Kisah Kekeringan yang Melanda Madinah dan Mukjizat Doa Rasulullah

img-redaksi Widaningsih
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 17:40 WIB
Kisah  Kekeringan yang Melanda Madinah dan Mukjizat Doa Rasulullah
Kisah tentang kekeringan yang melanda Madinah di zaman Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam ini dan mukjizat doa Rasulullah ini diceritakan lengkap berdasarkan hadis riwayat Bukhari. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kisah tentang kekeringanyang melanda Madinah di zaman Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wassalam ini diceritakan lengkap berdasarkan hadis riwayat Bukhari.

Dikisahkan, suatu ketika di zaman Rasulullah SAW, Madinah saat itu mengalami musim kemarau berkepanjangan. Sumur-sumur penduduk mulai kehilangan isinya. Unta dan domba mereka sedikit demi sedikit mati karena kehausan. Pohon-pohon mulai layu dan kurang buahnya. Saking keringnya, jalan-jalan di Madinah mulai retak.

Suatu hari, seorang penduduk pun tergopoh-gopoh mendatangi Rasulullah seraya berkata, "Wahai Rasulullah, kami datang menemuimu karena binatang ternak kami telah mati kehausan dan jalanan sudah retak-retak."

"Maka berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami," lanjut salah satu penduduk Madinah.

Rasulullah pun mengiyakan permintaan orang tersebut kemudian mengangkat tangan, seraya berdoa: "Allahummas qinâ, Allahummas qinâ, Allahummas qinâ" (Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami)."

Sebelumnya para penduduk tidak pernah melihat adanya awan mendung, gumpalan awan, atau apapun di langit selama berbulan-bulan. Tetapi setelah Rasulullah memanjatkan doa, muncullah awan mendung hitam dari belakang bukit Sala'. Awan tersebut bagaikan lingkaran bergigi. Ketika awan hitam sampai di tengah dan menyebar, hujan pun turun dengan lebatnya sampai hari Jumat.

Dengan derasnya hujan yang turun, kemarau memang hilang, tetapi hal lain muncul yaitu banjir. Tak sedikit rumah yang digenangi air dan merusakan harta benda penghuninya. Kondisi ini tentu saja menganggu aktivitas sehar-hari para penduduk Madinah. Penduduk yang sama pun kembali menemui Rasulullah untuk memintanya berdoa kepada Allah Ta'ala agar hujan segera dihentikan.

"Wahai Rasulullah, harta benda telah hancur, dan jalanan terputus karena banjir. Maka berdoalah kepada Allah agar menghentikan hujan ini," pinta sang penduduk tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kembali mendengar permintaan penduduknya, menengadahkan tangan lagi untuk berdoa: "Allahumma hawâlaynâ wa lâ ‘alainâ" (Ya Allah, [turunkanlah hujan] di sekeliling kami, bukan [azab] atas kami)."

Tiba-tiba, awan mendung mendadak hilang dari langit Madinah dan berpencar ke berbagai arah. Awan tersebut melingkari daerah Madinah layaknya mahkota.

Dari kisah ini pun kemudian dijadikan sebagai nama sebuah masjid di Madinah, yang digunakan Rasulullah saat melakukan shalat dan memanjatkan doa untuk memohon kepada Allah agar segera diturunkan hujan. Masjid tersebut dinamakan Masjid Al Ghamamah alias Masjid Awan yang terletak di sebelah barat daya Masjid Nabawi.

Kisah lengkapnya terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid, dikatakan bahwa Nabi mengajak masyarakat pergi ke al-Mushalla (tanah lapang tempat salat) untuk melakukan salat istiqsa.

Kemudian Nabi Muhammad membalikkan selendangnya, dan salat dua rakaat mengimami masyarakat Madinah dengan mengeraskan bacaannya. Kemudian selesai melakukan salat istiqsa, hujan pun turun.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Kisah  Kekeringan yang Melanda Madinah dan Mukjizat Doa Rasulullah
Kalam
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 17:40 WIB
Tak Sekadar Peduli, Menjaga Alam Bernilai Sedekah Lho!
Kalam
Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:51 WIB
Body Shaming, Bukan Sekadar Bercanda tetapi Bisa Menjadi Dosa
Kalam
Selasa, 20 Oktober 2026 - 05:15 WIB