7 Negara Eropa Ini Dilanda Demonstrasi dan Kerusuhan, Pemicunya Kenaikan Biaya Hidup

img-redaksi Andika Hendra Mustaqim
Senin, 19 Oktober 2026 - 01:10 WIB
7 Negara Eropa Ini Dilanda Demonstrasi dan Kerusuhan, Pemicunya Kenaikan Biaya Hidup
Negara-negara di Eropa dilanda kerusuhan. Foto/X/@disclosetv
A
A
A
PARIS - Ratusan ribu warga Eropa turun ke jalan dalam aksi demonstrasi terpisah yang tidak terkoordinasi untuk memprotes kenaikan biaya hidup di negara mereka masing-masing.

Gelombang kerusuhan pada hari Sabtu di Belgia, Prancis, Italia, dan Portugal telah memberikan tekanan kepada pemerintah di seluruh Uni Eropa.

7 Negara Eropa Ini Dilanda Demonstrasi dan Kerusuhan, Pemicunya Kenaikan Biaya Hidup

1. Prancis

Prancis mengalami salah satu hari protes paling kacau dalam beberapa dekade terakhir. Menurut Kementerian Dalam Negeri, lebih dari 550.000 orang ikut serta dalam demonstrasi, dengan polisi berhadapan langsung dengan para pengunjuk rasa di seluruh negeri.

Aksi unjuk rasa tersebut—yang menyusul protes mahasiswa selama berminggu-minggu—berujung pada bentrokan, penjarahan, dan kebakaran setelah kelompok-kelompok radikal menyerang bangunan publik, butik mewah, serta supermarket, sekaligus menyerang kendaraan dan petugas kepolisian.

Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, menyatakan bahwa 1.200 orang telah ditangkap dan 150 petugas kepolisian mengalami luka-luka. "Sebuah keajaiban jumlah korban tidak lebih banyak," ujarnya saat mengunjungi petugas yang dikerahkan di pusat kota Paris. Puluhan toko dijarah di Paris, Marseille, Nice, Nantes, Bordeaux, Limoges, Lille, Toulouse, dan Strasbourg, lapor kantor berita Prancis, AFP.

Seluruh ruas jalan di ibu kota "telah hancur lebur", ujar Wakil Wali Kota Paris, Emmanuel Gregoire.

Sebuah kebakaran yang dipicu oleh pengunjuk rasa bertopeng di Limoges menghanguskan sebagian besar balai kota yang telah berusia lebih dari 140 tahun, sementara balai kota di Marseille dan Lille dibobol dan dirusak. Di Lyon, para pengunjuk rasa membakar kantor pariwisata kota tersebut.

Presiden Emmanuel Macron menyatakan melalui platform X bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab akan "dituntut dan dihukum".

2. Brussels

Di ibu kota Belgia, Brussels—yang telah mengalami aksi protes selama berminggu-minggu oleh para mahasiswa terkait biaya pendaftaran universitas—polisi menembakkan gas air mata dan mengerahkan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa. Polisi menuduh para pengunjuk rasa melemparkan berbagai benda ke arah mereka dan melakukan aksi pembakaran.

Di Liege, sebuah kota yang lebih kecil di sebelah timur Brussels, polisi juga mengerahkan meriam air untuk membubarkan demonstrasi. Pihak kepolisian tidak menyebutkan berapa jumlah orang yang hadir dalam aksi tersebut.

3. Portugal

Sementara itu, di ibu kota Portugal, Lisbon, diperkirakan puluhan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan untuk memprotes krisis biaya hidup, upah rendah, serta sulitnya mendapatkan akses perumahan di kota-kota besar. Harga rumah di Portugal telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2017, sementara harga sewa untuk perjanjian baru juga mengalami kenaikan dengan besaran yang hampir serupa.

Menteri Urusan Parlemen Portugal, Carlos Abreu Amorim, menyatakan pada hari Jumat bahwa "pemerintah tidak akan tunduk pada tuntutan yang disuarakan di jalanan". Para pengunjuk rasa menilai para pemimpin mereka "tidak peka" terhadap permasalahan yang ada.

4. Italia

Di Milan, para perusuh terlibat bentrokan dengan polisi, menjarah toko-toko, dan membakar properti di pusat kota, hingga mengosongkan Piazza del Duomo serta sebuah pusat perbelanjaan mewah yang biasanya dipadati pengunjung.

Aksi unjuk rasa menentang perang dan kenaikan biaya hidup awalnya berlangsung damai, namun sejumlah pengunjuk rasa bertopeng melemparkan batu, bongkahan batu trotoar, dan benda-benda lainnya ke arah polisi antihuru-hara, serta membakar barikade yang dibuat dari meja-meja bar.

Polisi menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa.

Kantor berita Italia, LaPresse, melaporkan bahwa setidaknya dua petugas polisi terluka, dan sekitar 50 demonstran—banyak di antaranya masih di bawah umur—ditahan.

Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengecam tindak kekerasan tersebut.

"Berunjuk rasa adalah sebuah hak. Membakar kota kita bukanlah hak," tulisnya di platform X, seraya menyalahkan "para perusuh yang memanfaatkan unjuk rasa untuk menebar kekacauan".

Wali Kota Milan yang berhaluan kiri-tengah, Giuseppe Sala, mengatakan bahwa "alasan-alasan di balik protes tersebut dapat dipahami. Kekerasan terhadap aparat penegak hukum serta kerusakan parah di kota itu tidak dapat dibenarkan. Di Bologna, polisi juga melaporkan bahwa selain aksi unjuk rasa damai, para pengunjuk rasa melemparkan batu dan terlibat bentrokan dengan petugas.

5-7. Yunani, Jerman, Austria

Meskipun aksi protes di negara-negara lain tidak mencapai skala yang sama seperti di Prancis, hal ini bisa menjadi tanda bahwa ketidakpuasan mulai meluas, ujar Alberto Alemanno, profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris Business School, kepada Al Jazeera.

"Prancis adalah episentrum dari gerakan ini… dan kini terdapat tanda-tanda bahwa gerakan ini mulai menyebar ke luar Prancis," kata Alemanno.

Ia mengatakan bahwa aksi protes pada hari Sabtu mungkin bukan yang terakhir di banyak negara tersebut, dan titik-titik ketegangan baru bisa saja muncul.

Di Yunani, Jerman, dan Austria, "tahap awal" dari sebuah gerakan mulai terlihat, dengan mobilisasi yang diperkirakan akan terjadi "dalam minggu mendatang," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa ini bukanlah satu gerakan tunggal, melainkan beberapa aksi protes yang terjadi secara bersamaan dengan sejumlah "keluhan yang sama": kurangnya pendanaan untuk pendidikan, meningkatnya biaya hidup, serta—bagi para mahasiswa—prospek masa depan yang tidak pasti setelah lulus.

Alemanno menuturkan bahwa gejolak ini terjadi pada saat yang krusial bagi Eropa, di mana benua tersebut bersiap menghadapi "siklus besar pemilihan umum nasional yang belum pernah terjadi sebelumnya" dalam 12 bulan ke depan, dengan pemungutan suara yang dijadwalkan di Spanyol, Prancis, Italia, dan Polandia.

"Mau tidak mau, semua aksi protes dan mobilisasi ini akan menjadi pusat perbincangan politik," kata Alemanno.
(ahm)
See original source
link link link link
Berita Terkait
Abaikan Ancaman Trump, Ukraina Lancarkan Serangan Drone Terbesar ke Rusia
International
Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:04 WIB
Demo Anarkis Prancis: Toko-toko Dijarah, Balai Kota Limoges Hancur
International
Minggu, 18 Oktober 2026 - 09:53 WIB
Prancis Membara! Demonstran Bakar Gedung, Desak Presiden Macron Lengser
International
Minggu, 18 Oktober 2026 - 05:31 WIB