Salat Istisqo merupakan salat yang disyariatkan karena hujan tidak turun-turun atau sumber-sumber air mengering, salat sunnah ini memohon agar Allah SWT seera menurunkan hujan. Foto ilustrasi/ist
Tata cara
salat Istisqaini penting diketahui umat muslim, terutama saat musim kemarau panjang dan hujan belum turun juga. Salat Istisqa sendiri merupakan salat yang disyariatkan karena hujan tidak turun-turun atau sumber-sumber air mengering.
Disunahkan salat Istisqa pada saat penyebabnya muncul dan berakhir dengan hilangnya sebab. Misalnya, hujan turun atau mata air sudah kembali mengalir.
Sebelum mengetahui niat dan tata cara salat Istisqa, penting untuk memahami anjuran mengerjakan
salat sunnahini. Anjuran memohon hujan lewat jalan tobat dan istighfar ini bahkan disinggung dalam Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah SWT:
وَيٰقَوْمِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا وَّيَزِدْكُمْ قُوَّةً اِلٰى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِيْنَ
Artinya: "Dan (Hud berkata), 'Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.'" (QS. Hud: 52)
Para ulama menetapkan hukum salat istisqa sebagai sunnah muakkad, yakni sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan, baik oleh orang yang menetap (mukim) maupun musafir, terutama saat kemarau berlangsung lama tanpa tanda-tanda hujan akan turun.
Sebelum melaksanakannya, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar, bertaubat, dan introspeksi diri, karena kekeringan dalam pandangan syariat kerap dikaitkan dengan teguran atas perbuatan dosa yang perlu disesali. Sebagian ulama juga menganjurkan berpuasa selama tiga hari berturut-turut serta memperbanyak sedekah sebagai bentuk kesungguhan bertaubat sebelum hari pelaksanaan sholat.
Niat Salat Istisqa: Arab, Latin, dan Artinya
Niat salat istisqa dibaca dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram, sebagaimana niat salat sunnah pada umumnya. Redaksi niat sebagai imam:
اُصَلِّى سُنَّةَ الْاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ اِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:Ushalli sunnatal istisqaa'i rak'ataini imaaman lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat salat sunnah istisqa dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta'ala."
Sementara itu, bagi yang menjadi makmum, lafal niatnya sebagai berikut:
اُصَلِّى سُنَّةَ الْاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:Ushalli sunnatal istisqaa'i rak'ataini ma'muuman lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat salat sunnah istisqa dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta'ala."
Tata Cara Salat Istisqa
Dalam Fikih Manhaji, Imam Syafii menjelaskan, ada tiga cara yang disunahkan untuk salat istisqa. Yakni, minimal berdoa di waktu-waktu yang disukai, (sedang) yaitu berdoa setelah rukuk pada rakaat terakhir salat wajib dan usai salat, dan (maksimal) dilakukan pada salat istisqa dan dilaksanakan dengan tata caranya.
Berikut tata cara salat istisqa:
1. Imam atau wakilnya memerintahkan agar warga bertaubat secara benar, bersedekah kepada warga miskin, menghentikan kezhaliman serta mempererat persaudaraan, dan puasa empat hari berturut-turut. Ketiga hal itu disunahkan karena memiliki hubungan dengan dikabulkannya doa sebagaimana terekam dalam sejumlah hadis-hadis shahih.
2. Imam membawa mereka ke tanah lapang di hari keempat puasa. Pakaian yang mereka kenakan mencerminkan kerendahan, kekhusyukan, dan ketundukan. Imam atau wakilnya melakukan salat dua rakaat secara berjamaah persis seperti salat Id.
Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dan lainnya dijelaskan bahwa Ibnu Abbas berkata, "Rasulullah SAW muncul dalam pakaian yang tawadhu, penuh kekhusyukan dan ketundukan. Beliau salat dua rakaat seperti salat Id,".
3. Selesai salat imam pun berkhutbah dua kali, persis seperti khutbah salat Id. Bedanya, khutbah kali ini patut diawali dengan beristighfar sembilan kali waktu khutbah pertama, dan tujuh kali pada khutbah kedua.
Ketika khutbah kedua berlangsung hingga sepertiganya, khatib berpaling menghadap kiblat dan membelakangi jamaah. Ia mengubah posisi serban dengan memutar bagian atas hingga menjadi bagian bawah dan bagian bawah menjadi bagian atas. Bagian kanan ke kiri dan bagian kiri ke kanan.
Ini merupakan simbol ketundukan kepada Allah SWT. Kemudian, para jemaah juga disunahkan untuk melakukan hal yang sama. Khatib disunahkan pula untuk memperbanyak istighfar, berdoa, bertaubat, dan menundukkan diri kepada Allah SWT.
4. Disunahkan untuk membawa serta anak-anak keci;, orang usia lanjut, dan hewan ternah ke tanah lapang. Ini karena musibah menimpa semua orang. Selain itu, tidak sepatutnya kafir dzimmi (yakni) dilarang untuk menghadirinya.
Demikian tata cara salat Istisqa menurut mazhab Imam Syafi'i.
(wid)