Jet tempur Typhoon Inggris dikerahkan di Arab Saudi. Foto/anadolu
LONDON - Pemerintah Inggris mengerahkan jet tempur Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF), pesawat angkut, dan penasihat militer ke Arab Saudi. Mereka akan membantu mempertahankan kota-kota serta infrastruktur penting di Arab Saudi dari serangan udara kelompok Houthi.
Menteri Pertahanan Inggris, Wes Streeting, menyatakan keprihatinannya atas serangan yang menyasar warga sipil dan menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Pengerahan ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan regional serta perdebatan di Inggris mengenai pengeluaran pertahanan dan kenaikan biaya energi.
Sementara itu, koalisi pimpinan Arab Saudi menjatuhkan empat pesawat nirawak (drone) di wilayah Madinah dan wilayah Timur.
Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan pertahanan udara Saudi telah mencegat dan menghancurkan empat pesawat nirawak yang diluncurkan ke arah kerajaan tersebut.
Dalam pernyataan terpisah di platform X, juru bicara tersebut menyebutkan pesawat-pesawat nirawak itu dicegat dan dihancurkan di wilayah Madinah dan wilayah Timur.
Sementara itu, media yang berafiliasi dengan kelompok Houthi melaporkan tiga serangan udara koalisi Saudi telah menghancurkan jaringan telekomunikasi di distrik Maran, kegubernuran Saada, Yaman, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera Arabic.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan situasi kemanusiaan di Taiz, Yaman, semakin memburuk akibat penutupan jalan yang menghalangi akses jutaan orang terhadap barang dan layanan kebutuhan pokok.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers—dengan mengutip rekan-rekannya di lapangan—mengatakan, "Penutupan jalan dan kondisi yang tidak aman menghalangi masuknya pasokan vital, termasuk bahan bakar, ke dalam kota dan wilayah sekitarnya."
Dujarric menambahkan, meskipun PBB telah berupaya menyalurkan bantuan ke Taiz, bantuan tersebut "tidak dapat memenuhi kebutuhan yang ada jika pasokan penting terus dihalangi untuk mencapai kota itu."
"Jalan-jalan harus dibuka," tegasnya.
Kelompok Houthi telah mengepung kota Taiz sejak awal Oktober, dengan memblokir jalan yang menghubungkan kota tersebut ke Aden, ibu kota sementara pemerintah Yaman yang didukung Saudi.
Badan Pengungsi PBB (UNHCR) pada hari Selasa menyatakan lebih dari 250.000 orang telah mengungsi di dalam wilayah Yaman sejak pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman kembali meletus pada bulan Juli.
Menurut UNHCR, Taiz menjadi titik asal bagi 76 persen pengungsi baru, sekaligus menampung 52 persen dari jumlah orang yang baru mengungsi tersebut.
(sya)