Kostiantyn Vlasenko, tentara Ukraina yang potong kakinya sendiri demi bertahan hidup di tengah perang melawan Rusia. Dia akhirnya diselamatkan drone Ukraina. Foto/Facebook/NRK92SABR
KYIV - Setelah 491 hari, harapan akhirnya datang kepada tentara
Ukraina Kostiantyn Vlasenko dalam bentuk sebuah
drone.
Selama hampir delapan bulan dari masa tersebut, prajurit berusia 49 tahun itu bertahan hidup sendirian di sebuah lubang berukuran sekitar 80 kali 60 sentimeter, di bawah ketel pemanas sebuah sekolah yang telah hancur. Rekan seperjuangannya tewas. Kaki kirinya hancur akibat serangan
drone Rusia. Sementara itu, kaki kanannya dia potong sendiri menggunakan pisau yang diletakkan di atas batu bata.
Di atas tempat persembunyiannya,
drone-drone Rusia mengawasi setiap jalan, parit, dan reruntuhan. "Jika Anda tidak melihatnya, drone itu yang akan melihat Anda," katanya kepada media Ukraina,
Censor.net.
Misi penyelamatan tampak mustahil. Menurut perwira yang merencanakan operasi tersebut, truk dan kendaraan lapis baja tidak dapat menembus wilayah itu. Dua robot darat yang dikirim untuk menjangkaunya juga hancur.
Namun, pada awal Oktober, sebuah paket logistik yang dijatuhkan menggunakan
drone membawa sesuatu yang berbeda dari biasanya. Selain makanan, rokok, dan sesekali cokelat, paket tersebut berisi tali pengaman khusus dan sebuah ponsel yang memuat video petunjuk penggunaannya.
Keesokan harinya, pada 4 Oktober, sebuah
drone raksasa dengan enam baling-baling turun menghampirinya. Vlasenko mengaitkan tubuhnya pada kait yang terpasang di alat penarik
drone, lalu terangkat sekitar 70 meter ke udara.
Dikendalikan dari jarak jauh, mesin itu membawanya menempuh jarak sekitar 15 kilometer melintasi garis depan hingga mencapai tempat aman.
Vlasenko berasal dari Kryvyi Rih dan bertugas di Brigade Mekanis ke-30 Ukraina. Sebelum perang, dia mengemudikan truk-truk raksasa di sebuah tambang. Kepada Censor.net, dia mengatakan bahwa dirinya secara sukarela bergabung dengan militer.
Tahun lalu, dia ditempatkan di posisi garis depan yang dikenal sebagai Vertun untuk bergabung dengan seorang rekan yang memiliki nama panggilan radio Basky. Menurut penuturannya, pos tersebut berupa pipa drainase beton dengan tempat perlindungan yang digali di sebelahnya.
Paket logistik yang dijatuhkan menggunakan drone setiap hari memasok makanan dan kebutuhan lainnya bagi kedua prajurit tersebut. Pada hari ulang tahun Vlasenko, paket itu bahkan dilaporkan berisi cokelat dan rokok premium.
Namun, situasi berubah ketika langit dipenuhi drone Rusia.
"Jumlah Mavic mereka, drone-drone mereka, begitu banyak sampai-sampai langit terlihat kotor," katanya.
Menurut Vlasenko, dua prajurit pengganti dikirim ke posisinya, tetapi keduanya tewas dalam perjalanan. Dua prajurit lainnya yang dikirim untuk mengambil jenazah mereka juga tewas.
Karena itu, Vlasenko meminta komandannya agar tidak mengirim orang lain lagi.
"Saya lebih baik mati sendirian daripada membuat lebih banyak orang tewas," katanya.
Lubang Perlindungan Terendam, Pindah ke Sekolah yang Hancur
Pada pertengahan Februari, setelah berbulan-bulan bertahan di posisi tersebut, lubang perlindungan mereka terendam air. Keduanya kemudian merangkak menuju sebuah bangunan sekolah yang telah hancur.
Sebuah drone pengintai Rusia segera melihat mereka ketika keluar untuk mengambil paket berisi pakaian kering dan makanan. Drone lainnya kemudian menyerang mereka.
Basky tewas pada 16 Februari, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-50.
Kaki kiri Vlasenko mengalami cedera dan beberapa bulan kemudian membusuk hingga akhirnya terlepas. Kaki kanannya juga mengalami kerusakan parah setelah dia terjatuh.
"Saya sudah merangkak dengan bertumpu pada kedua tangan dan lutut, hanya bisa merayap," katanya.
Dalam kondisi hampir tidak mampu bergerak, dia menemukan sebuah ruang kecil di bawah ketel pemanas tua dan menjadikannya tempat persembunyian.
Pada suatu ketika, sebuah drone Rusia menjatuhkan pengeras suara di dekat tempat persembunyiannya. Menurut Vlasenko, sebuah suara rekaman kemudian terdengar dari alat tersebut.
"Saudaraku, kami tahu kamu ada di sini. Percayalah, rekan-rekanmu tidak akan menyelamatkanmu," demikian pesan yang diperdengarkan.
Vlasenko bertahan di ruang sempit di bawah ketel pemanas itu selama berbulan-bulan.
Menurut media Ukraina;
Oboronka, drone mengirimkan makanan, obat-obatan, rokok, dan permen setiap empat hingga lima hari. Dia juga tetap berkomunikasi melalui radio.
"Bagi saya, itu merupakan kebahagiaan karena saya tidak sendirian, karena saya bisa mendengar suara seseorang," katanya.
"Rasanya sangat kesepian. Mereka tidak meninggalkan saya, komando saya tidak meninggalkan saya," ujarnya.
Istrinya bahkan mengirimkan sebuah buku karya penulis Stephen King, yang kemudian dibacanya selama bertahan di tempat persembunyian.
Seiring kondisi kaki kanannya memburuk, Vlasenko mengatakan kepada media Ukraina bahwa tulang kakinya mulai menembus kulit. Kondisinya semakin parah setiap kali dia merangkak keluar untuk mengambil paket logistik.
Dia akhirnya memutuskan bahwa kaki tersebut harus dipotong. "Saya meletakkannya di atas batu bata, lalu mengambil pisau," katanya. "Air mata terus mengalir. Saya harus memotongnya."
Dia menggunakan torniket untuk menghentikan pendarahan.
Meski mengalami penderitaan ekstrem, Vlasenko masih mampu mempertahankan selera humornya. Dia mengenang bagaimana dirinya mengatakan kepada komandannya, "Sekarang saya tidak punya kaki datar dan ukuran sepatu 44 lagi."
"Pada April, saya kehilangan kaki kiri saya, yang membusuk dengan sendirinya. Pada Mei, saya memotong kaki kanan saya sendiri," katanya.
Enam Bulan Merencanakan Penyelamatan
Operasi penyelamatan bermula dari gagasan seorang perwira dengan nama panggilan Alex, yang bertanggung jawab mengawasi operasi drone di batalionnya.
Menurut laporan
Oboronka, sekitar enam bulan berlalu sejak gagasan itu muncul hingga penerbangan penyelamatan akhirnya dilakukan.
Para perwira mendapat informasi tentang sebuah drone berat buatan perusahaan Ukraina, Gurzuf Defence. Drone itu memiliki enam rotor, rangka berwarna hitam, dan bentuk menyerupai serangga raksasa.
Setelah lebih dari satu tahun berada di garis depan, berat badan Vlasenko diperkirakan sekitar 70 kilogram.
Namun, operasi tersebut memiliki risiko besar. Drone-drone Rusia berukuran lebih kecil kerap menembak jatuh drone besar yang bergerak lambat.
Pada awal Oktober, Vlasenko menemukan tali pengaman dan ponsel berisi video petunjuk penggunaan dalam paket logistik yang dikirimkan kepadanya.
Pilot drone penyelamat, yang menggunakan nama panggilan Black, telah meninggalkan petunjuk dalam bahasa Ukraina dan Rusia.
Pada 4 Oktober, operasi penyelamatan dimulai. Vlasenko diangkat ke udara menggunakan drone berat tersebut, sementara tiga drone yang lebih kecil terbang di sampingnya sebagai pengalih perhatian.
Selama dua jam, drone-drone serang kecil, artileri, dan drone bersayap tetap menyerang posisi-posisi Rusia yang diketahui menjadi lokasi pengoperasian drone.
Dua tim darat juga bersiaga di sepanjang rute untuk mengganti atau mengisi ulang baterai.
Menurut laporan
Oboronka, operasi tersebut melibatkan unit dari Brigade Mekanis ke-30, ke-14, dan ke-43, serta Korps Angkatan Darat ke-10 Ukraina.
Vlasenko mengatakan salah satu drone pengawalnya ditembak jatuh.
Ketinggian tidak membuatnya takut. Namun, ada satu hal yang membuatnya khawatir ketika drone itu melintasi sungai. "Yang saya takutkan adalah air," katanya. "Saya tidak bisa berenang."
Dia kemudian mengangkat tangan membentuk tanda "oke" dan membuat simbol hati untuk kamera drone.
"Saya memahami bahwa ada seseorang di bawah sana. Saya ingin membawanya ke tempat aman secepat dan seaman mungkin," kata Black, operator yang mengendalikan drone dari jarak jauh, kepada Oboronka.
Militer Ukraina menyebut operasi tersebut sebagai penyelamatan pertama dari jenisnya.
Vlasenko kemudian dibawa ke rumah sakit militer di Kharkiv. Dia telah menjalani beberapa kali operasi dan masih membutuhkan kaki palsu serta rehabilitasi.
Ketika ditanya apa yang membuatnya terus bertahan hidup, Vlasenko berbicara tentang putrinya. "Sudah lama saya tidak berbicara dengan putri saya," katanya.
"Mungkin dia akan memahami saya, karena ayahnya sedang berperang."
(mas)