Israel tuding pencalonan UEA di PBB membuka jalan bagi Israel Raya. Foto/X/alwaght
TEHERAN - Ketua ParlemenIran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan bahwa upaya seorang diplomat Uni Emirat Arab (UEA) untuk menjadi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berikutnya bertujuan untuk membuka jalan diplomatik bagi ambisi ekspansionis dan agresif Israel di bawah skema yang disebut sebagai "Israel Raya".
Qalibaf menyampaikan pernyataan tersebut melalui unggahan di platform X pada hari Minggu. Ia menyebut bahwa pencalonan Menteri Negara UEA, Lana Nusseibeh, untuk posisi tertinggi di PBB juga bertujuan untuk menutupi "genosida sistematis" yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Ia menambahkan bahwa pembelaan terhadap tragedi di Gaza telah menjadi "riwayat pengalaman" di balik keputusan UEA untuk mengejar posisi di PBB tersebut. Ia mengibaratkan langkah negara itu seperti seekor rubah yang melamar pekerjaan sebagai penjaga kandang ayam.
"Membela tragedi Gaza adalah riwayat pengalamannya; sang rubah sedang memperbarui profil LinkedIn-nya untuk melamar pekerjaan sebagai penjaga kandang ayam," tulis tokoh parlemen Iran tersebut.
Unggahan Qalibaf muncul setelah Nusseibeh mengumumkan pencalonannya sebagai Sekretaris Jenderal PBB pada hari Rabu. Ia menjadi perempuan pertama yang berupaya memimpin badan dunia tersebut sepanjang 80 tahun sejarahnya.
Nusseibeh, yang pernah menjabat sebagai Duta Besar UEA untuk PBB selama lebih dari satu dekade, membawa latar belakang yang terkait dengan Palestina serta pembelaan terhadap hubungan historis negaranya dengan Israel dalam pencalonannya ini.
Ia juga menghadapi kritik tajam terkait dugaan peran UEA dalam mendukung petempur paramiliter yang telah menewaskan ribuan orang dalam perang saudara di Sudan. Pihak UEA telah membantah klaim tersebut.
Dalam sebuah unggahan di platform X, Nusseibeh menyatakan bahwa ia mencalonkan diri karena PBB perlu bertindak lebih mendesak, menyatukan berbagai pihak, dan mendorong upaya yang ada hingga membuahkan hasil nyata.
"Dengan cara itulah kita membangun kembali kepercayaan terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa dan memastikan lembaga ini menghadirkan perubahan bermakna bagi masyarakat yang dilayaninya," tulisnya.
Lebih dari 74.000 warga Palestina, yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak, telah terbunuh di Gaza sejak 7 Oktober 2023, saat rezim Israel melancarkan perang genosida di wilayah yang terkepung tersebut.
(ahm)