AS perintahkan staf kedutaan dan keluarga mereka untuk meninggalkan Kerajaan Arab Saudi di tengah meningkatnya serangan Houthi Yaman. Foto/SPA
RIYADH - Pemerintah Amerika Serikat telah memerintahkan staf kedutaan yang tidak penting dan keluarga mereka untuk meninggalkan
Kerajaan Arab Saudi. Perintah muncul setelah serangan rudal dan drone Houthi Yaman terus meningkat.
"Houthi yang didukung Iran semakin terlibat dalam permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya yang mengakibatkan korban sipil dan gangguan perjalanan yang parah," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott dalam sebuah unggahan media sosial yang menjelaskan alasan dikeluarkannnya perintah evakuasi.
"Keselamatan dan keamanan personel departemen dan keluarga mereka tetap menjadi prioritas utama kami," ujarnya, yang dikutip
AFP, Kamis (22/10/2026).
Sumber diplomatik di Timur Tengah mengatakan kepada
AFP bahwa beberapa keluarga staf kedutaan besar AS di Uni Emirat Arab, Yordania, Qatar, dan Bahrain juga ditarik keluar.
Namun, Pigott menegaskan bahwa perintah yang dikeluarkan pada hari Rabu tersebut hanya berlaku untuk pemulangan staf kedutaan yang tidak penting beserta keluarga mereka di Arab Saudi.
Bulan ini, Arab Saudi hampir setiap hari menghadapi serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran. Salah satu serangan tersebut menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan menjadi insiden paling mematikan di kerajaan itu dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya eskalasi perang dengan kelompok tersebut.
Pada hari Rabu, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa puing-puing yang jatuh setelah keberhasilan intersepsi terhadap sebuah drone—yang menargetkan fasilitas minyak—telah menewaskan dua orang dan melukai dua orang lainnya.
"Upaya serangan tersebut mengakibatkan tewasnya dua individu, yakni seorang warga negara Filipina dan seorang warga negara Nepal, serta melukai dua orang lainnya," ungkap kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.
Pihak kementerian tidak menyebutkan siapa yang meluncurkan drone yang menyasar ladang minyak Shaybah, dekat perbatasan Uni Emirat Arab. Sebelumnya pada hari Rabu, koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman melaporkan telah mencegat enam drone.
Sementara itu, para pejabat penerbangan mengatakan bahwa satu orang tewas dan delapan lainnya terluka dalam sebuah serangan di bandara Dammam, Arab Saudi bagian timur.
Pada bulan Juni, gencatan senjata selama empat tahun dalam perang saudara di Yaman runtuh, sehingga memicu kembali konflik yang telah berlangsung sejak 2014. Koalisi pimpinan Arab Saudi telah mendukung pemerintah yang diakui secara internasional sejak 2015.
Ledakan di Iran
Sebelumnya, AS pernah memerintahkan staf yang tidak mendesak untuk meninggalkan kawasan Teluk menjelang kemungkinan perang melawan Iran pecah kembali.
Pada Rabu malam, media pemerintah Iran melaporkan adanya suara ledakan di provinsi Hormozgan, wilayah selatan yang menghadap ke Selat Hormuz, yang memecah suasana yang sebelumnya relatif tenang.
"Beberapa menit yang lalu, terdengar suara sejumlah ledakan di kawasan Karpan, Sirik, di Provinsi Hormozgan," tulis kantor berita
IRNA dalam laporannya.
Ditambahkan pula, "Sumber-sumber lokal belum mengungkapkan penyebab atau sifat dari ledakan-ledakan tersebut."
Pada akhir Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut beserta sejumlah komandan militer senior.
Iran berupaya memblokade Selat Hormuz, dengan menuntut agar semua kapal meminta izin kepada mereka untuk melintas. Dalam situasi damai, jalur perairan strategis ini menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Sebagai tindakan balasan, Amerika Serikat menerapkan blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan dan kapal-kapal milik Iran.
(mas)