Ketika dihina, seorang Muslim dapat berdoa kepada Allah SWT, menjaga lisannya, mengendalikan amarah, dan berusaha menyelesaikan persoalan tanpa menambah permusuhan. Foto ilustrasi/ist
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan
teladandalam menghadapi ejekan atau hinaan. Ketika menghadapi penolakan dan perlakuan kasar dari kaumnya saat berdakwah, beliau tidak selalu membalas dengan kemarahan. Bahkan, terdapat riwayat yang menggambarkan bagaimana Rasulullah mendoakan agar kaumnya mendapatkan ampunan Allah SWT karena mereka belum mengetahui kebenaran.
Sikap tersebut menjadi pelajaran penting bagi umat Islam. Ketika dihina, seorang Muslim dianjurkan menjaga lisan, mengendalikan amarah, dan tidak membiarkan kebencian menguasai dirinya.
Lantas, bagaimana
bacaan doaketika dihina orang lain dan bagaimana cara menyikapinya menurut ajaran Islam?
Doa Ketika Dihina Orang Lain
Salah satu doa yang dikenal dalam riwayat tentang sikap Rasulullah ketika menghadapi kaumnya adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي، فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Allahummaghfir li qaumi fa innahum la ya'lamun.Artinya: "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."
Doa ini dikenal dalam sejumlah riwayat yang menggambarkan kesabaran Rasulullah saat menghadapi perlakuan buruk dari kaumnya. Maknanya mengajarkan bahwa seseorang tidak harus membalas penghinaan dengan kebencian, tetapi dapat memilih mendoakan kebaikan bagi orang yang menyakitinya.
Meski demikian, doa ini tidak berarti seseorang harus membiarkan penghinaan atau perundungan terus berlangsung. Seorang Muslim tetap boleh menjaga kehormatan dirinya, menjauh dari perlakuan yang merugikan, dan mencari pertolongan apabila diperlukan.
1. Tidak Membalas Hinaan dengan Hinaan
Salah satu cara menyikapi penghinaan adalah menahan diri agar tidak membalasnya dengan perkataan yang sama buruknya. Membalas cacian dengan cacian hanya berisiko memperpanjang perselisihan dan menambah luka di antara sesama.
Rasulullah SAW mengingatkan agar seorang Muslim tidak membalas celaan dengan membuka aib orang yang mencelanya. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan:
وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ
Artinya: "Jika seseorang mencaci dan mencelamu dengan kekurangan yang diketahuinya ada padamu, janganlah engkau membalas mencelanya dengan kekurangan yang engkau ketahui ada padanya." (HR Abu Dawud).
Pesan hadis tersebut mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan sesama, bahkan ketika sedang diperlakukan tidak baik. Seseorang tidak perlu mengikuti perilaku buruk orang lain hanya karena merasa tersakiti.
Menahan diri bukan berarti kalah atau tidak berani membela kebenaran. Sebaliknya, sikap tersebut menunjukkan kemampuan mengendalikan diri dan memilih respons yang lebih bijaksana.
2. Mengendalikan Amarah Saat Dihina
Hinaan dapat memancing kemarahan, terutama ketika menyentuh hal-hal yang bersifat pribadi. Namun, meluapkan emosi tanpa pertimbangan justru dapat memperburuk keadaan.
Dalam Islam, kemampuan menahan amarah merupakan salah satu sifat terpuji. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 134:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS Ali Imran: 134).
Ayat ini menjelaskan bahwa menahan amarah dan memaafkan merupakan bagian dari akhlak orang-orang yang bertakwa.
Ketika menerima hinaan, seseorang dapat mengambil jeda sebelum menjawab, menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat, atau meninggalkan situasi yang berpotensi memicu pertengkaran. Langkah tersebut membantu seseorang berpikir lebih jernih sebelum mengambil tindakan.
Mengendalikan amarah bukan berarti menekan perasaan atau menganggap penghinaan sebagai sesuatu yang wajar. Artinya, seseorang berusaha mengelola emosinya agar tidak melakukan tindakan yang justru merugikan dirinya maupun orang lain.
3. Berusaha Memahami Kondisi Orang yang Menghina
Doa Rasulullah agar kaumnya diampuni memberikan pelajaran tentang pentingnya melihat persoalan secara lebih luas. Seseorang terkadang melontarkan perkataan menyakitkan karena ketidaktahuan, prasangka, atau kebiasaan buruk yang belum disadarinya.
Namun, memahami latar belakang seseorang bukan berarti membenarkan perilakunya. Penghinaan tetap merupakan tindakan yang perlu dihentikan, terutama apabila dilakukan berulang kali atau bertujuan merendahkan martabat orang lain.
Dengan berusaha memahami keadaan orang lain, seseorang dapat menghindari kebencian yang berlebihan dan memilih cara penyelesaian yang lebih baik.
Jika memungkinkan, teguran dapat disampaikan secara tenang dan tegas. Apabila penghinaan terjadi di media sosial, seseorang juga dapat membatasi interaksi, menyimpan bukti, melaporkan konten yang melanggar aturan platform, atau meminta bantuan pihak yang berwenang jika diperlukan.
4. Memaafkan Tanpa Membiarkan Diri Terus Disakiti
Islam menganjurkan umatnya untuk memaafkan, tetapi memaafkan tidak sama dengan membenarkan penghinaan. Seseorang tetap berhak menetapkan batasan agar tidak terus-menerus menjadi sasaran perlakuan buruk.
Dalam Surat Asy-Syura ayat 40, Allah SWT berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
Artinya: "Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah." (QS Asy-Syura: 40).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa memaafkan dan melakukan perbaikan merupakan pilihan yang mulia. Pada saat yang sama, Islam juga mengakui adanya hak untuk memperoleh keadilan secara proporsional.
Karena itu, menghadapi penghinaan dapat dilakukan dengan tetap menjaga martabat diri, menolak perlakuan yang merugikan, serta menghindari tindakan balas dendam yang melampaui batas.
Meneladani Kesabaran Rasulullah
Kisah dan doa Rasulullah ketika menghadapi perlakuan buruk mengajarkan bahwa kemuliaan akhlak tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukan kita, melainkan bagaimana kita memilih untuk meresponsnya.
Ketika dihina, seorang Muslim dapat berdoa kepada Allah SWT, menjaga lisannya, mengendalikan amarah, dan berusaha menyelesaikan persoalan tanpa menambah permusuhan.
Pada akhirnya, tidak semua perkataan orang lain harus dibalas. Ada kalanya diam, menjauh, memaafkan, atau memberikan teguran secara baik justru menjadi pilihan yang lebih bijaksana. Dengan meneladani akhlak Rasulullah, umat Islam diharapkan mampu menghadapi ujian dalam pergaulan dengan kesabaran, ketegasan, dan kebijaksanaan. Wallahu A'lam
(wid)