Mesir akan membantu Arab Saudi memerangi Houthi. Foto/X/@BPINewsOrg
KAIRO - Parlemen Mesir bersidang pada hari Minggu setelah Presiden Abdel Fattah el-Sisi meminta diadakannya sesi darurat untuk menyetujui pemberian bantuan militer yang bersifat defensif kepada Arab Saudi, jika Riyadh meminta dukungan dalam perang melawan kelompok Houthi di Yaman.
Permintaan ini muncul di tengah berlanjutnya serangan oleh kelompok bersenjata yang didukung Iran tersebut terhadap Arab Saudi, termasuk ke ibu kota Riyadh, serta berbagai bandara dan fasilitas minyak milik negara itu.
5 Bantuan Militer Mesir kepada Arab Saudi dalam Perang Melawan Houthi
1. Menjaga 2 Tempat Suci Umat Islam
Dalam pidatonya pada hari Sabtu, el-Sisi menyatakan bahwa Mesir akan "melakukan langkah apa pun untuk melindungi" Arab Saudi, seraya menambahkan bahwa ia "berharap" parlemen akan memberinya wewenang untuk menindaklanjuti hal tersebut.
Pada hari Minggu, Mesir menyatakan akan memberikan "segala dukungan yang diperlukan dan dimungkinkan kepada Arab Saudi demi menjaga keamanan dan stabilitasnya". Dewan Pertahanan Nasional, yang dipimpin oleh Presiden el-Sisi, menyatakan bahwa mereka "mendukung penuh" Arab Saudi dalam mempertahankan sumber daya, integritas wilayah, serta situs-situs suci Islam di negara tersebut.
2. Mengamankan Jalur Terusan Suez
Arab Saudi telah lama menjadi mitra strategis dan ekonomi bagi Mesir. Dalam sebuah pernyataan bulan lalu, el-Sisi menegaskan bahwa keamanan Arab Saudi merupakan bagian "integral" dari keamanan Mesir.
Analis politik sekaligus pakar studi kawasan Teluk, Thomas Bonnie James, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ancaman keamanan dari kelompok Houthi terhadap kerajaan tersebut merupakan salah satu tekanan yang "bertemu" hingga memicu keputusan ini. Faktor lainnya adalah ekonomi.
"Tekanan Houthi di [selat] Bab al-Mandeb mengancam Terusan Suez. Menurut Menteri Luar Negeri Mesir, Terusan Suez telah kehilangan pendapatan sekitar USD11 miliar sejak serangan-serangan tersebut dimulai pada tahun 2023," ujarnya, merujuk pada serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel saat melintasi selat sempit tersebut—sebuah tindakan yang dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza.
James menambahkan bahwa keputusan ini juga penting bagi Kairo karena "jutaan warga Mesir tinggal dan bekerja di Arab Saudi, yang merupakan sumber remitansi terbesar bagi Mesir. Seorang warga Mesir bahkan tewas, dan beberapa lainnya terluka dalam serangan terhadap bandara di Riyadh."
Ia juga menyebutkan bahwa Mesir tidak ingin dipandang sebagai sekutu regional yang "hanya berpangku tangan sementara pihak lain membela kerajaan tersebut." Hal ini mengingat Turki dan Pakistan juga telah menyampaikan komitmen serupa setelah mengaktifkan pakta pertahanan Mekkah—sebuah kesepakatan yang ditandatangani pada bulan Agustus di tengah memburuknya situasi keamanan di Timur Tengah.
3. Mengamankan Riyadh yang Sudah Diserang 20 Kali
Permusuhan di Yaman terus meningkat. Dua serangan udara oleh koalisi pimpinan Arab Saudi menghantam Hodeidah di wilayah barat daya pada hari Minggu.
Pasukan Arab Saudi juga mencegat sejumlah pesawat nirawak di dekat Riyadh dan wilayah bagian timur. Bandara Internasional King Khalid di ibu kota telah diserang setidaknya 20 kali sejak pertempuran meletus antara pemerintah yang diakui secara internasional dan kelompok Houthi—yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, istilah dalam bahasa Arab yang berarti "Para Pendukung Tuhan".
Pasukan yang didukung Arab Saudi tengah bertempur melawan kelompok Houthi di beberapa front, termasuk Taiz dan Marib. Beberapa analis berpendapat bahwa kekuatan kelompok Houthi kini mulai melemah setelah pencapaian mereka pada musim panas lalu.
Namun, James mengatakan kepada Al Jazeera bahwa "mengalahkan mereka sepenuhnya bukanlah perkara mudah".
"Pasukan darat yang didukung oleh kekuatan udara memang bisa merebut kembali wilayah pesisir, tetapi menghentikan peluncuran rudal dari pegunungan jauh lebih sulit," ujarnya.
Apakah Mesir memiliki kerja sama keamanan dengan Arab Saudi?
Tidak sepenuhnya. Mesir dan Arab Saudi belum menandatangani pakta bilateral atau multilateral formal mengenai kerja sama pertahanan. Namun, Kairo memiliki sejarah kerja sama yang panjang dengan Riyadh.
Mesir merupakan anggota pendiri Koalisi Pertahanan Maritim Multinasional yang diluncurkan oleh Arab Saudi pada bulan Juli. Koalisi ini bertujuan untuk melindungi pelayaran di Laut Merah dan Bab al-Mandeb—wilayah yang terletak di sepanjang garis pantai Yaman. Kelompok Houthi sempat merebut kota-kota di dekat Bab al-Mandeb bulan lalu, namun pemerintah yang diakui secara internasional telah berhasil merebut kembali kendali atas sebagian wilayah tersebut dari kelompok yang didukung Iran itu.
Mesir juga berpartisipasi dalam latihan militer gabungan dengan Arab Saudi pada tahun 2024.
Kairo juga merupakan bagian dari koalisi tahun 2015, yang dibentuk setelah kelompok Houthi menguasai sebagian besar wilayah Yaman bagian utara dan barat, termasuk ibu kota Sanaa pada September 2024. Mesir mengerahkan kekuatan angkatan laut dan angkatan udara untuk membantu mengamankan koridor maritim di Laut Merah dari ancaman kelompok Houthi.
4. Memperkuat Koalisi Maritim
Namun, James, seorang pakar studi kawasan Teluk, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa apa yang diusulkan oleh el-Sisi berbeda dengan koalisi pertahanan maritim yang baru saja diikuti oleh Mesir.
"Ia mengharapkan otorisasi untuk mengerahkan pasukan Mesir guna membantu mempertahankan wilayah Arab Saudi itu sendiri," ujarnya. "Hal ini akan menggeser peran Mesir dari kerangka kerja maritim multilateral menjadi komitmen militer bilateral."
5. Mengirimkan Drone dan Jet Tempur untuk Menggempur Houthi
El-Sisi secara tegas menyatakan bahwa ia hanya mengusulkan langkah "pertahanan" dan bahwa ia "tidak bermaksud agar kita memerangi atau menyerang pihak mana pun". Analis pertahanan militer Alexandru Hudisteanu mengatakan bahwa penggunaan sistem penangkal pesawat nirawak dan dukungan anti-rudal kemungkinan besar akan dilakukan jika keputusan tersebut disahkan.
"Saat ini, kebutuhan yang paling mendesak adalah memastikan pertahanan Arab Saudi didukung dan diperkuat," ujarnya kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan, langkah tersebut juga merupakan upaya strategis untuk menciptakan efek gentar.
"Kita tahu Arab Saudi memiliki salah satu militer yang paling mumpuni dari segi kapasitas dan kapabilitas. Tantangannya terletak pada luas wilayah yang harus dijaga oleh Arab Saudi setiap saat," kata Hudisteanu.
James menjelaskan bahwa kontribusi apa pun dari Mesir akan difokuskan pada perlindungan wilayah Arab Saudi, yang mencakup "pertahanan udara dan rudal di sekitar infrastruktur vital, pencegatan pesawat nirawak, pengawalan angkatan laut, serta pertukaran intelijen".
James menyebutkan bahwa kecil kemungkinan Mesir akan mengerahkan pasukan ke garis depan di Yaman.
Pada tahun 1960-an, mantan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser mengerahkan puluhan ribu tentara dalam Perang Saudara Yaman, sementara Arab Saudi mendukung pihak lawan. Mesir mengalami banyak korban jiwa, dan hubungan antara Arab Saudi dan Mesir pun sempat merenggang.
"Mesir tentu tidak ingin mengirim pasukan ke dalam Yaman. Intervensi Nasser di sana pada tahun 1960-an memberikan pelajaran penting: lindungi kerajaan tersebut, jangan mencoba menguasai Yaman," ungkapnya kepada Al Jazeera.
(ahm)