Wilayah Israel hancur akibat dihujani rudal-rudal Iran pada Juni 2025. Foto/BBC
TEHERAN - Korps Garda Revolusi Islam
Iran (IRGC) telah melontarkan ancaman pembalasan yang menghancurkan terhadap Israel jika infrastruktur energi Iran diserang. Mereka memperingatkan bahwa wilayah pendudukan akan diubah menjadi "tanah hangus" dan penduduknya akan dipindahkan ke Semenanjung Sinai, Mesir.
"Setiap agresi terhadap infrastruktur energi Iran—meskipun nantinya akan segera diperbaiki oleh para ilmuwan muda—akan mengubah wilayah pendudukan tersebut menjadi tanah hangus selamanya dan akan memindahkan pihak-pihak perampas di sana ke Semenanjung Sinai. Dunia akan melihat apa yang akan terjadi!" ujar juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, seperti dikutip dari
Gulf News, Senin (19/10/2026).
Ancaman jenderal IRGC itu tidak menyebutkan target spesifik Israel maupun memberikan kerangka waktu untuk tindakan balasan apa pun. Ancaman itu juga sebagai respons atas kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, bukan konfirmasi bahwa serangan semacam itu telah terjadi.
Ancaman tersebut muncul seiring dengan semakin rentannya fasilitas energi dan jaringan transportasi Teluk terhadap serangan selama konflik berlangsung.
Investigasi
Reuters yang diterbitkan pada 15 Oktober menemukan bahwa Iran beserta kelompok-kelompok sekutunya telah melancarkan setidaknya 135 serangan drone dan rudal terhadap 84 lokasi infrastruktur vital di negara-negara Teluk sejak perang dimulai 28 Februari.
Target-target tersebut mencakup fasilitas minyak di negara-negara Teluk, termasuk kompleks gas alam cair Ras Laffan di Qatar serta infrastruktur pipa di Arab Saudi.
Konflik ini juga telah mengganggu pasar energi global dan mempersulit pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, sebuah jalur perairan strategis yang biasanya dilalui oleh sebagian besar pasokan minyak dunia.
Laporan
Associated Press pada 13 Oktober menggambarkan meningkatnya ancaman terhadap pelayaran komersial di sekitar selat tersebut, termasuk serangan terhadap kapal-kapal serta upaya Iran untuk membatasi pergerakan maritim.
Sementara itu, Menteri Pertahanan (Menhan) Iran yang baru ditunjuk, Mehrdad Akhlaghi, pada hari Minggu mengancam akan menimbulkan "kerusakan luar biasa" terhadap Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah jika Washington melanjutkan kampanye militernya terhadap republik Islam.
"Masyarakat dapat merasa tenang karena mereka kemungkinan besar tidak akan berani menyerang kita," ujar Akhlaghi kepada para wartawan tak lama setelah mendapatkan mosi percaya dari parlemen.
"Jika mereka (AS) melakukannya, mereka sendiri dan kawasan ini akan mengalami kerusakan yang luar biasa," katanya lagi.
Para anggota parlemen Iran sebelumnya telah menyetujui penunjukan Akhlaghi sebagai Menhan yang baru, setelah pendahulunya; Aziz Nasirzadeh, tewas pada hari pertama agresi AS dan Israel.
"Para anggota Majelis Permusyawaratan Islam (parlemen) hari ini memberikan mosi percaya kepada Mehrdad Akhlaghi, calon menteri pertahanan dan logistik angkatan bersenjata," bunyi siaran stasiun televisi pemerintah Iran, hampir delapan bulan setelah serangan awal AS-Israel yang memicu konflik tersebut.
(mas)