FOAB atau Bapak dari Segala Bom milik Rusia yang jadi tandingan MOAB atau Ibu dari Segala Bom milik AS. Iran klaim siap luncurkan FOAB. Foto/DunyaNews TV
TEHERAN -
Iran tengah bersiap meluncurkan senjata baru yang digambarkan sebagai "Father of All Bombs (FOAB)" atau "Bapak dari Segala Bom". Demikian disampaikan juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Hossein Mohebi.
Pernyataan Mohebi disampaikan pada Rabu atau beberapa hari setelah media-media Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa Pentagon berencana menjatuhkan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), yang dijuluki "Ibu dari Segala Bom", di Iran. Militer Iran tak gentar dengan laporan tersebut, dan mengeklaim mampu meladeninya dengan rudal-rudal ampuh Teheran.
"Kami sedang dalam tahap persiapan untuk meluncurkan 'Bapak dari Segala Bom'. Ini adalah sesuatu yang baru bagi pihak musuh," ujar Mohebi dalam pernyataan yang disiarkan media Iran;
Young Journalists Club, Rabu (21/10/2026).
Dia tidak memberikan perincian lebih lanjut mengenai senjata tersebut. Namun, selama ini hanya Rusia yang diketahui memiliki FOAB.
FOAB secara resmi bernama Aviation Thermobaric Bomb of Increased Power (ATBIP), senjata termobarik non-nuklir paling kuat di dunia yang dikembangkan oleh Rusia. Bom ini dijuluki sebagai "Bapak dari Segala Bom" sebagai tandingan dari bom MOAB milik AS.
Kekuatan ledakan FOA setara dengan sekitar 44 ton TNT, atau sekitar empat kali lebih kuat daripada MOAB AS. FOAB Menghasilkan gelombang kejut dan panas ekstrem dengan radius kehancuran yang sangat luas. Senjata ini telah diuji coba secara publik oleh Rusia pada 11 September 2007.
Pada Jumat pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan penggunaan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast untuk menyasar fasilitas nuklir Iran.
Dengan bobot sekitar 9.800 kilogram (21.600 pon), GBU-43/B merupakan salah satu bom konvensional non-nuklir terbesar dalam persenjataan AS.
MOAB pertama kali digunakan pada April 2017, selama masa jabatan pertama kepresidenan Trump, untuk menyasar kompleks terowongan milik organisasi ISIS di Afghanistan.
Di sisi lain, Mohebi juga menyebutkan bahwa persediaan rudal Iran telah meningkat 1,5 kali lipat pasca-perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025, namun dia tidak memberikan angka spesifik.
"Kualitas rudal-rudal tersebut telah meningkat secara signifikan, begitu pula dengan jangkauan, daya hancur, dan akurasinya dalam mengenai sasaran," imbuh dia.
Juru bicara IRGC tersebut mengatakan bahwa Iran sedang mengalihkan doktrin pertahanannya menuju pembentukan pencegahan yang permanen dan mutlak.
"Sebelumnya, doktrin pertahanan Iran bersifat murni defensif. Dulu kami menyatakan bahwa jika suatu negara menyerang kami, kami akan membalas," ujar Mohebi.
"Kini, kami menyatakan bahwa jika suatu negara menyerang kami, kami tidak hanya akan membalas, tetapi juga melancarkan serangan," imbuh dia.
Mohebi mengatakan Iran akan merespons setiap serangan dengan tindakan serupa, seraya menekankan bahwa doktrin militer negara tersebut akan semakin mengandalkan peperangan asimetris.
"Doktrin kami tidak lagi sekadar ofensif; doktrin ini bersifat asimetris. Kami akan menyerang musuh dengan cara yang membuat mereka merasakan intensitas balasan kami," katanya.
Israel dan AS melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, sementara Teheran merespons dengan serangan terhadap Israel serta fasilitas militer AS di negara-negara Arab.
Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada bulan Juni, kemudian memulai negosiasi yang pada akhirnya gagal akibat ketidaksepakatan mengenai kebebasan navigasi dan keamanan di Selat Hormuz yang strategis—sebuah jalur utama bagi pasokan energi dan barang.
(mas)