Presiden Vladimir Putin saat memantau uji coba rudal Rusia. Foto/Layanan Pers Kepresidenan Rusia/TASS
KYIV - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meyakini Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan berani menggunakan
bom nuklir dalam perang. Alasannya, tindakan semacam itu akan membuat Moskow kehilangan seluruh sekutunya sekaligus menciptakan preseden berbahaya bagi penggunaan senjata serupa dalam konflik-konflik lainnya.
Pernyataan Zelensky disampaikan dalam wawancara dengan Steven Bartlett di
podcast"The Diary of a CEO".
"Semua orang menyadari bahwa mereka (Rusia) bisa saja melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk. Namun, saya tidak berpikir mereka akan mengambil risiko menggunakan senjata nuklir. Sebab, saya yakin, setelah itu mereka tidak akan memiliki sekutu lagi, termasuk negara-negara seperti Amerika Serikat dan China," kata Zelensky.
Meski Zelensky menyebut Amerika Serikat sebagai sekutu Rusia, faktanya bukan. Justru Amerika yang selama ini mendukung Ukraina dalam perang melawan Rusia.
Zelensky menekankan bahwa penggunaan senjata nuklir, bahkan hanya satu kali, akan menciptakan preseden berbahaya bagi negara-negara pemilik senjata nuklir dan konflik-konflik lain di seluruh dunia.
"Maksud saya, jika satu negara bisa melakukan hal ini, maka ketika terjadi konflik di tempat lain—di benua lain, entahlah, misalnya di Timur Tengah—hal itu akan berarti bahwa jika senjata nuklir pernah digunakan satu kali, senjata tersebut bisa digunakan untuk kedua atau ketiga kalinya," ujarnya.
Presiden Ukraina itu kembali menegaskan bahwa dirinya tidak percaya Putin akan mengambil langkah tersebut. "Saya tidak berpikir Putin akan mengambil risiko menggunakan senjata nuklir. Namun, sekali lagi, kita berhadapan dengan seseorang dan sebuah sistem yang akan terus mempertahankannya hingga akhir hayatnya, dan dia juga akan terus mempertahankan sistem tersebut. Sebab, hanya ketika hidupnya berakhir, dia akan meninggalkan Kremlin dan secara fisik menyerahkan kekuasaan. Saya sangat yakin akan hal ini," imbuhnya, seperti dikutip dari
Mezha, Jumat (23/10/2026).
Pada awal bulan ini, Rusia mengancam akan menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara NATO di Eropa jika nekat memutus akses Moskow ke Kaliningrad, wilayah esklave-nya yang berbatasan dengan Laut Baltik.
Dalam sebuah dokumen yang dikirim kepada NATO dan dilihat Reuters, Moskow menuduh aliansi tersebut menempuh "jalur yang berbahaya dan ceroboh" yang mengandung "risiko tinggi pecahnya konflik bersenjata langsung."
Dokumen tersebut menyebut hal itu mencakup kemungkinan serangan Rusia terhadap pusat-pusat pengambilan keputusan di negara-negara anggota aliansi sejak tahap awal.
"Rusia siap menggunakan seluruh persenjataan dan kemampuan yang dimilikinya, termasuk senjata nuklir, untuk mempertahankan wilayahnya jika negara-negara NATO melakukan upaya apa pun yang bertujuan mengisolasi Wilayah Kaliningrad dari bagian negara lainnya," demikian isi nota diplomatik tersebut
Peringatan itu menyoroti kekhawatiran mendesak Moskow terhadap apa yang disebutnya sebagai ancaman NATO yang semakin besar terhadap Kaliningrad. Wilayah Rusia yang sangat termiliterisasi tersebut terjepit di antara Polandia dan Lithuania serta memiliki luas sedikit lebih besar dibandingkan negara bagian Connecticut di Amerika Serikat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pada saat itu mengutip pernyataan sejumlah tokoh dari negara-negara NATO yang menurutnya menunjukkan "Russophobia" atau sikap anti-Rusia serta kesiapan untuk berperang dengan Moskow. Tokoh-tokoh tersebut, kata Zakharova, "perlu disadarkan kembali pada kenyataan."
"Kami berharap peringatan kami akan didengar oleh mereka yang menjadi tujuan peringatan tersebut," ujarnya. "Jika Eropa menyerang Rusia, ini akan menjadi perang yang sama sekali berbeda—perang yang sangat singkat," lanjut Zakharova.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan aliansi tersebut telah menanggapi pesan Rusia dengan menyatakan: "Kami adalah aliansi defensif. Dan hentikan ancaman nuklir. Ini sama sekali tidak diperlukan dan tidak membantu."
Dalam tanggapannya terhadap dokumen Rusia, NATO mengatakan tidak ada satu pun "latihan atau aktivitas" mereka yang menimbulkan ancaman terhadap wilayah Federasi Rusia.
"Kami menyerukan kepada Federasi Rusia untuk mengakhiri invasi skala penuh yang tidak beralasan terhadap Ukraina. Kami mendesak Federasi Rusia menahan diri dari perilaku yang semakin ceroboh terhadap negara-negara anggota dan menghentikan retorika nuklirnya yang tidak bertanggung jawab," kata NATO.
Ketika ditanya apakah risiko penggunaan senjata nuklir terhadap negara-negara Baltik kini benar-benar nyata, Rutte mengatakan dalam konferensi pertahanan di Brussel yang diselenggarakan penyiar
Euronews: "Tidak, tidak demikian. [Presiden Rusia Vladimir] Putin tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa menang melawan NATO, jadi saya tidak menganggap ini terlalu serius."
(mas)