Kapal tanker terbakar setelah mengenai ranjau di Selat Hormuz. Foto/mehr
TEHERAN - Alexandru Hudisteanu, seorang pakar keamanan maritim, menyoroti serangan Iran baru-baru ini yang menyasar kapal-kapal komersial. Menurut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kapal-kapal tersebut melintasi Selat Hormuz tanpa izin.
IRGC telah memperingatkan jika pergerakan semacam itu terus berlanjut, Teheran akan memperluas serangan hingga menyasar pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
"Ini juga merupakan cara Iran memberikan isyarat mengenai daftar target potensial—termasuk pangkalan-pangkalan di kawasan ini serta kepentingan perusahaan-perusahaan Amerika," ujarnya, seraya menambahkan AS pun membalas dengan isyarat strategisnya sendiri.
"Saat ini, kita berada di tingkat bahaya yang cukup maksimal di Selat Hormuz," kata Hudisteanu, seraya mencatat retorika dari kedua belah pihak "tidak membantu meredakan ketegangan".
Dia menjelaskan, "Pembicaraan yang berlangsung sangat alot dan sulit untuk mencapai kemajuan, karena pada dasarnya, kedua pihak belum menyepakati apa pun saat ini."
Sementara itu, harga kontrak minyak naik lebih dari tiga persen menjadi USD112,55 per barel.
Ini merupakan tingkat tertinggi sejak bulan Mei.
Dalam pernyataannya, IRGC tidak mengungkapkan identitas maupun kewarganegaraan kapal-kapal yang diserang di Selat Hormuz. Namun, empat kapal di antaranya diserang secara langsung karena dianggap melanggar aturan yang ditetapkan Iran terkait aktivitas komersial apa pun yang melalui selat tersebut.
Meskipun jumlah kapal yang terlibat bervariasi dari hari ke hari, situasi ini telah terjadi hampir setiap hari sejak awal konflik, terutama dalam beberapa pekan terakhir.
Pernyataan dari IRGC ini sangat menarik. Pernyataan tersebut mengisyaratkan—atau bahkan secara langsung menyebutkan—kemungkinan perluasan respons Iran, dengan menuduh AS sebagai pihak di balik berlanjutnya apa yang mereka sebut sebagai "pelanggaran" tersebut.
Jika situasi ini terus berlanjut, Iran mungkin tidak hanya akan menyerang kapal-kapal tersebut di masa depan, tetapi juga bisa membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan itu—langkah yang diperkirakan banyak pihak akan memicu kembalinya konflik langsung antara kedua belah pihak.
(sya)