Wanita Akhir Zaman, Sibuk Mempercantik diri dan Mencari Jodoh?

img-redaksi Widaningsih
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:32 WIB
Wanita Akhir Zaman, Sibuk Mempercantik diri dan Mencari Jodoh?
Banyaknya jumlah kaum hawa dan sedikitnya jumlah kaum adam, kondisi ini semakin memperkuat bahwasannya sifat wanita akhir zaman terlalu sibuk memikirkan jodoh dan mementingkan urusan kecantikannya tapi jahil dalam hal agama. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Salah satu tanda akhir zamanadalah lebih banyaknya jumlah kaum hawa dibandingkan keseluruhan jumlah kaum adam. Sehingga banyak dari kaum hawa yang mengkhawatirkan pasangannya nanti.

Kondisi ini, semakin diperkuat pula bahwasannya sifat wanita akhir zamanyang terlalu sibuk memikirkan jodoh dan mementingkan urusan kecantikannya tapi jahil dalam hal agama.

Di tengah perkembangan zaman dan maraknya pembahasan tentang pasangan ideal di media sosial, tidak sedikit orang yang merasa cemas mengenai jodohnya. Ada yang sibuk memikirkan kapan akan menikah, seperti apa calon pasangannya, hingga berusaha memperbaiki penampilan demi mendapatkan pasangan yang diidamkan.

Sebagian orang bahkan berusaha mempercantik penampilan dan memperbaiki perilaku hanya demi menarik perhatian calon pasangan. Padahal, kecantikan fisik bukan satu-satunya ukuran kemuliaan seseorang dalam Islam.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ


Artinya: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS Al-Hujurat: 13).

Ayat tersebut menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaannya, bukan semata-mata penampilan, status pernikahan, atau penilaian manusia.

Karena itu, memperbaiki penampilan tidaklah keliru selama dilakukan dengan cara yang dibenarkan. Akan tetapi, pembenahan diri hendaknya juga mencakup peningkatan ilmu agama, pembentukan akhlak, penguatan ibadah, dan kepedulian terhadap sesama.

Luruskan Niat dalam Memperbaiki Diri

Dalam Islam, niat menjadi perkara mendasar yang menentukan nilai suatu amal. Seseorang yang ingin memperbaiki diri hendaknya tidak hanya berorientasi pada harapan mendapatkan pasangan, tetapi juga menjadikan proses tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

Rasulullah bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى


Artinya: "Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini dikenal sebagai salah satu landasan penting dalam memahami kedudukan niat dalam Islam.

Jika seseorang belajar agama, memperbaiki akhlak, menjaga kehormatan, dan meningkatkan ibadah, hendaknya semua itu dilakukan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Mendapatkan pasangan yang baik boleh menjadi harapan, tetapi bukan satu-satunya alasan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Sebab, perubahan yang hanya bergantung pada penilaian manusia berisiko berhenti ketika harapan tidak terpenuhi. Sebaliknya, ketika perubahan dilandasi keimanan, seseorang tetap memiliki alasan untuk istiqamah, baik sudah menikah maupun masih menanti jodoh.

Ketetapan Allah dan Ikhtiar

Umat Islam meyakini bahwa rezeki, jodoh, dan kematian berada dalam ketetapan Allah SWT. Meski demikian, keyakinan terhadap takdir bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Dalam persoalan jodoh, ikhtiar dapat dilakukan dengan memperluas pergaulan yang baik, meminta bantuan keluarga atau orang tepercaya, mengikuti proses taaruf sesuai tuntunan agama, serta berdoa memohon pasangan yang saleh atau salehah.

Di sisi lain, seseorang juga perlu mempersiapkan diri untuk membangun rumah tangga. Persiapan tersebut bukan hanya soal penampilan dan materi, melainkan juga kematangan emosi, tanggung jawab, pengetahuan agama, serta kemampuan menyelesaikan persoalan bersama pasangan.

Tidak perlu pula menjadikan pernikahan orang lain sebagai tolok ukur kehidupan sendiri. Setiap orang memiliki perjalanan dan ujian yang berbeda. Ada yang menikah pada usia muda, ada pula yang baru menemukan pasangan setelah melewati berbagai proses kehidupan.

Selama terus berikhtiar melalui jalan yang baik, seseorang tidak perlu membiarkan kecemasan tentang jodoh menguasai kehidupannya.

Perbanyak Amal Saleh dan Mohon Petunjuk Allah

Daripada terus-menerus mencemaskan kapan jodoh akan datang, seorang Muslimah dapat mengisi waktunya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Misalnya, memperdalam ilmu agama, memperbaiki kualitas salat, membaca Al-Qur'an, memperbanyak doa, berbakti kepada orang tua, serta melakukan berbagai amal saleh.

Doa untuk mendapatkan pasangan yang baik juga dapat dipanjatkan tanpa harus menjadikan seluruh ibadah semata-mata sebagai sarana memperoleh jodoh. Ibadah merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, sedangkan permohonan tentang pasangan hidup adalah bagian dari doa dan ikhtiar seorang hamba.

Dengan demikian, harapan untuk menikah tetap dapat berjalan beriringan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Memamerkan Kecantikan, Larangan yang Sering Diremehkan Wanita
Kalam
Minggu, 25 Oktober 2026 - 05:15 WIB
Wanita Akhir Zaman, Sibuk Mempercantik diri dan Mencari Jodoh?
Kalam
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:32 WIB
5 Tanda Wanita Akhir Zaman Menurut Hadis, Muslimah Perlu Waspada
Kalam
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:25 WIB