Rumor yang Membuncah: Kim Jong-un Meninggal, Adiknya Ambil Alih Kekuasaan, China Kirim 9.000 Tentara ke Korut

img-redaksi Muhaimin
Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:38 WIB
Rumor yang Membuncah: Kim Jong-un Meninggal, Adiknya Ambil Alih Kekuasaan, China Kirim 9.000 Tentara ke Korut
Oposisi China klaim pemimpin Korea Utara Kim Jong-un telah meninggal dunia dan adik perempuannya mengambil alih kekuasaan. Namun, pemerintah Korea Utara masih bungkam. Foto/KCNA
A
A
A
PYONGYANG - Rumor mengenai kematian diktator Korea Utara (Korut) Kim Jong-un telah membuncah. Wanjun Xie, ketua Partai Demokrasi China (partai oposisi yang dilarang), mengeklaim bahwa diktator Korut tersebut meninggal dunia akibat pendarahan otak.

Xie juga menduga bahwa adik perempuan Kim Jong-un, Kim Yo-jong, telah mengambil kendali atas rezim tersebut—bukan putri Kim Jong-un, Kim Ju-ae. Namun, klaim seputar kematian Kim Jong-un dan kemungkinan pergantian kepemimpinan ini belum terverifikasi, serta tidak ada konfirmasi resmi apa pun dari pemerintah Korut.

Dalam sebuah unggahan di media sosial, Xie juga menduga bahwa 9.000 tentara China telah dikirim ke Pyongyang di tengah kekhawatiran akan krisis suksesi. Dia pun mengeklaim bahwa Korea Utara telah meningkatkan postur militernya terhadap Korea Selatan.

Menurut unggahan Xie, Kim Jong-un mengalami pendarahan otak secara tiba-tiba hingga jatuh koma. Menurutnya, Korea Utara sempat meminta bantuan medis dari China karena fasilitas kesehatan di dalam negeri tidak mampu memberikan penanganan yang diperlukan.

Menurut penuturan Xie, tim ahli medis dari Peking Union Medical College Hospital dikirim ke Korea Utara. Dia menduga bahwa Kim Jong-un kemudian dibawa ke Beijing untuk menjalani operasi darurat, namun nyawanya tidak tertolong karena kondisinya sudah terlalu parah dan waktu kritis untuk penanganan medis telah terlewati.

Xie lebih lanjut mengeklaim bahwa jenazah Kim Jong-un telah dipulangkan ke Korea Utara dan pengumuman mengenai kematiannya sengaja ditunda. Dia berpendapat bahwa rumor tersebut berkembang luas karena pemimpin Korea Utara itu tidak muncul di depan publik untuk membantahnya.

Kim Jong-un terakhir kali terlihat di depan publik pada 11 Oktober, yakni saat dia meninjau museum pertahanan baru di sebuah lokasi yang tidak diungkapkan di Pyongyang. Berdasarkan foto-foto dari kunjungan tersebut, dia didampingi oleh putrinya yang berusia 13 tahun, Kim Ju-ae.

Benedict Rogers, seorang analis Korea Utara, mengatakan bahwa dia memperkirakan pemerintah akan merilis bukti mengenai kondisi kesehatan Kim Jong-un sebagai tanggapan atas rumor tersebut. Dalam perbincangan dengan saluran YouTube milik The Sun, "From The Newsroom", dia mencatat bahwa cerita serupa pernah muncul sebelumnya.

"Dia tidak tampak sebagai orang yang sehat," ujar Rogers, seraya menambahkan: "Pemimpin tersebut mengalami kelebihan berat badan yang ekstrem."

Rogers mengatakan bahwa di masa lalu, setiap kali seorang pemimpin tertinggi Korea Utara meninggal dunia, negara tersebut akan mengatur "luapan kesedihan publik yang terencana", di mana massa meratap di jalan-jalan dan para pembaca berita tampak sangat emosional.

Menurutnya, pemandangan seperti itu belum terlihat. Dia berpendapat, situasi tersebut mungkin akan terjadi, atau—jika Kim Jong-un masih hidup—pihak berwenang akan merilis bukti untuk menunjukkannya.

Rumor mengenai kesehatan Kim Jong-un bukanlah hal baru. Pada tahun 2020, spekulasi sempat merebak di media sosial yang mengklaim bahwa dia telah meninggal setelah menghilang dari pandangan publik selama beberapa bulan. Kala itu, seorang mantan diplomat bahkan mengeklaim bahwa Kim Jong-un sedang dalam kondisi koma dan bersiap menyerahkan kekuasaan kepada saudara perempuannya, Kim Yo-jong.

Para pakar menyatakan bahwa Kim Yo-jong (38)—yang telah memiliki pengaruh signifikan dalam pemerintahan negara bersenjata nuklir tersebut—akan mengambil alih kendali jika kakaknya meninggal dunia. Para analis meyakini dia akan menjabat sebagai pemimpin sementara sampai Kim Ju-ae cukup umur untuk memimpin.

Pada hari Senin, Kim Yo-jong menyatakan bahwa Pyongyang sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan lebih banyak senjata taktis di dekat perbatasan dengan Korea Selatan.

Pejabat intelijen Korea Selatan telah lama menyebut Kim Ju-ae sebagai pewaris takhta ayahnya, meskipun dia belum secara resmi ditunjuk sebagai penerus.

Kim Ju-ae pertama kali muncul di depan publik pada November 2022 dalam sebuah peluncuran rudal, dan tahun lalu dia sempat mendampingi ayahnya dalam kunjungan kenegaraan ke China. Jika kelak dia memegang kekuasaan, dia akan menjadi perempuan pertama yang memimpin Korea Utara sepanjang sejarah dinasti tersebut.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Antisipasi Sanksi Barat, China Tambah Cadangan Emas hingga 2.410 Ton
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:43 WIB
Dirumorkan Meninggal, Kim Jong-un Muncul di Pameran Korea Utara
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:22 WIB
2 Calon Diktator Perempuan Pertama yang Bisa Jadi Pengganti Kim Jong-un
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:20 WIB
Mengapa Rumor Kematian Kim Jong-un Bisa Picu Perang Sipil di Korea Utara?
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:37 WIB