Mehrdad Akhlaghi dikenal sebagai ahli rudal balistik. Foto/X/@Osint613
TEHERAN - Mehrdad Akhlaghi Ketabchi ditunjuk sebagai menteri pertahanan Iran di tengah situasi di mana perang dengan Amerika Serikat diperkirakan akan meningkat.
Pria berusia 68 tahun ini disetujui pada hari Minggu oleh parlemen—yang telah bersidang secara daring sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari—untuk memimpin Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata. Sebanyak 237 anggota parlemen memberikan suara mendukung penunjukan Akhlaghi, sementara 15 orang menolak.
Mantan Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh tewas bersama sejumlah tokoh senior lainnya, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, pada hari pertama perang.
Posisi tersebut sempat diisi sementara oleh Majid Ebn-e Reza, yang kini akan menjabat sebagai wakil Akhlaghi.
Siapa Mehrdad Akhlaghi? Menhan Baru Iran yang Dikenal Ahli Rudal Balistik
1. Fokus Bangun Infrastruktur Militer Iran
Akhlaghi akan bertanggung jawab untuk membangun kembali dan memperluas infrastruktur industri militer Iran, yang telah menjadi target utama serangan AS dan Israel. Rencana pertahanan menteri yang baru ini sebelumnya telah disetujui oleh otoritas militer senior, Presiden Masoud Pezeshkian, serta Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen.
"Republik Islam Iran tidak akan menjadi pihak yang memicu agresi terhadap negara mana pun, namun akan mempertahankan integritas wilayah negara dengan gigih—bahkan hingga titik darah penghabisan—terhadap agresi apa pun," ujar Pezeshkian, dilansir Al Jazeera.
Presiden menyatakan bahwa Akhlaghi memiliki pengalaman lebih dari 42 tahun di Kementerian Pertahanan dan berbagai organisasi terkait.
2. Ahli Rudal Balistik
Menurut media pemerintah, keahlian utamanya mencakup bidang rudal balistik, sistem propulsi bahan bakar padat, teknologi kedirgantaraan, dan produksi industri militer.
Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai kepala Shahid Bagheri Industrial Group, Aerospace Industries Organization, dan Defence Industries Organization. Akhlaghi beserta entitas-entitas tersebut saat ini dikenai sanksi oleh Amerika Serikat. Ia juga tercantum dalam daftar sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut Tasnim, sebuah surat kabar yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), ia telah terlibat dalam pengembangan berbagai jenis rudal dan proyek pengembangan senjata terkait selama beberapa dekade terakhir.
Akhlaghi dilaporkan berperan dalam pengembangan keluarga rudal balistik utama Iran, yakni Sejjil dan Zolfaghar, serta senjata berpemandu presisi, seperti rudal Almas dan bom berpemandu Yasin.
Ia juga disebut memiliki keahlian dalam bidang peluncur antariksa, roket penelitian, dan infrastruktur yang terkait dengan Pusat Antariksa Imam Khomeini di Semnan. Semua elemen ini telah menjadi komponen krusial dalam konflik Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.
"Senjata ofensif sedang terus ditingkatkan secara aktif," ujar juru bicara tersebut.
AS berulang kali mengeklaim telah menghancurkan sebagian besar kapasitas industri militer Iran, namun Teheran bersikeras bahwa mereka masih memiliki kemampuan ofensif dan defensif yang signifikan, yang berada di luar jangkauan bom-bom AS maupun Israel. Iran menegaskan bahwa persenjataan tersebut telah ditingkatkan berdasarkan pengalaman perang yang mereka peroleh.
Bulan ini, Akhlaghi menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa ia telah bertemu dengan para komandan militer senior—termasuk panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi—guna memahami lebih mendalam mengenai kebutuhan mereka, baik selama maupun setelah perang.
3. Mengintegrasikan Teknologi Baru
Menurut sejumlah laporan, prioritas Akhlaghi sebagai menteri pertahanan mencakup percepatan pengembangan industri militer, penguatan pertahanan udara, integrasi teknologi baru dengan melibatkan perusahaan pemerintah maupun swasta, peningkatan kesejahteraan angkatan bersenjata, serta pengembangan kerja sama militer internasional.
Dalam pernyataan pertamanya sebagai menteri pertahanan pada hari Minggu, Akhlaghi melontarkan sindiran terhadap pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang bulan ini sempat mengancam akan menggunakan "induk dari segala bom" (mother of all bombs) untuk menyasar infrastruktur nuklir dan energi Iran.
"Kami telah melakukan berbagai persiapan dan terus menjalankan tugas kami dengan tenang," ujarnya kepada para wartawan. "Presiden AS sebaiknya memikirkan cara untuk menarik pasukannya keluar dari kawasan kita dengan selamat. Jika ia menjatuhkan satu bom saja, ia harus siap melihat berapa banyak pasukannya yang nantinya harus dievakuasi dalam keadaan terbujur kaku."
(ahm)