Akar permasalahan utama Prancis adalah utang. Foto/X/@Breaking2003
PARIS - Meningkatnya biaya pinjaman dan ketidakpastian politik memberikan tekanan pada keuanganPrancis. Oxford Economics memperingatkan bahwa guncangan hebat di pasar obligasi dapat mendorong Prancis dan Italia ke dalam resesi pada tahun 2027, meskipun krisis utang tidak termasuk dalam prakiraan utama mereka.
Ekonomi terbesar kedua di zona euro ini mencatat kenaikan imbal hasil obligasi lebih lanjut pada hari Senin, menyusul demonstrasi jalanan yang diwarnai kekerasan di negara tersebut selama akhir pekan.
Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun berada di kisaran 4,9% pada hari Senin, mendekati level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, seiring dengan tuntutan investor akan premi yang lebih tinggi untuk memegang utang Prancis. Para pengunjuk rasa menuntut tindakan nyata terkait kenaikan biaya hidup dan penurunan kualitas layanan publik, termasuk pendidikan.
Kondisi yang tidak stabil ini menambah tekanan pada pemerintah yang tengah berupaya meloloskan anggaran tahun 2027 melalui Majelis Nasional—majelis rendah parlemen Prancis—yang saat ini terpecah secara mendalam.
Tantangan mendesaknya adalah mengesahkan anggaran yang kredibel guna meyakinkan para investor menjelang pemilihan presiden pada musim semi 2027. Namun, pemulihan kepercayaan juga akan bergantung pada apakah pemerintahan berikutnya mampu berkomitmen untuk memperbaiki keuangan publik selama beberapa tahun ke depan.
Mengapa Akar Masalah Utama Prancis bukan Kerusuhan dan Penjarahan, tapi Lingkaran Setan Utang?
1. Prancis Memiliki Rasio Utang Publik Tertinggi di Eropa
Prancis memiliki salah satu rasio utang publik tertinggi di Uni Eropa, yakni mencapai 119% dari PDB, menurut data terbaru dari INSEE, kantor statistik nasional Prancis. Hal ini diperburuk dengan prakiraan pemerintah mengenai defisit sebesar 5,4% dari PDB pada tahun 2026. Utang publik tercatat sebesar €3,596 triliun pada akhir Juni 2026.
Biaya untuk melayani utang tersebut telah meningkat tajam. Pemerintah memperkirakan pembayaran bunga utang publik akan mencapai €91 miliar pada tahun 2027, naik dari €79,2 miliar tahun ini—suatu peningkatan sebesar hampir €12 miliar.
Inflasi yang meningkat pesat dan pertumbuhan yang rendah mengancam akan melemahkan penerimaan pajak serta semakin memperbesar defisit dan utang.
Oleh karena itu, situasi fiskal saat ini menyisakan ruang yang sangat sempit bagi pemerintah untuk memenuhi tuntutan para pengunjuk rasa melalui paket belanja besar lainnya—seperti pendekatan "berapapun biayanya" yang diterapkan Presiden Prancis Emmanuel Macron saat pandemi melanda negara tersebut.
2. Berkutat Mengurangi Defisit
Pemerintah menghadapi tekanan untuk mengurangi defisit dan berkomitmen melakukan penghematan jangka panjang guna menenangkan pasar obligasi. Jika biaya pinjaman terus meningkat, utang Prancis bisa menjadi semakin sulit untuk dikendalikan.
Dalam sebuah pemodelan mengenai dampak gejolak obligasi di Prancis—dengan potensi penularan ke negara-negara zona euro lain yang memiliki utang tinggi—Oxford Economics menemukan bahwa Italia akan sangat rentan. Hal ini dikarenakan Italia mengalami kombinasi antara pertumbuhan yang lambat, utang yang tinggi, serta investasi yang sensitif terhadap pengetatan kondisi keuangan.
Salah satu tolok ukur utama untuk mengukur kekhawatiran pasar adalah selisih antara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun suatu negara dengan obligasi serupa dari Jerman. Selisih saat ini—yaitu imbal hasil tambahan yang diminta investor untuk memegang utang Prancis dibandingkan utang Jerman—telah meningkat menjadi sekitar 145 basis poin (bps). Angka ini masih sedikit di bawah puncak yang dicapai awal bulan ini, yang merupakan level tertinggi sejak krisis utang zona euro tahun 2011–2012.
3. Diprediksi Akan Menghadapi Krisis Ekonomi pada 2027
Oxford Economics menyusun satu skenario dasar dan dua skenario buruk. Skenario dasar memperkirakan bahwa selisih imbal hasilobligasi Prancis akan tetap berada di bawah 200 basis poin menjelang pemilihan presiden pada April 2027, dan kemudian menyempit setelahnya. Krisis utang Prancis dipandang sebagai kemungkinan yang kecil terjadi—meskipun dapat menimbulkan dampak yang merusak—dan bukan merupakan prakiraan utama.
Prancis dan Italia akan mengalami resesi pada tahun 2027 dalam skenario berat. Belgia juga akan menghadapi lonjakan biaya pinjaman, sementara Spanyol, Portugal, dan Yunani akan menghadapi imbal hasil obligasi yang lebih tinggi namun dengan dampak ekonomi yang lebih ringan; ketiga negara tersebut tidak akan mengalami kontraksi ekonomi.
Poin pentingnya, zona euro secara keseluruhan akan terhindar dari resesi, bahkan dalam skenario berat sekalipun.
Menurut Andrew Kenningham, kepala ekonom Eropa di Capital Economics, pelebaran selisih imbal hasil obligasi Prancis hingga 400 bps merupakan "skenario buruk yang mungkin terjadi yang bisa disandingkan dengan selisih imbal hasil (spread) obligasi Italia pada tahun 2012".
Kenningham sependapat bahwa dalam situasi tersebut, tekanan besar pasti akan dirasakan oleh negara-negara lain dengan tingkat utang tinggi, termasuk Italia.
"Akan tetapi, berbeda dengan awal dekade 2010-an, ECB kini berada dalam posisi yang tepat untuk mendukung negara-negara selain Prancis melalui instrumen *Transmission Protection Instrument*," ujarnya, dilansir Euro News.
Melalui instrumen ini, ECB dapat membeli obligasi pemerintah untuk membantu menjaga biaya pinjaman agar tetap terkendali, dengan syarat negara tersebut memenuhi ketentuan tertentu.
5. Situasinya Akan terus Memburuk
Kenningham juga menambahkan bahwa risiko terhadap sektor perbankan serta risiko kejatuhan pasar properti saat ini jauh lebih rendah dibandingkan pada dekade 2010-an.
"Jadi, situasinya memang bisa memburuk, tetapi tidak akan separah kondisi pada dekade 2010-an." Menurut Oxford Economics, dalam skenario terburuknya, imbal hasil obligasi 10 tahun Prancis akan mencapai 7% pada kuartal kedua tahun 2027, dengan defisit publik yang diperkirakan melampaui 6% dari PDB. Perusahaan konsultan tersebut memperingatkan bahwa tingkat imbal hasil seperti itu dapat memicu krisis likuiditas.
Namun, harapan akan adanya intervensi dari Bank Sentral Eropa (ECB) untuk membantu Prancis tetap rendah. Presiden ECB, Christine Lagarde, menyatakan pekan lalu bahwa cara untuk menghentikan lonjakan biaya pinjaman Prancis "harus ditemukan terlebih dahulu di Prancis sendiri", melalui langkah-langkah anggaran yang dapat meyakinkan para investor.
Apa yang dapat dilakukan Prancis untuk memulihkan kepercayaan investor?
Menurut Oxford Economics, langkah-langkah yang diperlukan untuk menenangkan pasar dapat mencakup pembatasan belanja secara bertahap selama beberapa tahun, disertai dengan komitmen legislatif yang jelas, terutama terkait usia pensiun.
Akan tetapi, perusahaan konsultan tersebut memperingatkan bahwa "pemerintahan minoritas saat ini tidak akan mampu memberikan komitmen yang kredibel untuk melakukan konsolidasi fiskal berkelanjutan guna menenangkan pasar". Oleh karena itu, sebagian besar tanggung jawab untuk melaksanakan langkah-langkah yang mungkin menyakitkan tersebut kemungkinan besar akan jatuh ke tangan pemerintahan berikutnya.
Sementara itu, Kenningham mengatakan bahwa para investor mengharapkan pemerintah untuk mengesahkan anggaran yang mampu menekan defisit tahun depan hingga sekitar 5% dari PDB; "jadi, angka di bawah itu dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan lebih lanjut di pasar obligasi Prancis".
Menjelang pemilihan presiden musim semi mendatang, pemimpin kelompok sayap kanan, Marine Le Pen, memimpin dalam berbagai jajak pendapat. Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times pekan lalu, ia menjanjikan "pengurangan besar-besaran dalam belanja publik, sembari menghidupkan kembali perekonomian".
Pada tanggal 6 Oktober, ia memaparkan "anggaran tandingan" miliknya, yang menargetkan penghematan bersih sebesar €140 miliar pada tahun 2032 dibandingkan dengan tahun 2026, defisit di bawah 3% dari PDB pada tahun 2030, serta penerapan aturan anggaran secara konstitusional. Partainya mengusulkan pemangkasan belanja administrasi dan jaminan sosial, pengeluaran yang berkaitan dengan imigrasi, serta kontribusi Prancis kepada Uni Eropa.
(ahm)