Lula Menang Pemilu Brasil untuk Ke-4 Kalinya, Kalahkan Bolsonaro yang Didukung Trump

img-redaksi Muhaimin
Senin, 26 Oktober 2026 - 09:13 WIB
Lula Menang Pemilu Brasil untuk Ke-4 Kalinya, Kalahkan Bolsonaro yang Didukung Trump
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menang pemilu. Dia mengalahkan Senator Flavio Bolsonaro yang didukung Presiden AS Donald Trump. Foto/OGlobo
A
A
A
BRASILIA - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menang pemilu yang berlangsung pada hari Minggu. Ini menjadi kemenangan pemilu untuk keempat kalinya.

Lula, tokoh ikonik sayap kiri dunia sekaligus kekuatan paling dominan dalam politik Brasil pada abad ini, mengalahkan Senator Flavio Bolsonaro, putra sulung mantan Presiden Jair Bolsonaro.

Flavio, yang didukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sebelumnya menempati posisi pertama pada putaran pertama pemilu dan berharap dapat menghidupkan kembali gerakan politik sayap kanan ekstrem yang dibangun ayahnya.

Pada beberapa kesempatan, peluang Lula untuk terpilih kembali tampak tipis. Pemilih mulai kehilangan kepercayaan terhadap dirinya dan Partai Pekerja (Workers' Party) setelah bertahun-tahun dilanda skandal korupsi dan kenaikan harga.

Perubahan sosial yang berlangsung cepat juga membuat mantan pekerja logam sekaligus pemimpin serikat buruh itu dinilai semakin tidak memahami perkembangan ekonomi yang kian bergantung pada aplikasi digital dan pertumbuhan jumlah pekerja informal.

Kemenangan Lula kembali menandai kebangkitan politik dalam perjalanan kariernya yang penuh dengan kisah serupa. Pria berusia 80 tahun itu pernah dipenjara pada 2018 hingga 2019 atas tuduhan korupsi. Putusan yang menjeratnya kemudian dibatalkan, sehingga membuka jalan baginya untuk mengalahkan Jair Bolsonaro dalam pemilu 2022.

"Dia adalah seorang negarawan, seorang raksasa," kata anggota parlemen federal dari sayap kiri, Erika Hilton, kepada Reuters, Senin (26/10/2026). Hilton berada bersama Lula di Sao Paulo saat penghitungan suara berlangsung.

Jalan Kemenangan yang Tak Terduga



Lembaga-lembaga jajak pendapat menyebut tingkat partisipasi pemilih yang lebih tinggi daripada perkiraan menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Lula menuju kemenangan.

Leonardo Barreto, salah satu pendiri lembaga konsultan Think Policy, mengatakan para pemilih lebih memilih sosok Lula yang sudah dikenal daripada menawarkan kesempatan kepada Bolsonaro yang membawa perubahan.

"Orang-orang saat ini memilih antara perubahan yang disertai kekhawatiran dan jalan yang sudah dikenal, yang menjamin sejumlah hak tertentu," ujarnya.

Selama kampanye, Lula menonjolkan rekam jejak pemerintahannya dalam menurunkan angka kemiskinan dan ketimpangan. Dia juga menyebut pengangguran, buta aksara, dan deforestasi mencapai tingkat terendah dalam sejarah selama masa jabatan ketiganya.

Lula memperingatkan bahwa Bolsonaro akan memangkas belanja kesejahteraan sosial, memundurkan berbagai kemajuan sosial, serta menyerahkan kedaulatan Brasil kepada Presiden AS Donald Trump. Departemen Luar Negeri AS diketahui memimpin upaya untuk mengembalikan keluarga Bolsonaro ke tampuk kekuasaan.

Kemenangan Lula membuat Trump kehilangan peluang untuk menambah sekutu penting dalam kelompok pemerintahan sayap kanan di Amerika Latin yang terus berkembang. Pemerintahan-pemerintahan tersebut mendukung agenda Washington, khususnya dalam bidang keamanan dan migrasi.

Celso Amorim, mantan menteri luar negeri pada pemerintahan Lula, mengatakan kepada Reuters bahwa pemimpin sayap kiri itu akan sangat penting untuk menciptakan keseimbangan di Amerika Latin.

"Lula adalah keseimbangan itu," ujarnya.

Raja Comeback Politik



Lula menjadi kandidat pertama sejak Brasil kembali ke pemerintahan demokratis pada 1980-an yang berhasil terpilih sebagai presiden setelah finis di posisi kedua pada putaran pertama pemilu.

Lula, yang pernah menjabat presiden pada periode 2003–2011, mengandalkan perpaduan pragmatisme dan populisme yang telah membentuk perjalanan politik nasionalnya selama setengah abad. Dia meluncurkan serangkaian reformasi yang bertujuan meningkatkan taraf hidup para pekerja dan masyarakat miskin Brasil.

Dukungan terhadap Lula semakin menguat setelah dia menyampaikan sejumlah janji menjelang akhir kampanye. Janji tersebut mencakup transportasi umum gratis secara nasional pada akhir pekan, yang masih harus diajukan secara resmi kepada Kongres, serta kenaikan 15 persen bantuan melalui program kesejahteraan andalannya yang sudah mulai diterapkan.

Lula juga mendukung amendemen konstitusi yang kemudian menjadi reformasi ketenagakerjaan terbesar di Brasil dalam beberapa dekade terakhir. Amendemen tersebut disahkan dengan dukungan luas di Kongres.

Tantangan Berat di Parlemen



Meski kembali menang, masa jabatan keempat Lula berpotensi menjadi yang paling sulit. Brasil baru saja memilih anggota Kongres dengan komposisi paling konservatif sejak negara itu kembali ke demokrasi pada 1980-an.

Jika digabungkan, Partai Liberal (PL) pimpinan Bolsonaro dan partai-partai sekutunya diperkirakan dapat menguasai lebih dari 280 kursi di majelis rendah dan hingga 50 kursi di Senat. Jumlah tersebut cukup untuk membentuk mayoritas yang kuat di kedua kamar parlemen.

"Sejak awal, dia kemungkinan akan menjadi presiden yang kehilangan pengaruh politik atau lame duck," kata Oliver Stuenkel, profesor hubungan internasional di Getulio Vargas Foundation, Sao Paulo.

Stuenkel mengatakan parlemen yang baru akan memperkuat tren belakangan ini, yakni semakin besarnya kekuasaan Kongres dengan mengorbankan presiden.

Menurutnya, Lula berpotensi kehilangan pengaruh dalam penunjukan hakim Mahkamah Agung, menghadapi koalisi partai yang sulit dikelola, bahkan menghadapi ancaman pemakzulan.

Lula juga menghadapi tantangan ekonomi. Pemerintah Brasil memperkirakan perekonomian hanya tumbuh 2,3 persen pada tahun depan. Prospek tersebut menambah kekhawatiran fiskal di tengah tingginya suku bunga dan utang pemerintah yang telah melampaui 82 persen dari produk domestik bruto (PDB), level tertinggi sejak pandemi.

Para pengkritik presiden menyalahkan belanja pemerintah sebagai penyebab membengkaknya utang. Namun, kenaikan biaya pembayaran bunga disebut menjadi faktor utama di balik sebagian besar pertumbuhan utang tersebut.

Goldman Sachs memperkirakan Lula paling jauh hanya akan mencatat kemajuan terbatas dalam mengendalikan belanja pemerintah selama masa jabatan keempatnya. Hal ini karena dia diperkirakan tetap berkomitmen pada model pertumbuhan ekonomi yang dipimpin negara.

Lonjakan utang rumah tangga juga menjadi perhatian para ekonom. Untuk mengatasi persoalan tersebut, Lula memberlakukan larangan sementara terhadap perjudian daring dan memperkenalkan program keringanan utang baru selama kampanye.

Para pakar memperkirakan Kongres baru yang didominasi kelompok kanan akan berupaya mengesahkan reformasi struktural yang menguntungkan dunia usaha. Langkah tersebut berpotensi mendorong pemangkasan belanja pemerintah dan memicu gejolak sosial.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Menlu AS Ajak Warga Kuba Jalin Kemitraan Rahasia dengan CIA
International
Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:15 WIB