Kim Jong-un Dilaporkan Meninggal setelah Pendarahan Otak, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

img-redaksi Muhaimin
Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:14 WIB
Kim Jong-un Dilaporkan Meninggal setelah Pendarahan Otak, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Kim Jong-un, diktator Korea Utara, dilaporkan banyak media asing telah meninggal dunia. Namun, pemerintah Korea Utara masih bungkam. Foto/KCNA
A
A
A
PYONGYANG - Sejumlah media asing melaporkan bahwa diktator Korea Utara (Korut), Kim Jong-un, telah meninggal dunia setelah mengalami pendarahan otak pada akhir pekan lalu. Pemerintah Korut belum bersedia mengonfirmasi, yang memaksa para analis sibuk memantau apa yang sebenarnya terjadi.

TMZ menjadi media pertama yang melaporkannya, dengan menulis: "Pemimpin Tertinggi/diktator Korea Utara, Kim Jong-un, dilaporkan telah meninggal dunia, atau sedang sekarat tanpa harapan untuk pulih—menurut berbagai media di China dan Jepang."

Media Inggris, Express, juga melaporkan berita tersebut dengan mengutip berbagai sumber dari Korea Utara dan Timur Jauh. The New York Post melaporkan hal serupa, dengan mengutip sebuah jaringan penyiaran Hong Kong dan sebuah majalah Jepang.

Klaim yang belum terverifikasi telah beredar di media sosial, menyebutkan bahwa Kim Jong-un mengalami koma setelah menderita pendarahan otak. Hal ini membuat para analis terus memantau Pyongyang untuk melihat apakah ada tanda-tanda perkabungan publik atau bukti bahwa dia masih hidup dalam kondisi sehat.

Klaim tersebut—yang tak kunjung dikonfirmasi pemerintah Korut—menyebutkan bahwa Kim Jong-un segera dibawa keluar dari Korea Utara untuk mendapatkan perawatan darurat, karena fasilitas medis di Pyongyang dinilai buruk. Banyak spekulasi yang beredar menyebutkan bahwa dia dibawa ke Peking Union Medical College di Beijing.

Kim Jong-un terakhir kali terlihat di depan publik pada 11 Oktober, yakni saat dia meninjau museum pertahanan baru di sebuah lokasi yang tidak diungkapkan di Pyongyang. Berdasarkan foto-foto dari kunjungan tersebut, dia didampingi oleh putrinya yang berusia 13 tahun, Kim Ju-ae.

Benedict Rogers, seorang analis Korea Utara, mengatakan bahwa dia memperkirakan pemerintah akan merilis bukti mengenai kondisi kesehatan Kim Jong-un sebagai tanggapan atas rumor tersebut. Dalam perbincangan dengan saluran YouTube milik The Sun, "From The Newsroom", dia mencatat bahwa cerita serupa pernah muncul sebelumnya.

"Dia tidak tampak sebagai orang yang sehat," ujar Rogers, seraya menambahkan: "Pemimpin tersebut mengalami kelebihan berat badan yang ekstrem."

Rogers mengatakan bahwa di masa lalu, setiap kali seorang pemimpin tertinggi Korea Utara meninggal dunia, negara tersebut akan mengatur "luapan kesedihan publik yang terencana", di mana massa meratap di jalan-jalan dan para pembaca berita tampak sangat emosional.

Menurutnya, pemandangan seperti itu belum terlihat. Dia berpendapat, situasi tersebut mungkin akan terjadi, atau—jika Kim Jong-un masih hidup—pihak berwenang akan merilis bukti untuk menunjukkannya.

Rumor mengenai kesehatan Kim Jong-un bukanlah hal baru. Pada tahun 2020, spekulasi sempat merebak di media sosial yang mengklaim bahwa dia telah meninggal setelah menghilang dari pandangan publik selama beberapa bulan. Kala itu, seorang mantan diplomat bahkan mengeklaim bahwa Kim Jong-un sedang dalam kondisi koma dan bersiap menyerahkan kekuasaan kepada saudara perempuannya, Kim Yo-jong.

Para pakar menyatakan bahwa Kim Yo-jong (38)—yang telah memiliki pengaruh signifikan dalam pemerintahan negara bersenjata nuklir tersebut—akan mengambil alih kendali jika kakaknya meninggal dunia. Para analis meyakini dia akan menjabat sebagai pemimpin sementara sampai Kim Ju-ae cukup umur untuk memimpin.

Pada hari Senin, Kim Yo-jong menyatakan bahwa Pyongyang sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan lebih banyak senjata taktis di dekat perbatasan dengan Korea Selatan.

Pejabat intelijen Korea Selatan telah lama menyebut Kim Ju-ae sebagai pewaris takhta ayahnya, meskipun dia belum secara resmi ditunjuk sebagai penerus.

Kim Ju-ae pertama kali muncul di depan publik pada November 2022 dalam sebuah peluncuran rudal, dan tahun lalu dia sempat mendampingi ayahnya dalam kunjungan kenegaraan ke China. Jika kelak dia memegang kekuasaan, dia akan menjadi perempuan pertama yang memimpin Korea Utara sepanjang sejarah dinasti tersebut.
(mas)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Mengapa Rumor Kematian Kim Jong-un Bisa Picu Perang Sipil di Korea Utara?
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:37 WIB
Kim Jong-un Dilaporkan Meninggal Dunia, Korea Utara Bungkam
International
Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:59 WIB