Rumor kematian Kim Jong-un diprediksi picu perang sipil. Foto/X/@BRICSinfo
PYONGYANG - Rumor mengenai kematian Kim Jong-un menyebar luas di media sosial, memicu spekulasi tentang potensi krisis suksesi di salah satu negara paling tertutup di dunia tersebut.
Namun, terlepas dari klaim-klaim yang kian dramatis—termasuk kabar mengenai perawatan medis darurat di China hingga pengerahan ribuan tentara—tidak ada bukti kredibel yang menunjukkan bahwa pemimpin Korea Utara tersebut telah meninggal dunia.
Spekulasi ini semakin menguat selama akhir pekan setelah Wanjun Xie, ketua Partai Demokrasi China, menyatakan melalui platform X bahwa Kim mengalami pendarahan otak hebat dan jatuh koma.
"Meskipun tim ahli medis dari Rumah Sakit Peking Union Medical College telah dikirim ke Korea Utara untuk membantu perawatannya," tulis Xie, dilansir London Loves Business. Dia mengeklaim bahwa Kim kemudian dipindahkan ke Beijing untuk mendapatkan penanganan medis darurat.
"Akan tetapi, karena parahnya kondisi beliau dan karena waktu emas untuk penanganan medis telah terlewati, Kim Jong-un akhirnya meninggal dunia," tambahnya, seraya menduga bahwa jenazah Kim telah dipulangkan secara diam-diam ke Korea Utara.
Mengapa Rumor Kematian Kim Jong-un Bisa Picu Perang Sipil di Korea Utara?
1. China Kirim 9.000 Tentara ke Pyongyang
Xie lebih lanjut mengeklaim bahwa China telah mengerahkan 9.000 tentara ke Pyongyang untuk membantu putri Kim, Kim Ju-ae, dalam menstabilkan rezim penerus, sementara Komando Teater Utara Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok disebut telah meningkatkan status kesiagaan. Tidak satu pun dari klaim tersebut yang telah diverifikasi oleh pihak independen.
Sebuah klaim lain mengaitkan rumor ini dengan pembelot Korea Utara, Ji Seong-ho, yang disebut-sebut telah diwawancarai oleh kantor berita Korea Selatan, Yonhap News. Namun, Daily Star melaporkan bahwa mereka tidak menemukan jejak wawancara tersebut.
2. Spekulasi Terus Berkembang
Waktu penyebaran rumor ini turut memicu spekulasi lebih lanjut. Menurut laporan media pemerintah dan Reuters, penampilan publik Kim baru-baru ini mencakup kunjungannya ke Museum Revolusi Pertahanan Nasional Korea Utara yang baru, yang memamerkan persenjataan rudal negara tersebut yang terus berkembang.
Meski demikian, ketiadaan bukti tetap menjadi faktor penentu. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi kredibel mengenai kematian Kim, dan rumor yang beredar di dunia maya tidak boleh dianggap sebagai informasi intelijen yang telah terverifikasi.
Di negara di mana informasi mengenai kepemimpinan dikendalikan dengan ketat, ketidakpastian dapat dengan cepat berkembang menjadi sebuah narasi tersendiri. Namun, untuk saat ini, klaim mengenai kematian Kim serta potensi krisis suksesi yang akan terjadi masih belum terverifikasi.
(ahm)