Pakai Bahasa Jawa, Anggota DPR Malaysia Desak Prabowo Atasi Karhutla: 'Pak, Enggal Ditangani...'

img-redaksi Muhaimin
Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:50 WIB
Pakai Bahasa Jawa, Anggota DPR Malaysia Desak Prabowo Atasi Karhutla: Pak, Enggal Ditangani...
Kalam Salan, anggota DPR Malaysia, berpidato dalam bahasa Jawa ketika mendesak Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang memicu krisis kabut asap lintas batas. Foto/YouTube/New Straits Times
A
A
A
KUALA LUMPUR - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Malaysia, Kalam Salan, menggunakan bahasa Jawa ketika berpidato mendesak Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu krisis kabut asap lintas batas.

Dia mengatakan kabut asap tersebut telah berdampak buruk bagi kesehatan para warga Malaysia. Mengutip laporan dari The Star, Kamis (22/10/2026), Kalam sengaja berpidato dalam bahasa Jawa saat sidang Parlemen pada hari Rabu dengan alasan banyak pejabat Indonesia merupakan keturunan Jawa.

"Izinkan saya, dengan izin pembicara, untuk berbicara dalam bahasa Jawa. Assalamualaikum Bapak Prabowo, pripun kabare? Paringi waras nggih? (Bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat, ya?)" tuturnya.

"Pak, asap songko kobongan alas kuwi nggawe wong Malaysia susah arep ambegan. Akeh sing watuk, tenggorokane podho gatel, lan sesek ambegane (Pak, asap dari kebakaran hutan itu membuat orang Malaysia kesulitan bernapas. Banyak yang batuk, tenggorokannya gatal, dan sesak napas," ujarnya.

"Pak Prabowo, tulung masalah iki enggal ditangani. Kobongan alas kudu dipateni. Ojo meneh-meneh saben taun Malaysia lan Indonesia podho nandhang susah mergo asap. Kita kabeh pengin langit padhang gumebyar, udarane resik, ambegane lego, lan uripe sehat saklawase. Kulo matur nuwun, Bapak Presiden (Pak Prabowo, mohon agar masalah ini segera ditangani. Kebakaran hutan harus dipadamkan. Jangan sampai setiap tahun Malaysia dan Indonesia terus menderita karena kabut asap. Kita semua mendambakan langit yang cerah, udara yang bersih, napas yang lega, dan kehidupan yang sehat selamanya. Terima kasih, Bapak Presiden," imbuh dia.

Lebih lanjut, Kalam mengkritik pernyataan Kepala Badan Komunikasi Nasional Indonesia (Bakom RI), Syahganda Nainggolan, yang sempat melontarkan gagasan bahwa hutan Indonesia menyediakan oksigen bagi Malaysia. Dia menepis anggapan tersebut dengan menegaskan bahwa Malaysia juga memiliki hutan dan pepohonan.

"Jangan jadikan masalah ini sebagai bahan candaan dengan mengeklaim bahwa hutan Indonesia menyediakan oksigen untuk Malaysia. Apakah pepohonan di Malaysia terbuat dari plastik? Apakah pohon-pohon tersebut tidak bisa menghasilkan oksigen?" katanya.

Sebelumnya, anggota Parlemen Malaysia lainnya, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, mendesak ASEAN untuk memberikan tekanan kepada Indonesia terkait masalah kabut asap. Dia mengusulkan tiga bentuk tekanan, yakni protes diplomatik regional yang terkoordinasi, pembatasan pendanaan bagi perusahaan yang terlibat dalam praktik pembakaran lahan, serta tekanan ekonomi dari pihak konsumen.

Syed Saddiq menyatakan bahwa protes diplomatik harus disampaikan oleh ASEAN sebagai satu kesatuan blok, bukan hanya oleh Malaysia sendiri, karena tekanan regional akan memiliki bobot yang lebih besar.

Dia berpendapat bahwa negara yang bertanggung jawab harus diperlakukan sebagai pihak yang dikucilkan di kawasan ASEAN. "Anda harus memperlakukan mereka sebagai pihak yang dikucilkan," ujarnya.

Dalam pernyataan terbaru, Syed Saddiq menyatakan bahwa pihak yang menyebabkan polusi harus ditindak tanpa memandang kewarganegaraan.

"Ini bukan perang antara Malaysia dan Indonesia. Bendera kita mungkin berbeda, tetapi saat kita kesulitan bernapas, kita menghadapi masalah yang sama," katanya.

"Jika perusahaan Malaysia yang bersalah, atau jika perusahaan Singapura yang bersalah, maka mereka harus dihukum jika terbukti bersalah. Saya tidak akan melindungi pihak yang menyebabkan polusi, bahkan jika mereka berasal dari negara saya sendiri," ujarnya dalam video yang diunggah di Instagram.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Antisipasi Sanksi Barat, China Tambah Cadangan Emas hingga 2.410 Ton
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:43 WIB
Dirumorkan Meninggal, Kim Jong-un Muncul di Pameran Korea Utara
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:22 WIB