Kim Jong-un, diktator Korea Utara, dilaporkan banyak media asing telah meninggal dunia. Namun, pemerintah Korea Utara masih bungkam. Foto/KCNA
PYONGYANG - Di tengah membuncahnya rumor pemimpin Korea Utara (Korut)
Kim Jong-un meninggal, Pyongyang mengancam akan mengerahkan lebih banyak senjata taktis di wilayah perbatasannya dengan Korea Selatan (Korsel). Ancaman ini disampaikan adik perempuan Kim Jong-un, Kim Yo-jong.
Kim Yo-jong mengatakan pada hari Senin bahwa "situasi gawat sedang terjadi" di sepanjang perbatasan selatan.
Ancaman Kim Yo-jong muncul ketika ketegangan dua Korea memanas, di mana kedua pihak saling uji coba senjata. Yang terbaru, Pyongyang menguji coba sistem torpedo berpemandu presisi "jenis baru" yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi dan melacak target.
"Saat ini, situasi di perbatasan selatan sangat tidak stabil," ujar Kim Yo-jong, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan media pemerintah;
Korean Central News Agency (
KCNA).
"Situasi gawat sedang terjadi di sepanjang perbatasan selatan akibat perilaku sembrono dari para bandit militer Korea Selatan," lanjut perempuan yang dikenal sebagai orang terkuat nomor dua di Korut tersebut.
Merujuk pada tindakan Korea Selatan yang melepaskan tembakan peringatan, siaran melalui pengeras suara propaganda, serta apa yang dia sebut sebagai "sandiwara ledakan ranjau", Kim Yo-jong menyatakan bahwa berbagai insiden tersebut telah "melampaui garis merah".
Korea Utara telah membantah tuduhan bahwa mereka berada di balik ledakan ranjau yang melukai tiga tentara Korea Selatan bulan lalu di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ)—wilayah penyangga yang dipenuhi ranjau dan telah memisahkan kedua Korea sejak gencatan senjata tahun 1953.
Investigasi gabungan antara Seoul dan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Command) menyimpulkan bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh ranjau Korea Utara yang dipasang di sisi perbatasan Korea Selatan.
"Pimpinan militer kami sedang mengkaji pengerahan lebih banyak sarana serangan taktis di sepanjang perbatasan selatan sebagai langkah preventif dan represif untuk menghadapi situasi darurat," ujar Kim Yo-jong, tanpa merinci detail mengenai serangan taktis tersebut.
Kim Yo-jong juga menambahkan bahwa Korea Utara sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan kembali siaran melalui pengeras suara yang ditujukan ke Korea Selatan, serta mempertimbangkan langkah-langkah lain yang dianggap perlu dan tepat.
Dia memperingatkan bahwa jika tindakan-tindakan tersebut terus berlanjut, "Seoul pasti akan menyesal dan menghadapi bahaya yang sangat mengerikan dan tak terkendali".
Pada tahun 2024, Korea Utara mengirim ribuan balon berisi sampah ke arah selatan, dengan menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan balasan atas balon-balon berisi propaganda anti-Korea Utara yang diterbangkan oleh para aktivis Korea Selatan. Belakangan, pihak Korea Selatan kembali menyalakan siaran pengeras suara di sepanjang perbatasan untuk pertama kalinya dalam enam tahun—yang mencakup lagu-lagu K-pop dan berita internasional—sementara pihak Utara mulai memancarkan suara-suara aneh di sepanjang perbatasan, yang membuat resah penduduk Korea Selatan.
Siaran melalui pengeras suara, sebuah taktik yang sudah ada sejak Perang Korea, sebelumnya pernah memicu Pyongyang untuk melontarkan ancaman serangan artileri terhadap unit-unit pengeras suara milik Seoul.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung telah berjanji untuk menjangkau Korea Utara—yang memiliki senjata nuklir—dan mengupayakan dialog tanpa prasyarat apa pun; sebuah langkah yang bertolak belakang dengan pendahulunya yang bersikap lebih keras.
Tahun lalu, Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyingkirkan pengeras suara dari sisi perbatasan mereka sebagai "langkah praktis yang ditujukan untuk membantu meredakan ketegangan dengan Korea Utara".
Terkait rumor Kim Jong-un meninggal dunia akibat pendarahan otak, pemerintah Korea Utara belum berkomentar.
(mas)