Beda dengan Trump, Wakil Presiden AS Tolak Dukung Netanyahu dalam Pemilu Israel

img-redaksi Syarifudin
Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:28 WIB
Beda dengan Trump, Wakil Presiden AS Tolak Dukung Netanyahu dalam Pemilu Israel
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. Foto/anadolu
A
A
A
WASHINGTON - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menolak memberikan dukungan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum bulan ini. Ia menyatakan lebih memilih untuk tidak terlibat dan fokus pada pemilihan paruh waktu (midterm elections) di AS.

Pernyataan Vance tersebut disampaikan dalam wawancara pada hari Senin dengan jurnalis Mark Halperin, hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump secara eksplisit menyatakan dukungannya kepada Netanyahu.

"Saya tidak menentang untuk mendukungnya, dan saya juga tidak mendukungnya. Saya tidak ikut campur dalam pemilihan umum Israel," ujar Vance.

"Saya memberikan dukungan kepada kandidat-kandidat Amerika, dan fokus saya saat ini adalah pada pemilihan paruh waktu," tambahnya.

Terakhir kali Vance memberikan dukungan kepada pemimpin asing adalah pada bulan April, saat ia mendukung mantan Perdana Menteri Hungaria dari kubu sayap kanan, Viktor Orban, yang kemudian kalah telak dari Peter Magyar.

Selama dua masa jabatannya, Trump telah membangun hubungan yang erat dengan Netanyahu beserta pemerintahan sayap kanannya.

Pada masa jabatan pertamanya, Trump memindahkan kedutaan besar AS ke Yerusalem Barat, mengakui aneksasi Israel atas Dataran Tinggi Golan, menarik diri dari perjanjian nuklir Iran tahun 2015, serta memelopori serangkaian perjanjian normalisasi dengan negara-negara Arab yang mengesampingkan isu Israel-Palestina.

Sejak kembali menjabat pada Januari 2025, pemerintahan Trump terus menjual senjata kepada Israel di tengah perang yang bersifat genosida di Gaza, terlibat dalam konflik dengan Iran, serta meningkatkan tindakan keras terhadap Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Sementara itu, Vance—yang dianggap sebagai kandidat potensial untuk pemilihan presiden tahun 2028—telah menjadi simbol dari meningkatnya ketidakpuasan di dalam Partai Republik terkait dukungan tanpa syarat Washington terhadap Israel. Sentimen ini semakin mendalam seiring dengan dampak perang AS-Israel terhadap Iran, yang telah meningkatkan beban biaya bagi konsumen di AS.

Meskipun sang wakil presiden menyatakan dukungan AS terhadap Israel harus terus berlanjut, ia menghadapi skeptisisme dari kalangan Yahudi di Partai Republik mengenai komitmennya terhadap aliansi tersebut.

Pada bulan Juni, di tengah penolakan Israel terhadap rencana gencatan senjata dengan Iran, Vance mengatakan kepada pihak Israel, "Anda tidak bisa menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional hanya dengan cara membunuh."

Ia juga memperingatkan kabinet Netanyahu agar tidak menjauhkan diri dari Trump, seraya menyebut sang presiden sebagai "satu-satunya sekutu kuat" yang dimiliki Israel saat ini.

Belum jelas apakah dukungan Trump akan mendongkrak Partai Likud pimpinan Netanyahu menjelang pemungutan suara.

Beberapa jajak pendapat menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap presiden AS tersebut, menyusul langkah-langkahnya yang dianggap berupaya membatasi operasi Israel di Lebanon serta penolakannya terhadap eskalasi lebih lanjut di Iran.

Jajak pendapat menunjukkan partai Yashar mengungguli Likud menjelang pemungutan suara pada 27 Oktober. Pemimpin partai tersebut, mantan Kepala Staf Umum militer Israel Gadi Eisenkot, menyatakan akan berupaya membangun blok oposisi untuk membentuk pemerintahan.

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Alberta Tetap Bersama Kanada, Mengapa Provokasi Trump Gagal Total?
International
Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:10 WIB
Rubio Ungkap Ada Ketegangan Serius dalam Hubungan Amerika Serikat dan Ukraina
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:31 WIB
Trump Kecewa NATO Tak Loyal pada AS: Saat Kami Minta Bantuan terkait Iran...
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:08 WIB