Kisah Sahabat : Walau Anak Angkat, Zaid bin Haritsah Punya Tempat Istimewa di Hati Rasulullah

img-redaksi Widaningsih
Rabu, 21 Oktober 2026 - 17:39 WIB
Kisah Sahabat :  Walau Anak Angkat, Zaid bin Haritsah Punya Tempat Istimewa di Hati Rasulullah
Zaid bin Haritsah merupakan sahabat Nabi SAW yang sangat dekat, bahkan pernah menjadi anak angkat beliau sebelum Islam mengatur kembali ketentuan mengenai nasab dan pengangkatan anak. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Kisah Zaid bin Haritsah menjadi salah satu teladan tentang cinta, kesetiaan, dan pengorbanan dalam sejarah Islam. Ia merupakan sahabat Nabi Muhammad yang sangat dekat dengan Rasulullah, bahkan pernah menjadi anak angkatbeliau sebelum Islam mengatur kembali ketentuan mengenai nasab dan pengangkatan anak.

Zaid bin Haritsah dikenal sebagai sosok pemberani yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Rasulullah. Kesetiaannya kepada Nabi tidak hanya ditunjukkan melalui kedekatan pribadi, tetapi juga lewat pengabdiannya dalam perjuangan menegakkan Islam.

Terpisah dari Keluarga Jadi Anak Angkat

Zaid bin Haritsah mengalami perjalanan hidup yang penuh ujian sejak kecil. Ia pernah terpisah dari keluarganya dan kemudian dibawa ke pasar untuk diperjualbelikan sebagai budak. Dalam perjalanan takdirnya, Zaid akhirnya berada di tangan Khadijah binti Khuwailid, yang kemudian memberikannya kepada Nabi Muhammad sebelum beliau diangkat menjadi rasul.

Rasulullah kemudian memerdekakan Zaid dan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Hubungan keduanya semakin dekat hingga Zaid dikenal sebagai anak angkat Nabi Muhammad.

Kedekatan tersebut membuat Zaid memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan Rasulullah. Ia tumbuh menjadi sosok yang setia, berani, dan dipercaya untuk menjalankan berbagai tugas penting.

Namun, kedudukan Zaid sebagai anak angkat tidak mengubah nasabnya. Islam kemudian menegaskan bahwa anak angkat tetap harus dinisbatkan kepada ayah kandungnya. Ketentuan ini dijelaskan dalam Al-Qur'an, Surah Al-Ahzab ayat 5.

Allah SWT berfirman:

يُدْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ


Artinya: "Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah." (QS Al-Ahzab: 5).

Ayat tersebut menegaskan bahwa Islam tetap mengajarkan kasih sayang terhadap anak angkat, sekaligus menjaga kejelasan nasab dan hubungan keluarga.

Sahabat yang Dipercaya Memimpin Pasukan

Seiring bertambahnya usia, Zaid bin Haritsah menjadi salah satu sahabat yang dipercaya oleh Rasulullah. Ia terlibat dalam berbagai perjuangan umat Islam dan dikenal memiliki keberanian serta kemampuan memimpin.

Salah satu peristiwa penting dalam kehidupannya adalah Perang Mu'tah pada tahun 8 Hijriah. Dalam pertempuran tersebut, Rasulullah menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima pasukan Muslim.

Zaid memimpin pasukan menghadapi kekuatan lawan yang jauh lebih besar. Ia tetap menjalankan tugasnya meskipun harus menghadapi risiko besar di medan perang.

Dalam pertempuran itu, Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi umat Islam, terutama bagi Rasulullah yang memiliki hubungan dekat dengannya.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kecintaan Zaid kepada Rasulullah tidak berhenti pada kedekatan pribadi. Ia membuktikannya melalui pengabdian dan kesediaan berjuang demi agama yang diyakininya.

Hikmah Kisah : Kesetiaan Tumbuh dari Cinta dan Kepedulian

Kisah Zaid bin Haritsah mengandung pelajaran berharga tentang arti kesetiaan. Kesetiaan tidak semata-mata lahir dari hubungan darah atau kedekatan keluarga, tetapi juga dapat tumbuh melalui kasih sayang, kepercayaan, dan kebaikan yang diberikan secara tulus.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai tersebut dapat diterapkan melalui sikap menghormati orang lain, menjaga amanah, membantu sesama, serta memberikan dukungan ketika seseorang menghadapi kesulitan.

Kesetiaan juga tidak berarti mengikuti seseorang tanpa pertimbangan. Dalam Islam, kesetiaan harus tetap berada dalam koridor kebenaran dan ketaatan kepada Allah SWT.

Karena itu, menebar kebaikan menjadi salah satu cara membangun hubungan yang dilandasi rasa cinta dan kepedulian. Ketika seseorang memperlakukan orang lain dengan baik, kepercayaan dan rasa saling menghargai dapat tumbuh secara alami.

Kisah Zaid bin Haritsah bukan sekadar cerita sejarah, melainkan pengingat bahwa kemuliaan seseorang dapat terlihat dari keteguhan iman, keberanian, dan pengabdiannya kepada kebaikan.

Melalui perjalanan hidupnya, umat Islam diajak untuk meneladani sifat-sifat terpuji tersebut, sekaligus memahami bahwa kasih sayang kepada anak angkat dan sesama manusia merupakan bagian dari akhlak mulia yang diajarkan Islam.

(wid)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Body Shaming, Bukan Sekadar Bercanda tetapi Bisa Menjadi Dosa
Kalam
Selasa, 20 Oktober 2026 - 05:15 WIB
4 Jenis Fitnah dalam Surah Al-Kahfi, dari Agama hingga Kekuasaan
Kalam
Senin, 19 Oktober 2026 - 14:50 WIB