Kemarau Panjang, Ini Amalan yang Dianjurkan agar Hujan Turun

img-redaksi Widaningsih
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 05:15 WIB
Kemarau Panjang, Ini Amalan yang Dianjurkan agar Hujan Turun
Kemarau panjang, ikhtiar agar hujan segara turun tidak hanya diwujudkan melalui doa dan salat istisqa, .umat Islam juga dianjurkan memperbanyak istigfar, bertobat, bersedekah, serta meninggalkan kezaliman. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Di tengah cuaca panas dan ancaman kebakaran hutan di sejumlah wilayah, hujan menjadi harapan banyak orang. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi kekeringan, termasuk melalui teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan. Lantas, bagaimana Islam mengajarkan umatnya menyikapi kondisi ketika hujan tak kunjung turun?

Dalam Islam, salah satu ikhtiar yang dianjurkan ketika terjadi kekeringan adalah melaksanakan salat istisqa, yakni salat sunnah untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.

Namun, ikhtiar tersebut tidak hanya diwujudkan melalui doa dan salat. Umat Islam juga dianjurkan memperbanyak istigfar, bertobat, bersedekah, serta meninggalkan kezaliman. Semua itu merupakan bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memperbaiki hubungan antarmanusia.

Pembahasan mengenai salat istisqa dijelaskan oleh Al-Qadhi Abu Syuja dalam kitab Matan Abu Syuja atau Al-Ghayah wa al-Taqrib, salah satu kitab fikih mazhab Syafi'i.

Salat Istisqa dan Amalan yang Dianjurkan

Al-Qadhi Abu Syuja menjelaskan bahwa salat istisqa hukumnya sunnah. Sebelum pelaksanaannya, pemimpin dianjurkan mengajak masyarakat untuk bertobat, bersedekah, meninggalkan kezaliman, berdamai dengan pihak yang bermusuhan, dan berpuasa selama tiga hari.

Setelah itu, mereka keluar untuk melaksanakan salat istisqa pada hari keempat dengan mengenakan pakaian sederhana, menunjukkan ketundukan, serta merendahkan diri di hadapan Allah SWT.

Salat istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan tata cara yang menyerupai salat Id. Setelah salat, imam menyampaikan khotbah, memperbanyak doa dan istigfar, serta membalik selendangnya sebagai bagian dari tata cara yang dijelaskan dalam fikih mazhab Syafi'i.

Anjuran bertobat dan memohon ampun mengingatkan umat Islam agar tidak hanya berfokus pada harapan turunnya hujan, tetapi juga melakukan introspeksi dan memperbaiki perilaku.

Memperbanyak Istigfar dan Memohon Ampunan Allah

Salah satu ayat Al-Qur'an yang kerap dikaitkan dengan istigfar dan turunnya hujan terdapat dalam Surah Nuh ayat 10–11.

Allah SWT berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا


Artinya: "Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.'" (QS Nuh: 10–11).

Ayat tersebut mengandung ajakan untuk memperbanyak istigfar dan kembali kepada Allah SWT. Istigfar bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan juga perlu disertai penyesalan atas dosa dan tekad untuk memperbaiki diri.

Selain memohon ampun, umat Islam dianjurkan memperbanyak sedekah dan menghentikan tindakan zalim. Upaya ini mencerminkan kesungguhan dalam memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Meski demikian, kekeringan tidak serta-merta menjadi bukti bahwa seseorang atau suatu masyarakat sedang menerima hukuman akibat dosa tertentu. Bencana dan perubahan cuaca memiliki beragam sebab yang perlu dipahami secara bijak, termasuk dari sisi alam dan lingkungan.

Doa Memohon Hujan agar Membawa Rahmat

Dalam pembahasan salat istisqa, Al-Qadhi Abu Syuja juga mencantumkan doa untuk memohon hujan yang membawa manfaat, bukan bencana.

Salah satu doa yang dikenal dalam hadis ketika Rasulullah SAW memohon hujan adalah:

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا


Artinya: "Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami."

Doa tersebut diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan konteks permohonan hujan oleh Rasulullah SAW.

Umat Islam juga dapat memohon agar hujan yang turun membawa keberkahan, menyuburkan tanaman, mengisi sumber air, dan memenuhi kebutuhan manusia serta makhluk hidup lainnya. Pada saat yang sama, umat dianjurkan memohon perlindungan dari hujan yang menimbulkan banjir dan kerusakan.

Hal ini menunjukkan bahwa hujan dalam pandangan Islam bukan sekadar fenomena alam, melainkan nikmat Allah yang perlu disyukuri dan dimanfaatkan dengan penuh tanggung jawab.

Ikhtiar Menghadapi Kekeringan Tetap Diperlukan

Selain berdoa dan melaksanakan shalat istisqa, masyarakat tetap perlu melakukan ikhtiar nyata untuk menghadapi kekeringan. Menghemat air, menjaga sumber mata air, merawat kawasan hutan, serta mencegah pembakaran lahan merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko kerusakan lingkungan.

Teknologi modifikasi cuaca juga dapat menjadi salah satu upaya teknis yang dilakukan pihak berwenang sesuai kondisi dan kajian ilmiah. Ikhtiar tersebut tidak bertentangan dengan doa dan ibadah, karena keduanya dapat berjalan beriringan.

Pada akhirnya, shalat istisqa mengajarkan umat Islam untuk menyadari keterbatasan manusia dan memohon pertolongan Allah SWT. Sementara itu, istigfar, tobat, sedekah, dan meninggalkan kezaliman menjadi pengingat agar manusia terus memperbaiki diri.

Menghadapi kemarau panjang, umat Islam dapat memadukan doa, ibadah, kepedulian sosial, dan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan. Dengan demikian, harapan akan turunnya hujan juga diiringi tanggung jawab untuk merawat bumi dan menggunakan sumber daya alam secara bijaksana. Wallahu a'lam.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Tata Cara Salat Istisqa, Amalan  agar Hujan Segera Turun
Kalam
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 09:49 WIB
Kemarau Panjang, Ini Amalan yang Dianjurkan agar Hujan Turun
Kalam
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 05:15 WIB
7 Adab Islam terhadap Alam, Nomor 6 Sering Diabaikan
Kalam
Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:20 WIB
Membakar Hutan Hukumnya Haram? Ini Landasan Fikihnya
Kalam
Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:53 WIB