Muhammad Sadeq, pria Afghanistan yang memiliki 4 istri dan 58 anak. Dia terus menambah keturunan meski hidup dalam kemiskinan ekstrem. Foto/X @Azazahamad1999
KABUL - Di Afghanistan, seorang pria yang memiliki 58 anak dari empat istri terus menambah jumlah anggota keluarganya, meskipun dia kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar sekalipun.
Menurut laporan
BBC Global Women, Rabu (21/10/2026), Muhammad Sadeq telah menjadi ayah bagi lebih dari 70 anak, dengan 58 di antaranya masih hidup.
Anak bungsunya baru berusia tiga bulan. Keluarga ini hidup dalam kemiskinan ekstrem, menempati rumah-rumah dari tanah liat yang tidak memiliki pintu atau jendela yang layak.
Tirai tipis di rumah-rumah tersebut hanya memberikan perlindungan yang minim, sementara kertas sering digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak karena mereka tidak mampu membeli kayu bakar.
Terkadang, anak-anak harus tidur dalam keadaan lapar, dan banyak di antara mereka yang berjalan tanpa alas kaki karena keluarga tersebut tidak mampu membelikan sepatu.
Sadeq mengungkapkan bahwa dia bekerja di sebuah tempat penjualan mobil, di mana dia mendapatkan penghasilan sebesar 1.000 Afghani (sekitar USD15) untuk setiap mobil yang berhasil dia jual. Ini merupakan satu-satunya sumber pendapatan keluarga, yang membuatnya kesulitan untuk menyediakan makanan serta kebutuhan pokok lainnya bagi anak-anaknya.
Dalam sebuah wawancara dengan
BBC, Sadeq mengakui bahwa dia tidak bisa mengingat nama semua anaknya karena jumlah mereka yang terlalu banyak.
"Saya tidak bisa mengingat nama mereka semua. Sering kali, saya hanya memanggil mereka 'nak' atau 'anak'," ujarnya.
Dia juga mengakui bahwa dirinya telah gagal memenuhi tanggung jawabnya terhadap keluarga.
Sadeq menuturkan bahwa keempat istri dia nikahi pada usia muda—sebuah praktik yang hingga kini masih menjadi keprihatinan di Afghanistan.
Dia juga menyebutkan bahwa beberapa anaknya meninggal saat masih kecil, dan mengaitkan sebagian kematian tersebut dengan kurangnya pengalaman para ibu dalam mengasuh anak.
"Saya menikahi istri-istri saya saat mereka masih muda. Banyak anak saya meninggal karena ibu mereka masih sangat belia. Mereka tidak tahu cara merawat anak, menyusui, atau mengurus mereka. Beberapa anak saya meninggal karena tuberkulosis, batuk rejan, dan campak," jelasnya.
Merenungkan kondisinya saat ini, Sadeq mengakui bahwa dia tidak akan memiliki begitu banyak anak seandainya dia tahu bahwa mereka akan kesulitan untuk sekadar mendapatkan makanan pokok.
Namun, dia tidak menjelaskan mengapa dia terus menambah jumlah anggota keluarganya meskipun mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Kondisi keluarganya mencerminkan tantangan kemanusiaan yang lebih luas yang dihadapi Afghanistan. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tiga dari setiap empat orang di negara tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Pernikahan anak juga masih marak terjadi. Data UNICEF tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 4 juta perempuan berusia 20 hingga 24 tahun telah menikah sebelum menginjak usia 18 tahun, yang menggambarkan besarnya skala masalah tersebut di negara itu.
(mas)