Citra Prancis hancur akibat kerusuhan dan penjarahan. Foto/X/@AbrarMahir_Evan
PARIS - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengungkapkan "kemarahan dan rasa malu" atas apa yang ia sebut sebagai upaya para pengunjuk rasa yang melakukan kekerasan untuk "meruntuhkan republik".
Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional pada hari Minggu, Macron berjanji bahwa para perusuh dan penjarah akan "menanggung akibat atas kejahatan mereka", menyusul peristiwa kekerasan perkotaan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir yang terjadi pada hari Sabtu.
Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa hampir 2.400 orang ditangkap pada hari Sabtu, sementara sekitar 1.000 polisi dan petugas keamanan (gendarme) mengalami luka-luka.
Macron menegaskan perlunya membedakan antara pengunjuk rasa yang memiliki "tuntutan yang sah" dengan "mereka yang merusak, menghancurkan, dan menjarah".
Presiden berjanji untuk membentuk "unit krisis" guna memberikan "bantuan mendesak… bagi mereka yang sedang mengalami masa-masa sulit". Ia menambahkan bahwa "pelajaran akan dipetik" setelah kekerasan destruktif yang meletus akhir pekan ini. "Kita harus tegas: kemarin, aparat penegak hukum dan pejabat kita—meskipun telah menunjukkan profesionalisme—menjadi sasaran kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya di beberapa kota," ujarnya.
"Saya telah meminta pemerintah untuk mengevaluasi kejadian ini agar dapat mengantisipasinya di masa depan, demi memastikan hal serupa tidak terulang kembali," kata Macron, seraya menambahkan: "Kita membutuhkan persatuan, ketenangan, dan rasa saling menghormati."
Melaporkan dari Paris, koresponden Al Jazeera, Natacha Butler, mengatakan bahwa pidato Macron "mungkin tidak menghadirkan kejutan apa pun".
"Apakah pidato ini cukup untuk meredam kemarahan sebagian pihak? Saya tidak yakin, karena mereka yang turun ke jalan menyatakan sudah muak mendengar pidato-pidato semacam itu dari presiden Prancis," ujar Butler.
Aksi protes ini dengan cepat menjadi komoditas politik bagi berbagai partai yang tengah berebut dukungan publik menjelang pemilihan presiden tahun depan.
Kandidat presiden dari kubu kiri, Jean-Luc Melenchon, menyatakan bahwa pemerintah Prancis "bertanggung jawab penuh" atas kerusakan yang terjadi selama aksi protes, serta dinilai "gagal dalam menjaga ketertiban umum".
Sementara itu, kandidat presiden dari kubu sayap kanan, Jordan Bardella, menyebut pidato Macron pada hari Minggu tersebut sebagai sesuatu yang "menyedihkan" dan "penakut". Ia menambahkan bahwa pemerintah tidak lagi memiliki apa pun untuk ditawarkan kepada rakyat Prancis, bahkan "tidak mampu melindungi mereka".
(ahm)