima "ganjaran yang setimpal", tanpa menyebutkan kelompok tertentu yang mungkin terkait dengan mereka.
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di platform X pada Senin pagi, Menteri Komunikasi Pemerintah Mohammad Momani memuji upaya aparat keamanan yang terlibat dalam operasi gabungan yang ia sebut sebagai keberhasilan. Momani mengonfirmasi bahwa ketiga tersangka mengalami luka-luka dan telah ditahan setelah sempat terjadi perlawanan karena mereka menolak untuk menyerah.
Pada hari Jumat, tiga orang bersenjata melepaskan tembakan di sebuah acara pemakaman di gereja Ortodoks Yunani di desa Hamoud, Karak—yang terletak sekitar 120 km (75 mil) di barat daya ibu kota Amman—sehingga menewaskan delapan orang dan melukai 40 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Yordania.
Dari mereka yang terluka, 27 orang masih dirawat di rumah sakit hingga hari Senin. Direktur Rumah Sakit Militer Pangeran Ali di kota Karak menyatakan bahwa satu orang berada dalam kondisi kritis setelah menjalani operasi.
Karak merupakan tempat tinggal bagi banyak anggota komunitas minoritas Kristen di Yordania, yang jumlahnya mencapai sekitar 300.000 jiwa dari total 11,5 juta penduduk negara tersebut.
Raja Abdullah II menyatakan bahwa pihak yang berada di balik serangan ini akan menghadapi "hukuman paling berat", seraya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban. Ia juga telah memerintahkan peninjauan kembali terhadap prosedur keamanan negara dalam merespons serangan.
Menteri Dalam Negeri Mazen al-Faraya menambahkan bahwa pihak berwenang sedang meninjau faktor-faktor yang mendorong kaum muda untuk melakukan kekerasan, serta menegaskan bahwa siapa pun yang terbukti terlibat dalam serangan tersebut akan dimintai pertanggungjawaban.
(ahm)