5 Fakta Slogan Bismillah, C’est Les Tenebres yang Viral pada Kerusuhan Prancis

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:00 WIB
5 Fakta Slogan Bismillah, C’est Les Tenebres yang Viral pada Kerusuhan Prancis
Slogan Bimillah, C’est Les Tenebres viral saat kerusuhan Prancis. Foto/X/@cronica_viva
A
A
A
PARIS - Sebuah pesan di Snapchat, yang diyakini para pelajar berasal dari seorang polisi yang menyamar, telah menjadi seruan bagi gerakan kaum muda yang kini telah menyebar hingga ke Belgia dan Italia.

Kalimat ini ditulis pada papan karton di luar sekolah-sekolah yang diblokade, dibagikan puluhan ribu kali dalam video parodi, bahkan diucapkan oleh Greta Thunberg. Dalam hitungan beberapa minggu, "Bismillah, c'est les ténèbres" telah menjadi slogan tidak resmi bagi aksi protes pelajar SMA diPrancis. Secara harfiah, frasa ini hampir tidak memiliki makna, dan justru itulah intinya.

5 Fakta Slogan Bismillah, C'est Les Tenebres yang Viral pada Kerusuhan Prancis

1. Arti ‘Bismillah, c'est les ténèbres'

"Bismillah" berasal dari bahasa Arab yang berarti "dengan menyebut nama Tuhan". Umat Muslim biasanya mengucapkannya sebelum memulai suatu kegiatan, sementara dalam bahasa gaul Prancis sehari-hari, istilah ini bisa bermakna kurang lebih seperti "ayo kita mulai".

"C'est les ténèbres" berarti "ini adalah kegelapan". Di kalangan anak muda, istilah ini digunakan untuk menggambarkan situasi yang sangat buruk atau suram.

Melansir Euro News, jika digabungkan, frasa tersebut menjadi tidak masuk akal—"Dengan menyebut nama Tuhan, ini adalah kegelapan". Para pelajar mengatakan justru itulah alasan mengapa frasa ini menjadi populer. Mereka sedang mengejek seseorang yang mencoba—namun gagal—untuk berbicara dengan gaya bahasa mereka.

2. Berawal dari Percakapan di Snapchat

Frasa tersebut berasal dari tangkapan layar percakapan Snapchat yang mulai beredar pada awal Oktober, saat para pelajar menggunakan aplikasi tersebut untuk mengorganisasi aksi blokade sekolah. Dalam pesan tersebut, seorang pengguna bernama "Mamadou" meminta untuk bergabung dengan sebuah grup: "Halo, demi Tuhan, situasinya sedang kacau. Kapan blokade akan dilakukan, sumpah, Bro?"

Pesan itu disertai dengan emoji bendera Aljazair.

Tangkapan layar lainnya memperlihatkan akun-akun serupa yang bertanya kepada para siswa mengenai lokasi blokade, serta siapa yang menjual kembang api dan granat asap.

Bagi banyak siswa, perpaduan canggung antara bahasa Arab, bahasa gaul jalanan, dan bendera nasional tersebut justru membongkar kedok mereka. Mereka menyimpulkan bahwa pesan-pesan itu ditulis oleh petugas kepolisian yang menyamar sebagai remaja untuk menyusup ke dalam grup protes privat.

3. Bisa Jadi Hoaks atau pun Parodi

Hal ini belum terbukti. Baik pihak kepolisian maupun Kementerian Dalam Negeri Prancis belum memberikan komentar terkait tangkapan layar tersebut, dan belum ada pihak independen yang memverifikasi siapa sebenarnya di balik akun-akun itu.

Beberapa pengguna internet mengeklaim telah melacak lokasi akun-akun tersebut hingga ke area di dekat kantor polisi, namun klaim ini belum diverifikasi. Sebagian tangkapan layar yang beredar bisa saja merupakan hoaks atau parodi.

4. Merepresentasikan Minoritas dan Kelas Pekerja

Gerakan ini bermula di Créteil, sebelah tenggara Paris, pada 18 September dan dengan cepat menyebar ke seluruh negeri. Berbagai keluhan siswa menjadi inti dari gerakan ini, termasuk jam sekolah yang terlalu panjang, ruang kelas yang terlalu padat, kondisi sekolah yang memprihatinkan, serta seringnya guru tidak hadir.

Banyak pihak berpendapat bahwa masalah-masalah ini paling berdampak pada wilayah pinggiran kelas pekerja dan komunitas minoritas. Pada tanggal 2 Oktober saja, sekitar 400 sekolah ditutup akibat aksi blokade.

Protes para siswa ini kemudian menjadi bagian dari demonstrasi nasional terkait biaya hidup pada Sabtu, 17 Oktober, yang berujung pada kerusuhan dan penjarahan terburuk yang pernah terjadi di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.

5. Slogan yang Menyebar ke Berbagai Penjuru Eropa

Menurut kantor berita Italia ANSA, aktivis asal Swedia, Greta Thunberg, menggunakan slogan tersebut saat mengunjungi para pelajar yang sedang melakukan aksi mogok di Seine-Saint-Denis, sebelah utara Paris, pada 13 Oktober.

Pada 9 Oktober, slogan itu muncul pada poster-poster dalam sebuah demonstrasi yang dipimpin oleh serikat pekerja di Brussel untuk menentang pemangkasan anggaran oleh pemerintah Belgia. Di sana, slogan tersebut digunakan sebagai bentuk solidaritas terhadap para pelajar Prancis, bukan sebagai rujukan terhadap klaim adanya penyusupan.

Di Italia, ANSA melaporkan bahwa frasa tersebut muncul dalam demonstrasi pelajar di Bologna pada 15 Oktober. Slogan itu kembali terdengar di Milan pada akhir pekan tanggal 17 dan 18 Oktober, saat aksi protes di Piazza del Duomo berujung pada penjarahan. Selain itu, para pelajar dari sebuah sekolah Prancis di Berlin juga terlihat dalam foto sedang memegang spanduk yang memuat slogan tersebut.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait