Bos Perusahaan Minyak Arab Saudi Keluarkan Peringatan Pasokan Global

img-redaksi Syarifudin
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 17:29 WIB
Bos Perusahaan Minyak Arab Saudi Keluarkan Peringatan Pasokan Global
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser. Foto/anadolu
A
A
A
RIYADH - Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah menyebabkan guncangan yang "belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap pasar energi global, dengan hilangnya pasokan minyak sekitar 3 miliar barel. Peringatan itu diungkap CEO Saudi Aramco, Amin Nasser.

Perang yang dimulai pada bulan Februari tersebut secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur vital bagi minyak dan LNG—sehingga memicu kenaikan harga minyak mentah sekitar 50%.

Meskipun ekspor dari kawasan Teluk dilaporkan telah pulih hingga 80% dari tingkat sebelum perang, serangan berulang terhadap kapal-kapal membuat pasar tetap berada dalam ketidakpastian.

Harga minyak Brent bahkan sempat mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir, yakni di atas USD112 per barel pada minggu ini.

Serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi dan pelayaran Arab Saudi semakin memperparah krisis ini, serta mengancam jalur perdagangan penting lainnya, yaitu Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah.

Dalam wawancara dengan Al Arabiya Business yang ditayangkan pada hari Kamis, Nasser menyatakan krisis yang telah berlangsung selama hampir delapan bulan ini telah menyebabkan pasar global kehilangan sekitar 3 miliar barel minyak.

"Dampak krisis ini terhadap pasar energi belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya. "Kita telah kehilangan sekitar 3 miliar barel sejak krisis ini dimulai. Perlu diingat bahwa kawasan Teluk menyumbang sekitar 20% dari permintaan minyak global."

Angka tersebut setara dengan konsumsi minyak global selama hampir satu bulan dan mencerminkan akumulasi hilangnya pasokan akibat gangguan pelayaran, penurunan produksi, serta hambatan logistik.

Nasser memperingatkan mengingat cadangan minyak global sudah berada di bawah rata-rata lima tahunan saat perang meletus, harga minyak sebenarnya bisa saja melonjak hingga melampaui USD200 per barel.

Ia menyebutkan bahwa langkah pelepasan cadangan darurat, pengurangan tajam impor minyak melalui jalur laut oleh China, serta penggunaan pipa East-West milik Saudi Aramco—yang tidak melewati Selat Hormuz—telah berhasil mencegah guncangan harga yang jauh lebih parah.

Namun, Nasser juga mengingatkan berakhirnya krisis ini pun dapat memberikan tekanan baru pada pasar minyak, karena pemulihan tingkat konsumsi serta upaya untuk mengisi kembali cadangan yang telah menipis kemungkinan besar akan memicu lonjakan permintaan lainnya.

"Begitu keadaan kembali normal, kami memperkirakan adanya tambahan permintaan sekitar 3 juta barel per hari—sekitar 2 juta berasal dari pertumbuhan konsumsi, dan 1 juta lainnya untuk mengisi kembali cadangan yang telah digunakan berbagai negara selama krisis," ujarnya.

Dia menambahkan lonjakan permintaan ini dapat membuat pasar tetap tertekan jauh setelah jalur pelayaran dibuka kembali.

Kekhawatiran akan Eskalasi Baru

Sementara itu, kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut kian meningkat seiring dengan kebuntuan dalam perundingan antara AS dan Iran.

Laporan pada hari Rabu menyebutkan Washington diam-diam menarik pasukannya dari pangkalan-pangkalan di Yordania, Qatar, dan Kuwait, mengevakuasi sejumlah diplomat beserta keluarganya dari Arab Saudi, serta bersiap melakukan penarikan serupa di lokasi lain.

Langkah pencegahan serupa juga pernah diambil menjelang serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Langkah-langkah ini menyusul penolakan Presiden AS Donald Trump bulan lalu terhadap usulan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Sebagai imbalannya, Teheran meminta AS untuk mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, melonggarkan pembatasan ekspor minyak, mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan, serta mengakhiri permusuhan di kawasan tersebut—termasuk operasi Israel di Gaza dan Lebanon.

Sejak saat itu, Washington dan Israel dilaporkan telah mendiskusikan kemungkinan serangan besar lainnya, yang mungkin akan terjadi tidak lama setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan secara terbuka telah melontarkan ancaman untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran, meskipun tanpa dukungan dari AS.

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Bos Perusahaan Minyak Arab Saudi Keluarkan Peringatan Pasokan Global
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 17:29 WIB
Netanyahu Perintahkan Penutupan Hebron dan Penguncian Penuh di Tepi Barat
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 16:29 WIB
6 Tentara Israel Terluka dalam Penembakan di Tepi Barat Dekat Hebron
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 15:17 WIB
Jenderal Rezaei Klaim Iran Belum Kerahkan Seluruh Kemampuan, Siap Perang Lagi
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 10:24 WIB