Mengejutkan! Miliarder Loyalis Trump Menentang Perang AS vs Iran: 'Kita Seharusnya Tidak Melakukannya'

img-redaksi Muhaimin
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 09:03 WIB
Mengejutkan! Miliarder Loyalis Trump Menentang Perang AS vs Iran: Kita Seharusnya Tidak Melakukannya
Peter Thiel, miliarder pendukung setia Presiden Donald Trump, menentang perang Amerika Serikat melawan Iran. Foto/via CNBC
A
A
A
WASHINGTON - Miliarder Peter Thiel blakblakan menentang perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran. Sikapnya ini mengejutkan, karena sang miliarder merupakan salah satu pendukung paling setia Presiden Donald Trump.

Thiel, salah satu pendiri Palantir dan PayPal yang kekayaannya mencapai USD37 miliar menurut Forbes, mengungkapkan ketidaksetujuannya atas perang Iran dalam sebuah acara tertutup pada 12 Oktober. Acara itu merupakan bagian dari rangkaian kuliah yang disampaikannya di Nashville.

"Saya skeptis terhadap perang ini. Menurut saya, kita seharusnya tidak melakukannya," kata Thiel dalam rekaman audio yang diperoleh Politico. "Ada banyak kesalahan yang telah dilakukan," katanya lagi.

"Mungkin kita tidak memiliki hard power yang memadai. Mungkin kita akan kalah dalam perang soft power," imbuh dia, yang dilansir The New York Post, Jumat (23/10/2026).

Sepanjang kuliahnya, Thiel disebut secara terang-terangan menentang kaum neokonservatif dan perang di Timur Tengah. Namun, menurut laporan tersebut, dia tetap mendukung Trump.

Pernyataannya menjadi salah satu kritik paling keras terhadap operasi militer AS di Iran yang dilontarkan oleh sekutu dekat Trump. Operasi tersebut dimulai pada Februari.

Thiel merupakan tokoh terkemuka pertama dari Silicon Valley yang mendukung Trump dalam pemilihan presiden 2016. Saat itu, dia menyumbangkan USD1,25 juta untuk kampanye Trump dan berpidato dalam Konvensi Nasional Partai Republik.

Partai Republik kini berjuang mempertahankan kursi-kursi mereka di Kongres menjelang pemilu sela yang sangat dinantikan, di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat Amerika mengenai kondisi ekonomi.

Krisis Selat Hormuz di Timur Tengah telah mendorong lonjakan biaya energi global. Harga bensin di AS bertahan di atas USD4 per galon dan mengancam kenaikan harga berbagai barang, mulai dari makanan dan pakaian hingga furnitur dan mainan.

Dalam kuliahnya di Nashville, investor teknologi tersebut juga memperingatkan besarnya kekuasaan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Menurut laporan Politico, dia menyinggung komentar sejumlah anggota pemerintahan mantan Presiden George W. Bush, termasuk mendiang Donald Rumsfeld dan Dick Cheney.

"Saya menafsirkan sindrom kebencian terhadap Trump di kalangan keluarga Cheney sebagai upaya untuk mengambil hati ICC dan menghindari penuntutan. Mungkin sudah terlambat," kata Thiel.

"Dan saya mulai menduga bahwa ancaman surat perintah penangkapan ICC merupakan pedang Damokles yang menggantung di atas pemerintahan Trump ketika mereka berusaha melanjutkan perang di Iran ini."

Istilah pedang Damokles merujuk pada ancaman besar yang terus membayangi seseorang, meskipun ancaman tersebut belum tentu terwujud.

Thiel juga menceritakan pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada awal 2024, setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Menurut Thiel, Netanyahu mengatakan kepadanya, "Saya tidak bisa begitu saja mengubahnya menjadi Dresden."

Pernyataan itu merujuk pada pemboman Dresden, Jerman, oleh pasukan Sekutu selama Perang Dunia II. Serangan gabungan pasukan Inggris dan AS tersebut memicu badai kontroversi dan diperkirakan menewaskan sekitar 25.000 orang, sebagian besar warga sipil.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Pentagon Borong 850 Jet Tempur Siluman F-35 dari Lockheed Martin
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 06:10 WIB
Trump: AS Telah Lumpuhkan Iran, Rusia dan China Tak Banyak Berperan!
International
Kamis, 22 Oktober 2026 - 07:24 WIB