Kisah tentang doa yang langsung dikabulkan Allah SWT menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari penampilan, status sosial, ataupun kedudukannya di tengah masyarakat. Foto ilustrasi/ist
Kisah tentang
doayang langsung dikabulkan Allah SWT menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari penampilan, status sosial, ataupun kedudukannya di tengah masyarakat. Terkadang, seseorang yang dipandang rendah oleh manusia justru memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT karena keikhlasan dan ketakwaannya.
Kisah ini diceritakan dalam kitab Karamat al-Awliya' karya Hibatullah bin al-Hasan al-Thabari Al-Lalaka'i. Ceritanya bermula ketika Kota Makkah dilanda kemarau panjang hingga masyarakat berbondong-bondong mendatangi Masjidil Haram untuk melaksanakan
salat istisqa', yakni salat sunah untuk memohon turunnya hujan.
Namun, hujan yang diharapkan tak kunjung turun. Di antara orang-orang yang mengikuti salat istisqa' tersebut terdapat Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar yang dikenal karena ilmu dan kezuhudannya.
Di tengah suasana itu, Abdullah melihat seorang laki-laki berkulit hitam dan bertubuh kurus yang juga memanjatkan doa kepada Allah SWT.
Laki-laki tersebut berdoa dengan penuh keyakinan. Ia berkata, "Ya Allah, orang-orang telah berdoa kepada-Mu, tetapi Engkau belum mengabulkannya. Sekarang, aku memohon kepada-Mu agar Engkau berkenan menurunkan hujan kepada kami."
Tak lama setelah doa itu dipanjatkan, hujan turun dengan sangat lebat. Peristiwa tersebut membuat Abdullah memperhatikan laki-laki itu. Setelah hujan turun, laki-laki tersebut meninggalkan tempat itu.
Abdullah kemudian mengikutinya dari kejauhan hingga mengetahui tempat laki-laki itu singgah, yakni sebuah tempat perdagangan budak.
Abdullah bin Mubarak Membeli Budak Misterius Itu
Keesokan harinya, Abdullah mendatangi tempat tersebut dengan maksud membeli laki-laki yang doanya disaksikan langsung olehnya.
Kepada pemilik tempat itu, Abdullah menyampaikan keinginannya untuk membeli seorang budak. Pemiliknya kemudian memperlihatkan sekitar 40 budak agar Abdullah dapat memilih salah satunya. Namun, laki-laki yang dicari Abdullah tidak terlihat di antara mereka.
Abdullah pun bertanya apakah masih ada budak lain. Pemilik tempat itu menjawab bahwa masih ada seorang budak, tetapi kondisinya sakit-sakitan.
Mendengar jawaban tersebut, Abdullah memutuskan untuk membeli budak itu. Setelah urusan pembelian selesai, keduanya pun meninggalkan tempat tersebut.
Di tengah perjalanan, laki-laki itu bertanya kepada Abdullah mengapa dirinya dibeli, padahal ia sedang sakit-sakitan.
Abdullah kemudian menjelaskan bahwa dirinya memiliki alasan khusus. Ia menyaksikan sendiri peristiwa ketika laki-laki itu berdoa meminta hujan, lalu hujan turun tidak lama setelahnya. Abdullah menduga bahwa laki-laki tersebut memiliki keistimewaan dalam kedekatannya kepada Allah SWT.
Memohon kepada Allah agar Nyawanya Dicabut
Mendengar penjelasan Abdullah, laki-laki itu segera bersandar pada sebuah tembok. Ia kemudian memanjatkan doa kepada Allah SWT.
"Ya Allah, jika Engkau telah menampakkan karamahku, maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau mencabut nyawaku."
Tak lama kemudian, laki-laki itu terjatuh dan meninggal dunia. Abdullah pun menyaksikan akhir kehidupan laki-laki yang sebelumnya berdoa memohon hujan tersebut. Kisah ini menjadi bagian dari cerita karamah para wali yang dinukil dalam kitab Karamat al-Awliya' karya Hibatullah bin al-Hasan al-Thabari Al-Lalaka'i, halaman 182–183.
Hikmah Kisah: Menyembunyikan Kebaikan dan Menjaga Keikhlasan
Kisah tersebut mengandung pelajaran tentang pentingnya menjaga keikhlasan dalam beribadah. Tidak semua kebaikan harus diketahui orang lain. Ada kalanya menyembunyikan amal lebih membantu seseorang menjaga hati dari kesombongan, keinginan memperoleh pujian, dan dorongan untuk mencari pengakuan manusia.
Meski demikian, menampakkan kebaikan tidak selalu tercela. Dalam keadaan tertentu, memperlihatkan amal justru dapat menjadi sarana dakwah dan mendorong orang lain melakukan hal serupa.
Prinsip tersebut dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 271:
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: "Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Baqarah: 271).
Dalam tafsirnya, Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa menampakkan maupun menyembunyikan sedekah dapat menjadi pilihan yang baik sesuai dengan keadaan dan kemaslahatan yang dihasilkan.
Jika sedekah ditampakkan untuk memberikan teladan, mengajak orang lain berbuat baik, atau mendorong kepedulian sosial, tindakan tersebut dapat membawa manfaat. Sebaliknya, apabila menampakkan amal dikhawatirkan menumbuhkan riya dan kesombongan, menyembunyikannya dapat menjadi pilihan yang lebih baik.
Karena itu, ukuran utama bukan sekadar apakah suatu amal diketahui orang lain atau tidak, melainkan niat dan tujuan di baliknya.
Kisah budak yang doanya dikabulkan tersebut juga mengingatkan bahwa manusia tidak sepatutnya menilai kemuliaan seseorang hanya berdasarkan penampilan, kekayaan, atau status sosial. Kedekatan kepada Allah SWT tidak selalu tampak dari hal-hal yang dapat dinilai manusia.
Pada akhirnya, seorang muslim hendaknya senantiasa menjaga keikhlasan, memperbanyak doa, dan tidak menjadikan amal ibadah sebagai sarana mencari pujian. Jika kebaikan perlu ditampakkan, niatkanlah untuk menghadirkan manfaat dan mengajak orang lain menuju kebaikan. Wallahu a'lam.
(wid)