Faheem Akram menjual prangko palsu AS dan raih keuntungan hingga Rp2,2 triliun. Foto/X/@USAReding
ISLAMABAD - Badan kejahatan siber Pakistan telah menangkap Faheem Akram, seorang pria yang dituduh menjalankan operasi pemalsuan yang menyebabkan kerugian sebesar USD126 juta atau setara Rp2,2 triliun bagi Layanan Pos Amerika Serikat (US Postal Service). Jadi kerugian bagi US Postal Service justru menjadi keuntungan besar bagi Akram.
Siapa Faheem Akram? Pria Pakistan yang Menjual Prangko Palsu AS dan Untung hingga Rp2,2 Triliun
1. Menjual Prangko Palsu sejak 2023
Melansir
BBC, Faheem Akram dituduh telah menjual prangko palsu melalui situs web penipuan di AS sejak tahun 2023.
Ia didakwa oleh dewan juri federal di Florida bulan lalu karena menjual lebih dari lima juta label pengiriman palsu kepada ribuan pelanggan di AS selama beberapa tahun terakhir. Pihak berwenang kini telah menutup situs web tersebut.
Awal bulan ini, US Postal Inspection Service (Layanan Inspeksi Pos AS) menawarkan imbalan hingga USD100.000 bagi siapa pun yang memberikan informasi yang berujung pada penangkapannya.
2. Hanya Mengandalkan Situs Online
Menurut Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Selatan Florida, pria berusia 33 tahun asal Khanewal, Pakistan, ini mengoperasikan situs LabelsBank.com.
Jaksa penuntut AS menduga bahwa ia menjual prangko AS palsu dengan tarif tetap, tanpa mempedulikan berat, ukuran, maupun tujuan pengiriman paket tersebut.
Label palsu yang biasanya dijual seharga USD2 per buah ini memungkinkan pelanggan untuk mengirim paket dengan tarif yang jauh lebih murah daripada harga resmi, sehingga mengakibatkan hilangnya pendapatan yang signifikan serta kerugian biaya pengiriman bagi Layanan Pos AS.
Sebuah penyelidikan menemukan bahwa lebih dari 5.200 orang telah membeli lebih dari 5,1 juta label pengiriman palsu, demikian ungkap kantor tersebut dalam sebuah siaran pers.
3. Ahli dalam Membuat Perangkat Lunak
Akram, seorang insinyur perangkat lunak berusia 33 tahun asal Khanewal, dicari oleh pihak berwenang Amerika Serikat atas tuduhan menjalankan jaringan daring yang menjual label pos AS palsu. Namun, apa yang kita ketahui tentang sosok yang menjadi pusat kasus ini?
Melansir Minute Mirror, Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh pihak berwenang Pakistan dan sumber-sumber lokal, Faheem Akram merupakan penduduk Peoples Colony di Khanewal. Ia dilaporkan pernah menempuh pendidikan di bidang rekayasa perangkat lunak dan memulai bisnis daring yang terhubung dengan AS sekitar dua hingga tiga tahun lalu. Bisnisnya dikabarkan berkembang pesat, dan kondisi keuangannya membaik setelah ia menjalin kemitraan dengan sejumlah pengusaha lokal.
Seorang perwira senior kepolisian Khanewal mengungkapkan kepada BBC Urdu bahwa pihak berwenang setempat telah diminta untuk mengumpulkan informasi mengenai Faheem Akram serta orang-orang yang diduga terlibat dalam bisnisnya. Informasi awal tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri, dan seorang pejabat kementerian pun mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan pendahuluan tersebut.
4. Menjalankan Bisnis dari Pakistan
Menurut informasi yang dikumpulkan oleh kepolisian, Faheem Akram menjalankan bisnisnya dari Pakistan. Ia sempat bepergian ke Arab Saudi pada tahun 2025, namun tidak ada catatan perjalanan ke luar negeri lainnya dalam data FIA yang disebutkan dalam laporan tersebut.
Penduduk setempat dan kerabat menuturkan kepada BBC Urdu bahwa sebelumnya Faheem sempat terlibat dalam bisnis properti milik ayahnya. Seorang jurnalis lokal menyatakan bahwa Faheem telah berkecimpung dalam bisnis daring selama beberapa tahun dan mulai merambah bisnis label pos sekitar dua tahun lalu. Jurnalis tersebut juga menyebutkan bahwa Faheem bekerja sama dengan salah satu saudaranya dan memiliki keterlibatan dalam sebuah jaringan restoran cepat saji.
Terdapat pula laporan yang menyebutkan bahwa Faheem dan saudaranya mungkin telah meninggalkan Pakistan setelah proses hukum dimulai di Amerika Serikat. Namun, informasi ini belum dapat dikonfirmasi secara independen.
(ahm)