Zelensky Ngotot Mencalonkan Diri Lagi sebagai Presiden Ukraina

img-redaksi Syarifudin
Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:31 WIB
Zelensky Ngotot Mencalonkan Diri Lagi sebagai Presiden Ukraina
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto/aljazeera
A
A
A
KIEV - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ingin mencalonkan diri kembali sebagai presiden jika pemilihan umum diadakan sebelum konflik dengan Rusia berakhir. Masa jabatan lima tahunnya telah berakhir dua tahun lalu, yang membuat Moskow mempertanyakan legitimasi kepemimpinannya, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan agar ia diganti.

Zelensky menolak mengadakan pemilihan umum baru sejak masa jabatannya berakhir pada Mei 2024, dengan alasan penerapan darurat militer yang diberlakukan setelah konflik dengan Rusia meningkat pada Februari 2022. Saat berkampanye dalam pemilihan umum 2019, ia sempat berjanji hanya akan menjabat selama satu periode.

Dalam wawancara dengan program ‘Meet the Press' di NBC News pada hari Minggu, Zelensky mengatakan ia akan mencalonkan diri untuk periode berikutnya jika pemilihan umum diadakan di tengah berlangsungnya pertempuran.

"Jika itu terjadi selama masa perang – tentu saja. Ini adalah tanggung jawab saya, karena saya harus membela negara saya dari awal hingga akhir perang ini," ujarnya.

Zelensky kembali menuntut gencatan senjata setidaknya selama 60 hari sebagai persiapan untuk pemilihan umum, dengan alasan negara tersebut memerlukan waktu untuk mengubah undang-undang dan menyiapkan infrastruktur pemilihan umum.

Moskow menolak tuntutan tersebut. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyatakan Kiev bisa saja menggunakan pemilihan umum sebagai dalih untuk mendapatkan gencatan senjata selama 60 hari guna "mengatur ulang kekuatan," memulihkan kerugian militer, dan melanjutkan pertempuran. Meski demikian, ia menambahkan Rusia bersedia menghentikan serangan pada hari pemilihan umum.

Presiden Rusia Vladimir Putin berpendapat kekuasaan kepresidenan Zelensky seharusnya beralih ke parlemen setelah mandatnya berakhir, serta mempertanyakan apakah Zelensky masih memiliki wewenang untuk menandatangani perjanjian perdamaian yang mengikat.

Ia menyebut penolakan Zelensky untuk mengadakan pemilihan umum sebagai "kesalahan strategis."

Ambisi Zelensky juga menghadapi penentangan di dalam negeri. Survei pada bulan September oleh Institut Sosiologi Internasional Kiev menunjukkan 53% responden berpendapat ia seharusnya hanya menjabat selama satu periode, meningkat dari 46% pada Desember 2025.

Trump telah meningkatkan tekanan terhadap Zelensky, dengan menuduhnya memperpanjang konflik sembari terus menerima bantuan miliaran dolar dari negara-negara Barat. Awal bulan ini, ia menyerukan perlunya presiden baru, dengan alasan Zelensky telah berulang kali menolak kesempatan untuk mengakhiri pertempuran.

"Saya sarankan mereka mencari pemimpin baru yang bisa membuat kesepakatan," ujar Trump kepada para wartawan.

Ia juga menyalahkan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia sebagai penyebab memburuknya krisis solar global dan kenaikan harga yang merugikan para petani Amerika.

Ia menuduh Zelensky menciptakan "masalah bagi dunia," meskipun ia telah berulang kali meminta agar serangan tersebut dihentikan.

Dalam unggahan di Truth Social pada hari Minggu, Trump menyatakan Zelensky "tidak ingin mengakhiri perang ini, dan mungkin memang tidak pernah menginginkannya," seraya berpendapat Zelensky sebenarnya bisa mendapatkan kesepakatan yang lebih baik dengan Rusia dua tahun lalu.

Ia menambahkan Ukraina kini "hancur lebur," seraya menggambarkan populasi laki-laki di negara itu dalam kondisi "berkurang jumlahnya, terluka, dan/atau tewas."

(sya)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Inggris Beri Dukungan Militer pada Arab Saudi untuk Melawan Houthi
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:32 WIB
Zelensky Ngotot Mencalonkan Diri Lagi sebagai Presiden Ukraina
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:31 WIB
Rusia Terus Gempur Infrastruktur Logistik dan Pelabuhan Ukraina
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:25 WIB
Trump Kembali Singgung Kerusuhan Prancis: Paris Akan Segera Jadi Kota Muslim
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:25 WIB