Hacker Handala merilis dokumen rahasia Israel. Foto/X/@RyanRozbiani
TEHERAN - Kelompok peretas Handala mengumumkan operasi siber yang menargetkan unit militer Israel yang bertanggung jawab untuk memantau dan menganalisis intelijen media, dengan merilis lebih dari 500 dokumen rahasia serta puluhan ribu pesan internal.
Pada hari Minggu, Handala mengumumkan bahwa mereka telah menyusup ke dalam Unit Pemantauan dan Analisis Intelijen Media milik militer Israel dan merilis dokumen serta korespondensi internal unit tersebut.
Menurut kelompok itu, "operasi ini telah mengungkap kerentanan baru dalam sistem intelijen dan media Israel."
Melansir
Press TV, unit tersebut bertugas memantau dan menganalisis berbagai media serta terhubung dengan struktur intelijen militer Israel, termasuk Unit 8200 dan departemen penyensoran militer.
Handala mengarahkan pengguna ke situs web "DataSecret" dan "DropSite" untuk mengakses dokumen serta pesan internal yang dirilis dalam operasi tersebut.
Kelompok ini menyebut operasi tersebut sebagai "pukulan bagi infrastruktur keamanan informasi Israel" dan memperingatkan bahwa operasi siber lebih lanjut yang menargetkan aktivitas media dan perang kognitif Israel akan menyusul dalam waktu dekat.
Handala juga menyatakan akan mengungkapkan rincian lebih lanjut mengenai struktur organisasi unit tersebut serta sejauh mana akses mereka terhadap sistem intelijen militer Israel di masa mendatang.
Operasi terbaru ini menyusul pengungkapan oleh Handala pada bulan September lalu, yang menampilkan foto-foto swafoto milik sekitar 700 personel yang disebut sebagai aparat keamanan Israel.
Foto-foto tersebut dirilis setelah kelompok itu berhasil mengakses ponsel milik ratusan orang yang terkait dengan apa yang disebut sebagai struktur keamanan Israel, sehingga mengungkap materi pribadi yang tersimpan di perangkat mereka. "Operasi ini menunjukkan kemampuan kami untuk menyusup ke dalam sistem yang digunakan oleh personel keamanan Israel dan memperoleh informasi sensitif," ujar Handala.
Kelompok tersebut menyatakan telah menggunakan perangkat siber bernama "Na'em" dalam operasi itu, seraya menyebut perilisan gambar-gambar tersebut sebagai peringatan bagi apa yang mereka sebut sebagai aparatus keamanan Israel.
Handala juga menyinggung peringatan bersama dari Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda terkait perangkat tersebut, seraya menyebutnya sebagai tantangan bagi sistem keamanan siber Israel maupun negara-negara Barat.
Kelompok ini terus memublikasikan operasi siber yang menargetkan struktur intelijen Israel, sekaligus menantang klaim Israel mengenai kekuatan teknologi dan keamanan siber mereka.
(ahm)