AS Diam-diam Tarik Pasukan dari Pangkalan Timur Tengah, Isyarat Bakal Serang Iran Lagi

img-redaksi Muhaimin
Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:05 WIB
AS Diam-diam Tarik Pasukan dari Pangkalan Timur Tengah, Isyarat Bakal Serang Iran Lagi
Tentara AS dan Qatar berkumpul di Pangkalan Udara al-Udeid. AS diam-diam tarik pasukan dari berbagai pangkalan di Timur Tengah, isyarat akan menyerang Iran lagi. Foto/USAF/Tech. Sgt. Chris Thornbury
A
A
A
WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) diam-diam mulai menarik pasukan dari berbagai pangkalan di Timur Tengah. Ini menjadi isyarat bahwa Amerika kemungkinan besar akan kembali menyerang Iran.

Mengutip laporan dari NBC News, Kamis (22/10/2026), selain menarik pasukan, Washington juga memerintahkan staf diplomatik untuk meninggalkan sejumlah misi di kawasan tersebut.

Langkah tersebut diambil di tengah pertimbangan Presiden Donald Trump untuk melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran. Menurut laporan NBC News, yang mengutip dua pejabat Amerika dan dua sumber yang mengetahui masalah ini, penarikan pasukan tersebut menyerupai persiapan yang dilakukan Pentagon dan Departemen Luar Negeri menjelang serangan awal AS-Israel pada bulan Februari lalu.

Pasukan Amerika yang ditempatkan di Yordania, Qatar, dan Kuwait termasuk di antara mereka yang direlokasi, menurut laporan tersebut.

Washington dilaporkan tetap akan mempertahankan kehadiran pasukan secara terbatas di pangkalan-pangkalan regionalnya, termasuk personel yang bertanggung jawab atas sistem pertahanan udara dan keamanan.

Menjelang serangan 28 Februari, Pentagon menarik sejumlah besar pasukan dari pangkalan-pangkalan yang dianggap rentan guna melindungi mereka dari kemungkinan pembalasan Iran. Teheran menuduh Washington menggunakan penduduk di kawasan Teluk sebagai "perisai manusia" setelah ribuan personel militer Amerika berlindung di hotel-hotel sipil dan gedung perkantoran.

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Timothy Hawkins, menolak membahas pergerakan pasukan tersebut. Dia menyatakan bahwa pasukan Amerika memang kerap diposisikan ulang untuk mengoptimalkan kesiapan misi dan tetap bersiaga untuk mempertahankan personel serta kepentingan AS.

Departemen Luar Negeri AS juga telah memerintahkan staf non-esensial beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Kerajaan Arab Saudi, dengan alasan meningkatnya serangan oleh kelompok Houthi Yaman yang menyasar bandara sipil serta infrastruktur penting lainnya di kerajaan.

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa Washington tengah bersiap melakukan penarikan diplomatik lebih lanjut di kawasan Teluk, namun juru bicara Departemen Luar Negeri, Tommy Pigott, menyebut laporan mengenai penarikan tambahan tersebut sebagai informasi yang "tidak akurat".

Perkembangan ini muncul di tengah laporan bahwa para pejabat tinggi militer AS telah menyajikan sejumlah opsi kepada Trump untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran. Menurut laporan NBC News, usulan tersebut mencakup serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, instalasi bawah tanah, dan pulau-pulau strategis—termasuk Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak vital, serta Pulau Qeshm di Selat Hormuz.

Beberapa penasihat Trump, termasuk Menteri Perang Pete Hegseth, dilaporkan telah mendesak dimulainya kembali operasi militer guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Sementara itu, pihak lain memperingatkan agar tidak meluncurkan kampanye besar lainnya tanpa tujuan yang jelas.

Hegseth telah melakukan kunjungan mendadak ke Israel pada hari Senin, mengadakan pembicaraan tertutup dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, hanya beberapa hari sebelum pemilu Israel pada 27 Oktober. Netanyahu tengah berupaya meraih masa jabatan berikutnya di tengah kritik yang kian meningkat terkait penanganannya terhadap perang di Gaza dan Iran, sementara Trump secara terbuka telah menyatakan dukungannya terhadap pencalonan kembali Netanyahu.

Awal bulan ini, Trump berjanji bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela pada 3 November, sembari menegaskan bahwa kekuatan militer tetap menjadi opsi jika upaya diplomatik menemui jalan buntu.

Netanyahu juga telah mengesampingkan kemungkinan peluncuran serangan baru sebelum pemilu Israel, namun pada hari Minggu dia menyatakan bahwa Israel siap menyerang Teheran bahkan tanpa partisipasi Amerika.

Perang AS-Israel terhadap Iran, yang dimulai pada 28 Februari, kini telah memasuki bulan kedelapan, yang mengganggu pasar energi global serta jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Teheran telah menawarkan untuk memulihkan navigasi normal di jalur perairan vital tersebut dalam waktu tujuh hari, dengan syarat Washington mencabut blokade Angkatan Laut, melonggarkan sanksi minyak, dan menyepakati penghentian permusuhan yang lebih luas.

Trump menolak usulan Iran tersebut dengan menyebutnya "tidak dapat diterima", sementara pemerintahannya terus mempertimbangkan apakah tekanan militer tambahan dapat memaksa Teheran untuk menerima persyaratan yang diajukan oleh Washington.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Suriah dan Arab Saudi Bahas Pengerahan 10.000 Pejuang ke Yaman
International
Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:29 WIB
Ledakan Terjadi di Iran Selatan, Axios Ungkap Operasi Pesawat Tempur Israel
International
Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:31 WIB