Pangkalan Udara Qasrak berada di bawah kendali tentara Suriah menyusul penarikan pasukan AS dari wilayah tersebut, di Hasakah, Suriah, pada 16 April 2026. Foto/Mitib Hüseyin/Anadolu Agency
DAMASKUS - Delegasi militer Suriah telah membahas, di Arab Saudi, rencana pengerahan sekitar 10.000 pejuang Suriah—dan kemungkinan juga kombatan asing—ke Yaman untuk melawan gerakan Houthi. Demikian dilaporkan surat kabar Lebanon, Al-Akhbar, dengan mengutip sumber-sumber dari Yaman.
Delegasi tersebut dilaporkan mencakup Brigadir Jenderal Khaled Khattab, mantan komandan faksi Ansar al-Tawhid sekaligus kepala Divisi ke-82, serta Brigadir Jenderal Haitham al-Ali—yang dikenal dengan julukan Abu Muslim—komandan Korps Ketiga dan mantan anggota Hay'at Tahrir al-Sham.
Reuters dan Axios melaporkan pada 7 Oktober bahwa Riyadh dan Damaskus telah mendiskusikan pengiriman pasukan Suriah ke Yaman.
Axios memperkirakan jumlah personel yang mungkin dikerahkan berkisar antara 10.000 hingga 20.000 pejuang, dengan Divisi ke-84 dan ke-90 sebagai opsi yang dipertimbangkan.
Namun, penasihat media kepresidenan Suriah, Ahmed Zaidan, membantah Suriah telah menerima permintaan dari Arab Saudi. Seorang diplomat Suriah menyatakan kerja sama militer apa pun harus melalui jalur resmi, seraya menegaskan pemulihan kondisi dalam negeri tetap menjadi prioritas bagi Damaskus.
Al-Akhbar juga melaporkan, dengan mengutip sumber yang dekat dengan pemerintah yang berbasis di Aden, bahwa puluhan pelatih pesawat nirawak (drone) asal Suriah telah ditempatkan di sejumlah lokasi di Arab Saudi bagian selatan dan Yaman.
Mereka melatih anggota pasukan "Perisai Bangsa" (Nation's Shield) dan "Brigade Raksasa" (Giants Brigades).
Surat kabar tersebut menambahkan para operator drone asal Suriah juga telah membentuk unit-unit di dalam Pasukan Darurat (Emergency Forces) di Arab Saudi. Sumber-sumber di Sanaa menduga adanya keterlibatan pihak asing di wilayah selatan Selat Bab al-Mandab, termasuk kehadiran terbatas dari Pakistan.
Seorang sumber militer di Sanaa mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa keterlibatan Suriah kemungkinan besar bersifat tidak resmi. Sumber itu menuding Amerika Serikat, Turki, Qatar, dan Arab Saudi memfasilitasi pemindahan militan sebagai bagian dari operasi intelijen rahasia.
Surat kabar itu juga mengutip laporan dari Sham TV yang menyebutkan para pejuang asing direkrut dengan iming-iming gaji dan insentif—termasuk kesempatan menunaikan ibadah haji dan umrah—serta janji keluarga mereka akan didatangkan kemudian.
Para analis memperingatkan petempur yang berasal dari etnis Uighur, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, Chechnya, Albania, serta berbagai negara Arab, dapat dipindahkan ke Yaman.
Mereka juga melontarkan kekhawatiran bahwa Brigade Tawhid dan pusat-pusat pendidikan Salafi di Yaman selatan—yang menurut berbagai sumber didukung oleh Riyadh—dapat digunakan untuk memicu konflik sektarian dan menghambat pembangunan.
(sya)