Menteri Perang AS Pete Hegseth dan PM Israel Benjamin Netanyahu saat bertemu di Oval Office Gedung Putih, 28 Juli. Kini, keduanya gelar pertemuan rahasia di Israel. Foto/GPO/Times of Israel
TEL AVIV - Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menggelar pertemuan rahasia dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selama kunjungan mendadak ke Israel. Pertemuan ini terjadi di tengah spekulasi bahwa Amerika dan Israel kembali akan menyerang
Iran.Pertemuan rahasia Hegseth dan Netanyahu diungkap
Axios, mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pertemuan tersebut. Baik Tel Aviv maupun Washington belum mengeluarkan pernyataan mengenai pertemuan yang dilaporkan itu.
Laporan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungannya kepada Netanyahu untuk pemilu Israel pekan depan.
Pemilu ini merupakan pemungutan suara pertama di Israel sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang mengguncang negara tersebut dan menjerumuskan Timur Tengah ke dalam kekacauan. Setelah serangan itu, Israel melancarkan perang di Gaza, Lebanon, dan Iran.
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan bahwa koalisi religius-nasionalis Netanyahu kemungkinan kehilangan mayoritas kursi untuk memerintah. Sementara itu, kubu oposisi juga diperkirakan menghadapi kesulitan dalam membentuk pemerintahan.
Strategi Perang Iran?
Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga
think tank Chatham House yang berbasis di Inggris, menilai dukungan Trump terhadap Netanyahu, yang disampaikan setelah berbulan-bulan ketegangan di antara kedua pemimpin, memiliki arti penting secara politik.
"Hal ini memungkinkan Netanyahu memperkuat klaimnya bahwa dirinya merupakan sosok yang tidak tergantikan dalam hubungan Israel dengan Washington," kata Vakil kepada
Al Jazeera, Selasa (20/10/2026).
"Namun, dampaknya terhadap pemilu tidak boleh dibesar-besarkan. Para pemilih Israel masih terpecah mengenai kepemimpinan Netanyahu dan hasil perang Iran. Dukungan Trump mungkin membantu memperkuat basis pendukungnya yang sudah ada, tetapi tidak menyelesaikan berbagai persoalan yang lebih luas terkait rekam jejaknya," ujarnya.
Andreas Krieg, dosen senior di sekolah studi keamanan King's College London, menggambarkan dukungan Trump sebagai "hadiah politik" bagi Netanyahu, yang sedang menghadapi kesulitan dalam kampanye pemilunya.
Namun, dia juga mengingatkan agar dukungan tersebut tidak dianggap sebagai faktor yang akan mengubah segalanya.
"Masalah Netanyahu bersifat struktural, mencakup fragmentasi partai-partai sayap kanan, kekecewaan para pemilih ultra-Ortodoks, serta warisan peristiwa 7 Oktober. Trump mungkin dapat menggerakkan para pemilih Partai Likud yang selama ini enggan memberikan dukungan. Dalam persaingan ketat, hal itu berpotensi menghasilkan satu atau dua kursi tambahan. Namun, Trump tidak dapat menciptakan mayoritas koalisi yang saat ini tidak dimiliki Netanyahu," kata Krieg kepada
Al Jazeera.
Para analis juga menyoroti bahwa dukungan Trump sangat berfokus pada perang Iran. Hal ini terutama menjadi perhatian karena presiden AS tersebut mungkin sedang mempertimbangkan untuk kembali melancarkan serangan, baik sebelum maupun setelah pemilu sela AS pada awal November.
Sejumlah laporan media AS bahkan menyebutkan bahwa Pentagon mungkin sedang mempersiapkan dimulainya kembali serangan sebelum para pemilih memberikan suara mereka.
Dukungan Trump kepada Netanyahu menandakan kembali menguatnya keselarasan politik dengan Israel. Vakil mengatakan hal tersebut berpotensi membuka jalan bagi aksi militer gabungan di masa mendatang.
Dia menilai perkembangan itu dapat membuat Trump semakin sulit mengambil jarak dari perang atau menggambarkan AS sebagai pihak yang sebenarnya terseret ke dalam konflik tersebut secara terpaksa.
"Trump secara eksplisit mengambil tanggung jawab atas kemitraan tersebut dan kampanye militernya melawan Iran. Namun, dukungan itu tidak serta-merta berarti kedua pemimpin telah menyepakati operasi militer lainnya. Dukungan tersebut juga tidak menjawab pertanyaan mengenai siapa yang pada awalnya paling kuat mendorong terjadinya perang," ujarnya.
Vakil menambahkan, bagi Teheran, pernyataan Trump akan memperkuat keyakinan para pemimpin Iran bahwa "hampir tidak ada perbedaan berarti antara tujuan AS dan Israel".
"Pada saat yang sama, pernyataan Trump bahwa dirinya enggan menghadapi Iran tanpa Netanyahu dapat ditafsirkan sebagai bukti keterbatasan keinginan Washington untuk terlibat dalam perang lain," katanya.
Wapres AS JD Vance Jaga Jarak
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance, yang secara terbuka menyalahkan Netanyahu karena menyeret AS ke dalam perang, menolak menyatakan dukungannya kepada PM Israel tersebut dalam sebuah wawancara.
Vance mengatakan bahwa dirinya tidak akan ikut campur dalam pemilu Israel.
"Saya mendukung kandidat-kandidat Amerika, dan itulah yang menjadi fokus saya, yaitu pemilu sela," kata Vance kepada media digital,
2WAY.
Pernyataan itu cukup kontras dengan langkah Vance pada awal tahun ini, ketika dia melakukan perjalanan ke Budapest dan menyatakan dukungannya kepada Viktor Orban dalam pemilu Hungaria.
"Saya bukan berarti menentang pemberian dukungan kepadanya, tetapi saya juga tidak secara aktif mendukungnya. Saya tidak akan ikut campur dalam pemilu Israel," kata Vance.
(mas)