Satu Dekade RSAF Cinta Quran, 87.000 Jam Menemani Pejuang Kesembuhan

img-redaksi Tim SINDOnews
Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:26 WIB
Satu Dekade RSAF Cinta Quran,  87.000 Jam Menemani Pejuang Kesembuhan
Perayaan satu dekade RSAF Cinta Quran, 10 Oktober 2026 lalu. Foto dok cinta quran foundation
A
A
A
Selama satu dekade, Rumah Singgah Al-Fatih (RSAF) menjadi tempat bernaung bagi keluarga yang mendampingi anaknya berobat jauh dari rumah. Di bawah naungan Cinta Quran Foundation, RSAF genap berusia 10 tahun pada 10 Oktober 2026. Selama itu, ada 3.650 malam dan 87.600 jam yang dilalui untuk menemani Pejuang Kesembuhan, meski bukan anak sendiri.

Sepuluh tahun bukan sekedar usia. Ada lebih dari 550 Pejuang Kesembuhan yang telah didampingi, datang dari 35 kabupaten dan kota. Sebagian telah sembuh, sebagian lainnya masih menjalani pengobatan. Ada pula anak-anak yang telah berpulang menunggu orang tuanya di surga.

Pada peringatan satu dekade RSAF di Bandung, 18 Oktober 2026, perjalanan panjang itu kembali dikenang. Bagi Founder RSAF, Kasviansyah, sepuluh tahun mendampingi para Pejuang Kesembuhan menghadirkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

"Wah, sulit untuk disampaikan dengan kata-kata, nggak ada yang bisa dipakai untuk mengungkap itu. Yang jelas, rasanya semua usaha, upaya juga lelah karena lillah untuk mendampingi mereka, sampai kembali sehat dan bisa beraktivitas kembali dengan bahagia dan bugar bersama keluarganya, seperti terbayarkan semua," kata lelaki yang kerap disapa Kang Avin.

Bagi keluarga pasien, perjuangan tak hanya saat menghadapi penyakit. Ada ongkos perjalanan, tempat tinggal, makan sehari-hari, obat-obatan yang tak seluruhnya ditanggung BPJS, hingga kebutuhan pendamping selama masa perawatan. Ketika pengobatan berlangsung lama, persoalan itu bisa menjadi beban yang sama beratnya dengan penyakit itu sendiri.

Di situlah RSAF ambil bagian. RSAF menyediakan tempat tinggal sementara, makan dan minum, layanan antar-jemput ambulans, bantuan nutrisi dan obat-obatan, hingga alat penunjang kesehatan. Orang tua yang kehilangan sumber penghasilan juga bisa memperoleh pendampingan ekonomi agar tetap memiliki pegangan ketika harus menemani anak berobat.

Semua itu diberikan secara gratis. Sebab, bagi mereka biaya tambahan sekecil apa pun bisa menjadi alasan untuk menunda pengobatan.

Namun, sepuluh tahun perjalanan RSAF bukan hanya cerita tentang bantuan yang diberikan. Ada anak-anak yang perlahan bangkit dan mampu menjalani kehidupannya secara normal.

Salah satunya Livia, perempuan berusia 20 tahun asal Tasikmalaya yang didiagnosis osteosarkoma atau kanker tulang. Ia mulai menjalani pendampingan RSAF ketika berusia 14 tahun, saat masih duduk di bangku SMP.

Dalam perjalanannya, Livia harus menghadapi kenyataan bahwa kakinya perlu diamputasi. Ia kemudian menggunakan kaki prostetik untuk kembali beraktivitas. Perjuangan itu tak mudah, apalagi bagi sosok yang seharusnya masih sibuk memikirkan pendidikan dan cita-cita.

Kini, pengobatan Livia telah rampung. Ia mulai menjalani kehidupan seperti orang pada umumnya, terlebih sekarang dirinya bekerja sebagai desainer kreatif.

Kisah lain datang dari Ara, atau Arafah Khoirunnisa, yang kini berusia empat tahun. Ibunya, Lasmi, mulai mengenal RSAF ketika Ara berusia dua tahun. Sebelum itu, selama dua tahun sejak kelahiran Ara, keluarganya berjuang mencari jawaban atas kondisi kesehatan sang anak.

Sejak baru lahir, Ara mengalami kulit kuning dan pertumbuhannya tidak optimal selama berbulan-bulan. Setelah menjalani berbagai upaya, ia akhirnya didiagnosis mengalami Total AV Block, kelainan pada sistem penghantaran listrik jantung yang membuat detak jantung tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Berbagai cara ditempuh demi kesembuhan anaknya, bahkan sampai menjual tanah dan harta yang dimiliki. Di tengah kecemasan terhadap kondisi Ara, ia juga harus menghadapi persoalan psikologis di rumah. "Kakaknya yang nomor dua protes, kenapa yang diperhatikan Ara terus," kenangnya.

Pertemuan dengan RSAF menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Lasmi bersyukur karena akhirnya menemukan pihak yang bersedia mendampingi Ara melewati proses pengobatan.

"RSAF saya dah nggak bisa diucapkan dengan kata-kata. Alhamdulillah sekali sudah bisa ketemu dan mendampingi kami, sampai Ara seperti ini, sehat dan aktif," ujarnya.

Livia dan Ara hanyalah dua dari ratusan Pejuang Kesembuhan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan RSAF. Tercatat sekitar 120 orang telah sembuh, 141 orang masih didampingi, 174 orang mengalami penundaan pengobatan, dan 115 orang telah berpulang.

Di balik layanan RSAF, ada pula kerja yang mungkin tak selalu terlihat. Sepanjang 2025, ambulans RSAF tercatat menempuh jarak 154.725 kilometer, mengemban amanah untuk menjemput dan mengantar pasien ke rumah sakit, atau membantu keluarga menjangkau layanan kesehatan.

RSAF juga membantu sekitar 300 resep obat setiap tahun dan telah mendampingi lebih dari 50 keluarga melalui program ekonomi. Salah satu upayanya adalah membantu orang tua pasien memperoleh sumber penghasilan, termasuk melalui usaha peternakan domba.

Namun, Avin menyadari bahwa apa yang dilakukan RSAF belum cukup. Saat ini, memang ada enam ambulans gratis melayani kebutuhan pasien di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun, masih banyak keluarga yang kesulitan memperoleh obat, membayar transportasi, atau sekadar menemukan tempat tinggal selama anaknya dirawat.

Mimpi Avin pun tidak berhenti di Bandung. Upaya memperluas pendampingan mulai menjangkau kota lain. Pada akhir Januari 2025, Rumah Singgah Al-Fatih Yogyakarta resmi berdiri.

Ke depan, Avin berharap RSAF bisa hadir di kota-kota besar lainnya, seperti Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Ia membayangkan rumah singgah yang berdekatan dengan rumah sakit rujukan nasional, sehingga keluarga dari daerah lain tidak harus menghadapi perjalanan panjang tanpa tempat bernaung.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait