Rusia Bombardir Kyiv Beberapa Jam usai Sepakat Berunding Damai dengan Ukraina

img-redaksi Muhaimin
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 05:46 WIB
Rusia Bombardir Kyiv Beberapa Jam usai Sepakat Berunding Damai dengan Ukraina
Sebuah mobil hancur terbakar akibat serangan rudal Rusia di Kyiv, Ukraina, pada Kamis (22/10/2026) dini hari. Foto/X @ZelenskyyUa
A
A
A
KYIV - Rusia telah melancarkan serangan besar-besaran yang disebut sebagai serangan "demonstratif" terhadap Ukraina dengan menghujani Kyiv menggunakan rudal balistik. Serangan itu terjadi Kamis dini hari waktu setempat atau hanya beberapa jam setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan telah menyetujui dimulainya kembali perundingan damai tiga pihak, menyusul pembicaraan dengan utusan Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff.

Sepanjang Rabu malam, Moskow menggempur ibu kota Ukraina tersebut hingga menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai 22 lainnya, termasuk empat anak-anak. Sasaran serangan meliputi jembatan di bagian selatan yang melintasi Sungai Dnipro, rumah-rumah warga sipil, infrastruktur energi, pos ambulans, gedung perkantoran, dan sebuah klinik.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan tiga rudal yang digunakan dalam serangan tersebut dilengkapi hulu ledak munisi tandan. Salah satunya menghantam Distrik Pecherskyi dan merusak sejumlah bangunan bersejarah, termasuk sebuah biara.

"Ini adalah serangan lain yang mengungkapkan banyak hal secara luar biasa—mengungkapkan karena serangan ini bukanlah suatu kebetulan," kata Zelensky.

"Pemilihan senjatanya disengaja; pemilihan wilayah sasaran juga disengaja, begitu pula niat untuk menimbulkan kerugian dan kerusakan sebesar mungkin terhadap warga sipil," ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian, Jumat (23/10/2026).

Dia mengatakan serangan tersebut menunjukkan bahwa Rusia tidak serius mengupayakan perdamaian.

"Hampir segera setelah putaran perundingan lainnya, Rusia melancarkan serangan yang sangat terarah. Ini berarti tidak ada perubahan nyata dalam sikap Rusia terhadap segala sesuatu yang sedang terjadi," lanjut Zelensky.

Witkoff Puji Putin sebagai Sosok Humanis



Dalam perundingan yang berlangsung di St Petersburg pada Rabu, Witkoff melontarkan pujian kepada Putin yang duduk berhadapan dengannya di meja perundingan.

"Anda sering sekali berbicara tentang presiden saya, Presiden [Donald] Trump, sebagai seorang humanis. Anda juga seorang humanis, Tuan, dan saya menghormati hal itu," kata Witkoff.

Dalam unggahan di media sosial setelah serangan pada Kamis dini hari, Zelensky membalas pernyataan tersebut dengan nada menyindir.

"Tiga gelombang rudal balistik telah diluncurkan ke Kyiv oleh para ‘humanis' Rusia sejak kemarin malam. Mereka menggunakan 21 rudal," tulis Zelensky.

Zelensky mengatakan dirinya berterima kasih kepada mitra-mitra Ukraina di negara-negara Barat yang mampu melihat "situasi sebagaimana adanya" dan "mengakui kenyataan" bahwa Kremlin hanya memiliki sedikit niat untuk menghentikan perang.

Dia menyerukan penguatan pertahanan udara, penambahan rudal pencegat Patriot untuk menjatuhkan rudal musuh, serta penerapan sanksi yang lebih keras terhadap Moskow.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menegaskan bahwa sikap "akomodatif terhadap agresor, kepatuhan berlebihan, dan pujian yang berlebihan" tidak akan menghentikan agresi Rusia.

Kantor Perdana Menteri Inggris di Downing Street mengatakan pihaknya tidak sependapat dengan gambaran Witkoff mengenai Putin. Pemerintah Inggris menyoroti bahwa pemimpin Rusia tersebut telah membunuh "ribuan" warga Ukraina dan tentara Rusia sendiri yang bertugas di garis depan.

Pada Rabu, penasihat urusan luar negeri Kremlin Yuri Ushakov mengatakan Putin pada prinsipnya telah menyetujui dimulainya kembali perundingan tiga pihak yang melibatkan Rusia, AS, dan Ukraina setelah 10 November, atau sepekan setelah pemilu sela AS.

Namun, para pejabat di Kyiv meyakini bahwa tujuan Rusia yang sebenarnya dalam beberapa pekan mendatang adalah menghancurkan infrastruktur energi Ukraina. Langkah tersebut berpotensi membuat jutaan orang kehilangan listrik dan menghadapi suhu dingin tanpa pemanas menjelang musim dingin.

Menurut Zelensky, AS telah kembali memberikan peringatan intelijen mengenai kemungkinan serangan rudal Rusia.

The Wall Street Journal melaporkan pada Kamis bahwa Trump telah menelepon Elon Musk untuk meminta agar pembatasan layanan Starshield dihentikan. Starshield merupakan versi militer dari sistem internet satelit Starlink milik Musk.

Pembatasan layanan tersebut sebelumnya membuat Ukraina kesulitan mencegat drone musuh dan melancarkan serangan medan perang jarak menengah.

Sejumlah pejabat Ukraina dilaporkan mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa kinerja sistem itu sedikit membaik setelah panggilan telepon tersebut. Namun, pejabat lainnya menyatakan bahwa penggunaannya masih sangat dibatasi.

The New York Times melaporkan bahwa ketika pembatasan diberlakukan pekan lalu, puluhan drone bersenjata yang sedang menuju sasaran militer Rusia jatuh dari langit.

Menurut surat kabar tersebut, tayangan video yang memperlihatkan jalur penerbangan drone tiba-tiba menjadi kabur ketika koneksi dengan Starshield terputus.

Vladimir, seorang komandan sebuah unit pertahanan udara yang melindungi Kyiv, mengatakan pembatasan AS telah menghambat kemampuan unitnya untuk mencegat drone Rusia.

"Tentu saja, hal itu menghambat kami. Drone-drone kami tidak lagi dapat mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mencegat sasaran musuh," katanya.

Dia menambahkan bahwa dirinya merasa dikhianati oleh Washington.

Keputusan yang melumpuhkan sebagian program drone Ukraina yang selama ini berhasil tersebut terjadi di tengah perselisihan paling serius antara Washington dan Kyiv sejak invasi besar-besaran Rusia hampir lima tahun lalu.

Perselisihan itu bermula setelah Trump mengumumkan pencabutan sanksi terhadap diesel Rusia untuk menurunkan harga bahan bakar di AS. Zelensky mengkritik langkah tersebut sebagai tindakan yang "lemah".

Pemerintahan Trump membantah sengaja membantu Rusia. Namun, para diplomat Eropa mengakui bahwa AS tampaknya telah berganti pihak dalam konflik tersebut.

Mereka mengatakan warga sipil Ukraina harus menanggung akibatnya, termasuk kehilangan nyawa.

Sementara itu, Rusia mengeklaim telah menembak jatuh ratusan drone Ukraina yang diluncurkan dalam serangan sepanjang malam.

Pihak berwenang setempat mengatakan seorang pria tewas dan seorang lainnya terluka akibat serangan udara Ukraina di wilayah Belgorod, Rusia.

Ukraina Balas Serang Rusia via Terowongan



Di sisi lain, muncul rincian mengenai serangan balasan Ukraina melalui sebuah terowongan di kota Kupiansk, Ukraina timur laut, yang sebagian wilayahnya diduduki Rusia.

Sebagai bagian dari Operasi Veles, Korps Khartia melancarkan operasi serangan balasan bawah tanah yang disebut sebagai yang pertama di dunia. Pasukan Ukraina dilaporkan berhasil menembus sejauh 15 kilometer ke wilayah belakang garis pertahanan musuh.

"Kami mengamati bagaimana musuh beroperasi di bawah tanah dan mempelajari metode mereka. Rusia bermaksud menggunakan jaringan pipa gas untuk menyusup ke wilayah belakang pasukan kami. Karena itu, kami memutuskan untuk bergerak di bawah tanah sendiri," kata Komandan Korps Khartia, Brigadir Jenderal Ihor Obolienskyi, kepada media Ukraina.

Para tentara Ukraina merangkak sejauh 15 kilometer melalui terowongan tanpa komunikasi, GPS, maupun penerangan. Sebelum operasi berlangsung, mereka telah mengembangkan teknologi navigasi dan sistem penunjang kehidupan sendiri.

Korps Khartia menyatakan sekitar 100 tentara Rusia tewas dalam operasi tersebut, sementara 30 lainnya ditawan.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Imbas Kerusuhan, Macron Larang Demo yang Dinilai Tidak Sah di Prancis
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 09:50 WIB
Putin: Eropa Mengalami Skizofrenia Politik, Mereka Tak Bisa Kalahkan Rusia!
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 08:30 WIB
Rusia Bombardir Kyiv Beberapa Jam usai Sepakat Berunding Damai dengan Ukraina
International
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 05:46 WIB
Putin, Xi Jinping, dan Trump Mungkin akan Gelar Pertemuan Puncak Bersejarah
International
Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:06 WIB